Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Sexy Killer, Kartini dan Politik Ruang Dalam

2 min read

Politik Kartini adalah soal “ruang dalam” bangsa. Tulisan-tulisannya menggambarkan perjuangan panjang di “ruang dalam” yang belum selesai, sekalipun kemerdekaan di “ruang luar” sudah tercapai.

Relevansi dari pemikiran dan perbuatannya sangat terasa sekarang saat politik semakin maskulin serta hanya berputar pada soal perebutan kuasa dan sumber daya, sementara “ruang dalam” bangsa semakin porak poranda: Hilmar Farid dalam gelap terang hidup Kartini.

Semakin tak terbendungnya ujaran Kebencian, kebohongan, fitnah, saling curiga, dan distrust antar sesama saudara sebangsa mewarnai jagat maya, juga dunia realita perebutan kekuasaan. Nusantara seolah terbelah menjadi dua dunia: cebong dan kampret.

Ditengah perebutan tahta, Sexy Killer mengambil secuil ruang. Kemudian menjadi viral. Dijuluki sebagai film dan isu terseksi tahun ini. Kemudian mempengaruhi “ruang dalam” rakyat Indonesia. Baik pada pergolakan pemilu pun dalam memandang perkara lain.

Sexy Killer secara gamblang memaparkan penguasaan sumber daya beserta keterlibatan aktor-aktornya yang berada dibalik perebutan kursi RI-1 yang sedang berlaga. Film gubahan rumah produksi Watcdoc ini juga semakin membuka mata akan jalan panjang konflik akibat tambang batu bara yang nampaknya tak memiliki ujung. Terus menerus berkelindan. Menelan banyak korban. Membabat hutan lebat. Menghilangkan sumber air bersih. Menghilangkan lahan pertanian. Lahan perkebunan. Yang kesemuanya memiliki ikatan dengan warga setempat. meminggirkan rakyat kecil. Tak terkecuali perempuan.

Bumi disimbolkan dengan perempuan: ibu bumi. Hutan dan sawah bukan hanya soal memiliki nilai ekonomi tapi juga memiliki nilai sosial budaya. Bagi perempuan tanah adalah kehidupan, bukan hanya untuk hari ini tapi memastikan kehidupan generasi mendatang. Sayangnya, perjuangan perempuan dalam menjaga tanahnya dari perusahaan tambang tidak tampak pada karya tim ekspedisi indonesia biru ini.

Gerakan perempuan menolak tambang pun tak muncul. Padahal kalau ditelisik lebih mendalam gerakan perempuan melawan tambang sudah lahir dan tumbuh sejak lama. Gerakan perempuan adat dayak menolak tambang contohnya. Perempuan hampir selalu luput dari perhatian. Kalaupun perempuan dilibatkan dan diwawancarai pada film sexy killer lebih banyak diperlihatkan sebagai makhluk yang pasrah, hanya bisa menangis, marah-marah hingga sebagai yang mati; si Novianti.

Masifnya proyek-proyek yang mengeksploitasi SDA sudah barang tentu berdampak pada hidup dan kehidupan perempuan. Pencemaran air, pencemaran udara, perampasan tanah, penggusuran untuk proyek investasi berbasis SDA, telah mengakibatkan perempuan semakin terpinggirkan, dibatasi akses dan kontrolnya atas SDA dan menambah beban hidup perempuan.

Semoga di hari Kartini ini sebagai momentum charging spirit terus menyuarakan perubahan. Membawa perjuangan perempuan pada fase yang baru, tidak sekedar menuntut pengakuan tapi juga memberikan kontribusi keberadaan kita dalam kehidupan bangsa. Memulai dari “ruang dalam”mengembalikan jati diri bangsa yang penuh kasih dan saling merangkul dalam fitrah keberagaman.

Hari Kartini sebagai re-momentum menumbuhkan kepercayaan diri perempuan bahwa keberadaan dan kontribusinya penting. Terhitung. Precious. No one left behind. Laki-laki pun perempuan. Pada akhirnya menjadi kekuatan perjuangan tersendiri di “ruang dalam” menanamkan kata-kata magis seorang Kartini “Dan, seandainya aku terlahir kembali di dunia dan diberi kesempatan memilih, aku akan sekali lagi menjadi perempuan”. Dan “bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan fikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan”.

Selamat Hari Kartini!

*(Tulisan ini Disampaikan pada saat menjadi panelis mewakili Duta Damai Regional NTB pada agenda  Celebrating Kartini Day)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.