Sat. Aug 24th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Membangun Karakter Milenial melalui Literasi Digital

2 min read

Milenial disebut sebagai generasi Y atau digital native karena mereka lahir dan besar dengan sistem internet yang merupakan revolusi industri keempat atau revolusi terbaru di dunia. Bagi milenial, internet adalah kebutuhan pokok. Beberapa referensi menyebutkan bahwa milenial adalah mereka yang dilahirkan paMembangun Karakter Milenial melalui Literasi Digitalda tahun 1980-1995. Ada juga yang bependapat bahwa milenial lahir di antara tahun 1980-2000.

Kedekatannya dengan teknologi membuat milenial dikenal juga sebagai pribadi yang rumit. Hal lazim yang digambarkan tentang generasi ini adalah kenarsisan dan ujaran kebencian. Mereka disebut sebagai selfi-lovers, haters, penyebar hoaks, malas dan kurang memiliki integritas terhadap perusahaan tempat mereka bekerja karena travel lebih penting.

Selain itu, era digital sering membuat milenial terjebak dalam dua kepribadian yang hidup di dunia maya dan dunia nyata. Pandangan negatif terhadap karakter milenial dan kerumitan cara pandang generasi ini menjadikannya sebagai objek penelitian yang paling digemari di antara generasi lainnya.

Kekuatan karakter seorang milenial sangat ditentukan oleh literasi digital.  Bawden (2001) menjelaskan bahwa digital literasi meliputi  tujuh aspek yaitu (1) Kemampuan membangun informasi berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya (2) Kemampuan berpikir kritis dalam memahami suatu informasi dengan megawasi sumber, validitas dan kelengkapan terkait dengan informasi tersebut (3) Dinamis, kemampuan untuk memahami informasi yang tidak berurutan (4) Kesadaran akan pentingnya media (5) Penggunaan filter dalam menyaring informasi (6) Kesadaran terhadap jaringan yang bisa dijadikan acuan (7) Nyaman dan memiliki akses untuk berkomunikasi dan mempublikasikan informasi.

Untuk membangun milenial yang berkarater, digital literasi harus masuk dalam kurikum sekolah. Salah satu contoh kurikulum terbaru dunia seperti International Primary Curricula (IPC) dan International Middle Year Cirricula (IMYC) mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar mengajar. Kurikulum ini menggunakan pendekatan humanis, sains dan seni tentunya dengan mengintegrasikan teknologi di dalamnya. Kedua kurikulum ini menekankan project based learning dengan menggunakan internet, e-library dan alam sebagai sumber research di kelas.

Penggunaan software tertentu dalam merencanakan dan medesain suatu projek yang diberikan di kelas menjadi latihan aktual dalam mengajarkan digital literasi. Integrasi ini akan melatih milenial dalam menggunakan teknologi ataupun membaca, memahami, memilah dan memilih sumber informasi yang akan digunakan sebagai acuan dan tentunya akan membentuk pandangan mandiri seorang milenial.

Selain itu digital literasi harus dimulai di lingkungan keluarga. Dalam mengeksplorasi penggunaan gadget sebaiknya anak didampingi oleh orang tua. Dalam hal ini, orang tua dituntut untuk melek teknologi sehingga bisa turut berkontribusi dalam menguatkan literasi digital.

Literasi digital yang tinggi akan memacu kesadaran dan keterlibatan milenial dalam berpolitik dan bernegara. Kedua hal ini akan menumbuhkan semangat nasionalisme untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara yang berdaulat dan mampu menempatkan diri dalam politik internasional.

Lebih luas lagi, literasi digital turut membentuk kesadaran milenial dalam melihat diri mereka sebagai global citizen yang mendidik mereka untuk memahami sudut pandang lokal, nasional dan global dalam berpikir, contohnya kesadaran tentang kesehatan, lingkungan, masalah sosial dan ekonomi.

Sebagai generasi pengguna social media terbesar di dunia, digital literasi akan mampu mendorong milenial untuk berpikir secara auntentik, di mana social media berperan sebagai jembatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan nyata.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Supported by PMD & BNPT.