Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Sambut Pilpres Damai, Bersama Melawan Hoaks

4 min read

Pesta demokrasi di Indonesia tinggal sepuluh hari lagi. Pemilihan presiden dan wakil presiden maupun pemilihan legislatif akan terjadi 17 April mendatang. Pilpres 2019 diikuti dua pasang anak bangsa. Calon dengan nomor 01 ialah H Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin. Satu lagi dari nomor urut 02 H Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kedua pasangan calon bukan orang sembarangan. Mereka memanggul harapan 270 juta lebih penduduk Indonesia.

Sayangnya, masa-masa jelang pencoblosan diwarnai dengan hoaks yang merajalela. Polarisasi begitu nyata terjadi pada pemilihan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Tak seperti pemilihan calon legislatif (caleg) yang memiliki ratusan calon dari tiap provinsi. Pembelahan cukup terasa untuk pemilihan capres dan cawapres. Kedua kubu membentuk irisan dengan klaim sama-sama benar. Paling baik dan sempurna. Saling mengunggulkan capres dan cawapres masing-masing. Dengan menghinakan pasangan capres dan cawapres lain.

Pembelahan paling mudah dapat dilihat di media sosial. Di Facebook, Instagram, ataupun Twitter. Bukan disana saja, melalui pesan instan baik WhatsApp (WA) atau Blackberry Mesangger (BBM), hari-hari terakhir banyak share tentang isu-isu yang tak jelas sumbernya. Parahnya, gorengan  fitnah seolah dianggap nyata oleh beberapa orang. Berikutnya mereka ikut menyebarkan, tanpa ada identifikasi informasi. Pertarungan ide dan gagasan dari kedua calon pemimpin negeri ini kalah masif oleh hoaks. Cerita bohong berseliweran di medsos. Broadcast via WA dan BBM justru berisi hinaan, cacian, dan menjelekkan calon pemimpin Indonesia. 

Melansir hasil dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Tercatat selama tujuh bulan terakhir atau dari rentang Agustus 2018 hingga Februari 2019, jumlah penyebaran hoaks atau berita bohong meningkat pesat. Tercatat, ada 353 hoaks yang beredar di tengah-tengah masyarakat selama kurun waktu tersebut. Kemungkinan periode Maret-April jumlah hoaks yang beredar kian tinggi.

Dari catatan yang dihimpun penulis, beberapa hoaks yang membuat heboh dari periode Agustus 2018 adalah soal tujuh juta surat suara tercoblos, kasus operasi plastik dengan framing penganiayaan kepada Ratna Sarumpaet, KPU dan Bawaslu tak netral, keterlibatan aparat dalam pilpres, pelegalan perzinahan dan LGBT di Indonesia, terbaru soal hoaks terulangnya peristiwa 1998 bila salah satu capres dan cawapres terpilih.

Hoaks yang beredar ini menjadi virus mematikan bagi akal. Nalar diabaikan. Yang ada hanya nafsu untuk menyebarkannya. Hoaks  beredar kian gencar. Mampir di semua beranda pemilik akun media sosial. Dari mana memulai dan seperti apa untuk menghentikan hoaks yang sudah dilempar ke ruang publik? sulit terjawab. Semua saling berkelindan. Membentuk lingkaran kebohongan yang sulit dipotong. Kalaupun pelaku dijerat UU ITE, tak berarti berita bohong di dunia maya lenyap.

Hoaks jelang pesta demokrasi, acapkali tak langsung berkaitan dengan objek pendukung salah satu calon. Kadang seorang akademisi, tokoh agama, atau tokoh publik yang tak terlibat hiruk-pikuk pilpres. Beberapa hari lalu heboh “teguran” dari Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Rembang-Jawa Tengah KH Musthofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Tokoh Nahdlatul Ulama. Video wawancara Gus Mus dengan media massa diacak-acak. Ada gambar tambahan. Komentar kiai kharismatik ini seolah diarahkan menyerang salah satu capres dan cawapres. Para penyebar hoaks umuknya memang mengambil akademisi, tokoh agama, dan tokoh publik menjadi sumber video ataupun tulisan. Komentarnya dicampur dengan narasi atau diksi fiktif.

Kembali pada kasus hoaks yang menerpa Gus Mus, di akun pribadi Instagramnya @s.kakung Gus Mus memberi teguran yang berbunyi,”Gara-gara kepentingan politik sesaat, ada manusia yang tega membuat editan seperti ini. Rekayasa keterlaluan seperti ini sama sekali tidak sebanding dengan keuntungan politis -kalau memang ada- yang diperoleh dan dinikmati. Kalaupun berhasil (banyak atau ada yang percaya dengan bikinannya ini), paling berapa lama akan dinikmatinya. 5 tahun? 10 tahun? 100 tahun. Bila yang membuat rekayasa ini manusia beriman, semoga Allah memberi hidayah dan kesejahteraan yang cukup,” tulisnya. 

Berikan Perlawanan di Media Sosial

Menyongsong pesta demokrasi, harus dihadapi dengan sukacita. Gembira dan penuh semangat. Tak boleh anak bangsa malah larut dalam konfrontasi. Pilpres dan pileg adalah momentum adu ide, gagasan, dan kebaikan untuk membangun Indonesia. Bukan sebaliknya momentum menebar kebencian dan hoaks. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi hoaks yang beredar.

Pertama, mengecek sumber informasi. Mengkomparasi dengan berita di media mainstream. Ketika sumber tak jelas dan media massa secara luas tak memberitakan, ini tanda nyata itu bohong. Kenapa mesti media massa menjadi acuan? Secara perundang-undangan media massa memiliki aturan. Para pekerja media (wartawan) bekerja dengan kode etik. Kredibilitas informasi sanggup dipertanggungjawabkan.

Kedua, berisi isu bombastis. Agak aneh. Cenderung dibesar-besarkan, jauh sekali dari fakta. Semisal ada jutaan pekerja asing di Indonesia. Bisa kita bayangkan, berapa kali pesawat ini mondar-mandir mengakut tenaga kerja dengan jumlah jutaan. Cukup mudah di zaman canggih publik mendapatkan video atau foto di lapangan. Aneh kan, satu pesawat dicarter khusus orang asing ke Indonesia. Isu lain soal tujuh juta surat suara tercoblos. Bisa anda bayangkan berapa kontainer mengangkut tujuh juta surat suara. Butuh berapa banyak memobilisasi orang untuk mencoblosnya. Dan masih banyak lagi.

Ketiga, mengutip pendapat tokoh publik, tokoh agama, ataupun akademisi untuk disebarkan. Kecenderungan informasi yang disampaikan ngawur. Pendapat tokoh di dalam video atau tulisan adalah untuk menggiring pandangan orang. Menarik perhatian. Menghadapi hal ini perlu konfirmasi langsung pada sumber terkait. Jika tak memungkinkan bisa mencari informasi dari media massa.

Hoaks menyebar karena kita tak mawas diri. Ponsel pintar atau smartphone digunakan tak semestinya. Menggali informasi melalui mesin pencarian bisa dilakukan. Hanya saja, kebanyakan penyebar hoaks jemarinya lebih cepat bekerja dibanding akalnya. Mulailah menjaga ruang publik, khususnya di dunia maya dengan informasi yang baik. Sekali hoaks share, maka anda tak akan tahu lagi kemana aliran fitnah itu menyebar.(*)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.