Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Literasi Digital: Kritis Bermedia Sosial

3 min read

Friedrich Nietzsche mengatakan “Convictions are more dangerous enemies of truth than lies”. Maknanya, keyakinan yang buta bisa lebih berbahaya daripada sebuah kebohongan. Hal ini sejajar dengan fenomena saat ini. Dimana generasi digital tidak kritis dalam menerima informasi dari internet. Terutama di media sosial. Rendahnya kemampuan analisis netizen terhadap konten yang diserap di jejaring sosial seperti facebook, twitter, instagram dan sebagainya menyebabkan tingkat penyebaran hoax makin melebar.  Tentunya hal ini rentan melahirkan konflik antar individu atau pun kelompok.

Tahun lalu salah satu teman mahasiswa mengirimi saya pesan berupa berita melalui aplikasi pesan instan, WhatsApp. Berita tersebut berisi broadcast bertopik kiamat yang akan segera melanda alam semesta. Statement menyalahkan pemimpin negara dipakai sebagai alasan penyebab terjadinya kiamat. Ujaran kebencian dengan dalih agama terlihat jelas dalam setiap kalimat yang ia bagikan.

Ketika saya bertanya darimana sumber berita tersebut didapat, teman saya malah menghimbau saya untuk tidak menghiraukan darimana pesan berasal. Ia berkta “jangan permasalahkan itu saudara, yang penting siapkan saja bekal untuk menghadapi hari akhir”. Spontan saya memberi saran agar menelisik kebenaran informasi yang diterima sebelum membagikan ke khayalak.

Bukannya mendapatkan senyuman dan terima kasih, malah peroleh tertawaan dan anggapan aneh. Sejak debat dunia maya itu, hubungan saya dengan sang kawan mulai renggang. Saling sungkan ketika bertatap muka atau berbalas komentar. Kejadian ini merupakan fakta bahwa seseorang cenderung akan langsung percaya pada informasi yang sejalan dengan pikirannya. 

Laras Sekarasih, menyatakan bahwa orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Selain itu, Zamroni juga menjelaskan bahwa sebagai konsumen, masyarakat harus cerdas dan mampu memilih informasi apa yang dibutuhkan.

Menurut mereka, penting adanya sikap kritis ketika menerima berbagai jenis informasi di dunia maya. Menelusuri sebelum menghakimi adalah cara mengklarifikasi kebenaran atau sekedar kebohongan. Tidak baca informasi sepotong-sepotong atau sekedar baca judul. Walaupun UU ITE menyajikan sanksi berat, namun penebaran hoax tidak pernah padam. Sebab menyimpulkan tanpa menelusuri tetap saja menjadi trend masa kini.

Oleh karena itu, netizen perlu melek teknologi melalui literasi digital. Literasi digital dapat diartikan sebagai kemampuan mencari, menelaah, memahami, mempelajari dan memanfaatkan berbagai bentuk media berbasis teknologi. Esensinya, digital literacy (literasi digital) tidak sekedar mengedukasi bagaimana penggunaan media baru, namun berfungsi mengasah tingkat analisis, pemahaman dan keterampilan membandingkan informasi dari berbagai arah.

Peka terhadap hoax di media online adalah tujuan utama literasi digital. Di samping itu, literasi digital berperan sebagai gerakan melek media karena gencarnya konten negatif dan hoax sudah kedung menjalar di setiap titik kehidupan manusia zaman now. Pemerintah dan segenap elemen masyarakat perlu tanggap darurat hoax. Aksi ini demi mengantisipasi merembetnya virus berita sampah datang secara masif ke seluruh masyarakat Indonesia.

Selanjutnya pemerintah dan semua lapisan masyarakat cukup memberikan kemampuan dasar memahami ciri-ciri pajangan informasi di media sosial seperti tanda baca, simbol dan jenis penggunaan kata. Setelah mengidentifikasi melalui ciri-ciri tersebut kemudian tinggal membandingkan informasi yang diperoleh sebelumnya dengan sumber lain yang lebih akurat dan terpercaya. Jika berimbang, maka kemungkinan besar informasi tersebut benar. Tapi jika tidak berimbang, bisa jadi informasi tersebut telah dibuat-buat sedemikian rupa menjadi berita bohong.

Dengan pengetahuan plus pemahaman dasar manajemen diri dalam menggunakan media sosial, maka generasi digital mempunyai pedang untuk menebas berita-berita unfaedah berpotensi hoax. Pola analisis tinggi sebelum menekan tombol share, sertacakap berpikir kritis dalam menyikapi segala bentuk interaksi dan informasi, sangat berguna meminimalisir konflik jangka panjang. Tentunya jugaberpartisipasi dalam menciptakan perdamaian dan penggunaan internet sehat.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.