Tue. Oct 15th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Melihat Jepang Sebagai Role Model Pendidikan Karakter

2 min read

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter Sebagai Fondasi dan Ruh Utama Pendidikan


-Muhadjir Effendy-

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau berkomitmen kuat dalam membangun sektor pendidikan. Sistem pendidikan yang baik secara otomatis akan menghasilkan tunas-tunas terbaik bangsa di masa depan.

Intelligence plus character-that is the goal of true education.” Kata Martin Luther King seorang aktivis social Amerika. Sejarah telah membuktikan negara-negara yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan terbukti maju dan unggul di kancah global. Salah satunya negara Jepang.

Dengan hati dan fikiran terbuka kita harus mengakui Indonesia perlu belajar dari Jepang. Sistem pendidikan yang dimiliki Jepang hari ini membuatnya unggul sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di Asia bahkan dunia.

The Social Progress Imperative, merilis hasil penelitian tentang tingkat pendidikan dasar di seluruh dunia yang tersaji melalui Index Kemajuan Sosial. Menempatkan Jepang sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik kedua di dunia dari 20 negara.

Lantas bagaimana dengan kita Indonesia? Mengapa kita tertinggal? Padahal jika diamati Indonesia dan Jepang sama-sama memiliki landasan filosofis dan kebudayaan yang mengakar kuat. Sama-sama memiliki penghargaan dan penghormatan terhadap yang lebih tua. Di jepang budaya itu dikenal dengan “Keiro-no-Hi”. Kemudian ditetapkan sebagai hari libur nasional Negara sakura ini.

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dikejutkan dengan berita viral seorang murid di Kendal menantang gurunya di kelas karena di tegur merokok. Di sebuah tayangan video anak murid tersebut terlihat sedang mengangkat leher baju gurunya dan murid-murid lain tertawa melihat kejadian tersebut.

Dimanakah penghargaan kepada seorang guru? Guru yang harusnya kita hormati karena mau mendedikasikan sebagian hidupnya untuk menyalakan cahaya pada dunia pendidikan. Hal ini tentu menjadi tamparan memilukan terhadap wajah pendidikan kita. Tak penting memperdebatkan salah dan benar. Kejadian tersebut, menegaskan pendidikan kita mengalami krisis moral dan sudah tentu menjadi tugas bersama menemukan solusi. Tidak hanya para pendidik di institusi pendidikan.

Hari ini negara kita terjebak dalam silaunya kecerdasan yang diukur dari sederet angka. Grade menjadi tolak ukur utama. Lebih sibuk mengejar angka-angka tinggi untuk memperoleh pengakuan. Sebagai tolak ukur seseorang layak dinobatkan menjadi golongan pintar atau bodoh.

Jargon “otak dulu baru watak”, seakan menjadi satu-satunya tujuan daripada fokus terhadap penanaman nilai-nilai yang baik secara universal seperti kejujuran, tanggung jawab, menghormati perbedaan, disiplin, kerja keras, hingga toleransi dalam keberagaman.

Inilah perbedaan yang kian mencolok antara kita dengan Jepang. Bangsa sakura ini amat menjujung nilai-nilai moral dan mengaplikasikannya dalam setiap pelajaran yang diberikan di sekolah. Mereka tidak banyak menghafal apalagi diberikan tes mengenai pelajaran moral. Mereka aktif diajak berdiskusi mengenai pentingnya moral yang diajarkan.

Mereka sadar tidak cukup hanya nilai yang dihasilkan di atas kertas melainkan juga bagaimana terpatri dan terinternalisasi dalam kehidupan sehari-harinya.

Jika kita mengambil praktik baik dari saudara se Asia ini, maka dengan rasa optimis Indonesia akan melaju mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Supported by PMD & BNPT.