Ternyata Tak Cukup Hanya Mendidik Anak Dalam Keberagaman! Orang tua Juga Perlu Melakukan 3 Hal Ini

Kita amat sering mendengar ungkapan-ungkapan bijak perihal “anak muda sebagai calon penerus bangsa”. Setiap hari, setiap saat, menit bahkan detik. Beribu-ribu artikel membahas tentang pentingnya menjaga anak muda. Berbagai macam platform serta ruang-ruang diskusi beramai-ramai ambil bagian dalam menyuarakan hal ini. Namun pada kenyataanya hal tersebut masih belum terlihat massif dan signifikan hasilnya.

Bagaimana tidak, mari merefleksi ke lingkungan sekitar kita. Berapa banyak orang tua, tetangga atau bahkan sanak family kita yang terjebak dalam ruang-ruang yang sifatnya “radikal” dan intoleran terhadap orang diluar keyakinan mereka? Pemikiran-pemikiran ke-akuan ini terus merebak bahkan hingga ke generasi penerus; anak-anak yang masih dini. Mereka sudah mulai mencap teman-teman mereka dengan unsur SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). So, berikut beberapa hal penting untuk dilakukan sebagai orang tua guna menjaga generasi dan keutuhan Indonesia.

1. Memberi Teladan Tentang Keberagaman

Kita sebagai orang tua barangkali tak pernah mengajarkan secara langsung untuk menjadi radikal atau intoleran terhadap orang di luar keyakinan kita. Bisa jadi sesekali secara sadar kita mendiskriminasi tetangga kita yang berkulit berbeda atau bermata sipit, dan kemudian esok hari anak-anak kita di ruang-ruang sekolah sana juga ikut mendiskriminasi teman-temannya. Ingatlah anak-anak adalah peniru yang ulung. Bandura dan Richard Walters (1959, 1963) telah melakukan eksperimen pada anak-anak yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati bahwa, peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus-menerus.

Jika kita sebagai orang tua terbiasa mengintervensi suatu golongan, menyebut-nyebut agama dan melabeli tetangga atau kawan kita dengan unsur SARA. Beberapa saat kemudian tidak menutup kemungkinan anak-anak kita juga akan mengikuti. Dan inilah yang kita saksikan belakangan ini. Penuh gempuran narasi intoleransi baik di dunia nyata pun di dunia maya.

2. Membatasi Anak Bermain Gawai dan Belajar Literasi Media

Sebagai seseorang yang pernah memiliki manis pahit pengalaman sebagai guru di sekolah, pemandangan-pemandangan intoleran dan diskriminasi kian lekat dengan anak-anak kita saat ini. Sebab merekalah yang paling menggandrungi platform media sosial. Segala bentuk informasi jahat dan hoax sangat dapat mempengaruhi pola fikir.  Ditambah lagi anak-anak adalah sasaran empuk bagi pelaku radikalisme dan terorisme untuk melancarkan ideologi mereka. Oleh sebab itu orang tua penting mendampingi dan mengawasi anak-anak ketika bermain gawai dan internet.

3. Menyadari  pemuda adalah penentu Indonesia di Masa Depan

Saat ini yang perlu kita sadari sebagai orang tua adalah kenyataan bahwa mengajarkan anak-anak kita tentang keberagaman tidak lah cukup. Kita juga harus memberi teladan dengan perilaku-perilaku kita dalam kegiatan sosial sehari-hari. Sebab hari ini menjaga keberagaman tidaklah hanya sekedar untuk menjaga anak-anak kita dari ideologi radikal dan intoleran tetapi juga berkontribusi dalam menjaga keutuhan Indonesia Raya di masa depan. Well, Semoga hal ini bermanfaat sebagai ruang saling mengingatkan satu sama lain demi Indonesia damai. Nah, bagaimana keputusan kita hari ini? Siap bergerak menjadi aktor perubahan?

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *