Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Pilih Mana Mainstream Media atau Hoaks?

2 min read

Perkembangan social media yang pesat telah memberi ruang bagi siapa saja secara langsung untuk bisa berbagi dan membagi informasi, berkomentar atau bahkan menjadi narasumber informasi tersebut secara langsung dan tidak langsung.  Dengan kemajuan ini, pengguna juga bisa meliput suatu kejadian secara live tanpa harus melewati ruang redaksi, tanpa harus berpikir panjang, apakah kejadian tersebut pantas diperlihatkan ke khalayak, apakah kejadian tersebut merupakan rangkaian dari suatu peristiwa sebelumnya atau tanpa mengetahui dengan jelas mengapa hal tersebut terjadi.

Keberpihakan mainstream media terhadap kelompok tertentu memang sangat perlu ditanggapi secara kritis, namun kita juga harus lebih kritis lagi terhadap berita mentah dan hoaks yang dengan mudah mengisi ruang social media. Hoaks sering menjadi alat untuk menggiring opini masyarakat pada perspektif tertentu.

Biasanya ujaran kebencian dan hoaks berawal dari akun-akun palsu yang menjadikannya sebagai alat perang dingin untuk melawan kelompok tertentu. Kemudian tidak sampai di situ, hoaks dibagi kembali secara massif oleh penggunasosial media yang tidak mengerti tentang literasi media. Terlebih lagi literasi Indonesia masih jauh tertinggal apalagi untuk beradaptasi secara cepat guna memahami digital literasi.

Oleh karena itu, dengan mudah, hoaks diduplikasi seperti wabah, menyerang dan terbang ke seluruh ruang maya. Hasilnya adu domba yang panas di antara para pengguna social media menjadi kebiasaan buruk. Kecurigaan, ujaran kebencian dan perpecahan mejadi ancaman persatuan nusantara.

MASTEL atau Masyarakat Telekomunikasi Indonesia menyebut hoaks sebagai wabah nasional yang didasarkan atas survey yang dilakukan pada tahun 2017. Survey online yang dilakukan selama 48 jam ini melibatkan 1.116 responden yang berumur 15 tahun ke atas dan didominasi oleh pengguna yang berumur 25-40 tahun. Survey ini menggali beberapa topik utama yaitu pemahaman terhadap hoaks, perilaku masyarakat menyikapi hoaks, bentuk dan saluran hoaks, dampak hoaks terhadap kehidupan berbangsa dan penanggulakan hoaks.

Survey ini menujukkan bahwa 44,3% responden menerima hoaks setiap hari, 17,2% menerima lebih dari satu kali sehari dan penyebaran berita hoaks dilakukan 92,40% melalui social media. Hoaks-hoaks ini tentu tidak mudah dibersihkan secara menyeluruh.

Hasil survey ini juga melaporkan untuk mengetahui suatu berita adalah hoaks atau tidak masih bergantung pada koreksi di sosial media dan media masa. Dari seluruh responden, 31,90% responden mengetahui berita yang mereka baca atau bagi melalui koreksi di media sosial. Jenis hoaks yang paling sering diterima dalah tulisan (62,10%), gambar (37,50%) dan video (0.40%). Sementara itu tiga top utama jenis hoaks yang paling sering ditemukan di dunia maya adalah tentang sosial politik, sara dan kesehatan.

Oleh karena itu, memperlambat atau mengurangi penyebaran hoaks dengan efektif harus dilakukan melalui dua arah baik secara bottom-up atau pun top-down. Strateginya; dengan mengedukasi masyarakat tentang literasi digital, mengintegrasikan teknologi dalam kurikulum, membawa penyebar hoaks ke jalur hukum, mengoreksi secara cepat di social media, dan memblokir atau melakukan flagging. So, say no to Hoax.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.