Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Sarana Tebarkan Nilai Luhur Toleransi

3 min read

Indonesia merupakan Negara yang mayoritas masyarakatnya beragama islam. Akan tetapi, banyak juga masyarakat yang menganut agama lain seperti Kristen, Hindu, Budha, dan konghucu. Selain itu indonesia memiliki budaya yang beragam, yang masihsih dipertahankan sampai sekarang.
Pulau Lombok,salah satu pulai di Indonesianal yang dikenal dengan sebutan pulau seribu masjid, konon katanya pulau Lombok adalah jantung dari pada dunia. Sama seperti daerah lain di Indonesia, Lombok juga menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dan toleransi. Pemikir Indonesia keyakinan yang berbeda menjadi pemersatu masyarakat di pulau Lombok.
Salah satu contoh, baru-baru ini ada berita yang viral di media social tentang seorang tokoh agama Buddha (Biksu) yang membantu seorang tokoh agama islam(Ustadz) berwudhu. Tentunya hal ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Nilai luhur seperti ini merupakan aset berharga bagi bangsa.

Indonesia merupakan Negara yang mayoritas masyarakatnya beragama islam. Akan tetapi, banyak juga masyarakat yang menganut agama lain seperti Kristen, Hindu, Budha, dan konghucu. Selain itu indonesia memiliki budaya yang beragam, yang masihsih dipertahankan sampai sekarang.
Pulau Lombok,salah satu pulai di Indonesianal yang dikenal dengan sebutan pulau seribu masjid, konon katanya pulau Lombok adalah jantung dari pada dunia. Sama seperti daerah lain di Indonesia, Lombok juga menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dan toleransi. Pemikir Indonesia keyakinan yang berbeda menjadi pemersatu masyarakat di pulau Lombok.
Salah satu contoh, baru-baru ini ada berita yang viral di media social tentang seorang tokoh agama Buddha (Biksu) yang membantu seorang tokoh agama islam(Ustadz) berwudhu. Tentunya hal ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Nilai luhur seperti ini merupakan aset berharga bagi bangsa.

Kendati demikian, akhir-akhir ini muncul narasi yang hendak mengancam aset berharga kita ini (nilai toleransi). Ada beberapa pihak yang mencoba merongrong negeri ini dengan narasi intoleransi, yang diindikasikan disebarkan lewat rumah ibadah. Hal ini menjadi perbincangan hangat beberapa waktu itu. Meskipun hal ini menjadi kontroversi bagi beberapa kalangan, karena menimbulkan pro dan kontra.

Namun jika hal itu benar adanya, tentu bukan hal yang patut untuk menyebarkan narasi intoleran dalam ruang ibadah, mengingat rumah ibadah merupakan tempat yang sakral, bersih, dan tempat setiap umat beragama berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam agama islam rumah ibadah disebut juga sebagai masjid, yang mana masjid adalah tempat berkumpulnya muslimin dan muslimat untuk menunaikan kewajiban, membagikan keluh dan peluh pada Allah SWT.

Karena itulah rumah ibadah bukan tempat untuk menyebarkan naras-narasi kebencian, fitnah, dan mengumbar keburukan individu maupun kelompok lainnya. Masalah-masalah global saat ini sudah cukup membuat kita panas, bukan hanya fisik, tapi juga nurani. Ditambah lagi dengan datangnya tahun ini, 2019, yang katanya adalah tahun politik. Hoax, misinformasi, disinformasi sedang meraja lela. Sasaran yang paling utama adalah remaja, bagaimana tidak? Pemuda ada pengguna terbesar media sosial yang rentan terpapar hoax. Masalah atau isu global yang rentan menerka kita saat ini adalah masalah-masalah social, bencana sosial, dan pemahaman radikal yang tidak sedikit orang memilikinya. Sehingga, diperlukan beberapa sikap untuk terhindar dari isu global yang bisa terjadi kapan saja, baik di dalam maupun di luar rumah ibadah.

Pertama, inklusifisme. Inklusifisme adalah antonim dari kata eksklusifisme. Jika yang berarti suatu paham yang menganggap bahwa hanyalah pemahaman kelompoknya saja yang benar sedangkan pemahaman yang lain dianggap salah. Maka Inklusifisme secara istilah berarti menempatkan dirinya ke dalam cara pandang orang lain/ kelompok lain dalam melihat dunia. Hal ini menimbulkan sikap positif dalam memandang memandang perbedaan. Perbedaan merupakan sesuatu yang pasti terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga pemahaman terhadap pihak lain tidak hanya terbatas pada keyakinan yang ada pada masing-masing kelompok, melainkan dapat memahami pihak lain dari perspektif yang berbeda.

Kedua, pluralisme. Pluralism dalam tatanan sosial lebih dari sekedar mengakui keragaman dan perbedaan, melainkan juga merangkai keragaman itu untuk tujuan kebersamaan. Artinya hal ini adalah bagaimana cara kita tetap mempertahankan toleransi, menghargai sesame, dan saling bergotong royong membangun kehidupan yang lebih baik untuk bangsa. Rumah ibadah adalah salah satu contoh dari keragaman budaya yang kita miliki yang harus kita amankan dari masuknya paham-paham radikal yang sewaktu-waktu siap untuk berperangdengan pemahaman kita.

Ketiga, Multikulturalisme. Multikulturalisme adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia. Hal ini bisamenjadi tameng kita dalammenghadpi masalah global yang menimpa kita.pemahaman tentang dan untuk saling menghargai menjadi alat paling tajam untuk menepis hoax-hoax yang berkeliaran.



Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.