Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Dhania, Terbius Suriah Akibat Propaganda Dunia Maya

4 min read

Semua yang tersaji di dunia maya, tak selalu sesuai dengan kenyataan. Pun itu menyangkut “janji surga”. Jangan gegabah, kisah Nurshadrina K Dhania ini menjadi contoh. Anak muda yang terpesona dengan ISIS dari dunia maya. Propaganda di dunia maya membuatnya terdampar bersama belasan keluarganya di Suriah.

===

Senyumnya mengembang sesaat sebelum mulai bicara. Dari wajahnya, perkiraan usia belum sampai 20 tahun. Namun ia tak gentar bicara di depan ratusan anak muda yang lebih tua.

Namanya Nurshadrina K Dhania atau akrab disapa Dhania. Ia didapuk menjadi pembicara dalam Asean Youth Ambassador for Peace di Hotel Discovery Ancol-Jakarta. Pengalamannya berangkat ke Suriah, kemudian kembali lagi ke Indonesia akan diceritakan.

Bersama keluarganya, beberapa tahun lalu Dhania bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah atau dikenal ISIS. 

Ketika kagum dengan ISIS, usianya baru 15 tahun. Dari segi perekonomian Dhania tercukupi. Keluarganya masuk kategori mapan. Kemanapun ia pergi, sopir siap mengantar. Ayah dan ibunya sibuk bekerja. Interaksi dara kelahiran 1998 ini dengan keluarga terbilang jarang. Hingga kemudian muncul di benaknya untuk hijrah. Ingin menjadi muslimah yang baik.

“Saat itu saya berpikir hidup gini aja. Benar yang dikatakan dalam Lagu Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga,” katanya.

Keinginan hijrah ini, mendorong Dhania aktif membaca artikel islam. Ia kerap membaca artikel islami yang muncul di beranda facebook miliknya. Berikutnya, Dhania mulai  membaca buku sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Kehidupan dalam buku itu digambarkan adil dan makmur. Waktu terus berjalan. Tak berapa lama, memasuki Juni 2014 dunia dibuat heboh dengan munculnya gerakan khilafah di timur tengah. 

“Saya dapat (berita) dari paman. Dan paman dapat itu dari internet,” ceritanya.

Gerakan khilafah itu, katanya, mulai mengundang perhatian. Kisah-kisah di Tumblr mulai dibaca. Ia pun rajin membaca kanal Diary of Muhajirah (Catatan Harian Kaum Perempuan yang Berhijrah). Di dalamnya berisi pengalaman orang-orang yang berhijrah ke Suriah. Dalil dari Quran dan Hadist yang tertulis dalam artikel dunia maya, langsung diamini. Begitu yakin. Tanpa pembanding dari sumber lain.

“Karena saya belum begitu tahu agama. Dalam hadist itu dikatakan Syam (Suriah dan Irak) negeri diberkati. Kalau hijrah akan diberkahi, dapat surga, itu yang membuat semakin semangat,” terangnya

“Cerita dan pengalaman mereka yang sudah kesana juga menarik. Saya makin semangat kesana,” sambungnya.

Dhania benar-benar terhipnotis. Keluarganya mulai orang tua, adik, kakak, paman, dan bibi mulai dipengaruhi. Ia rela keluar SMA pada pertengahan 2015, saat itu kelas XI. Semuanya dibuat buta. Yang ada keinginan segera berangkat ke Suriah. Demi surat berhenti sekolah, ia kabur dari rumah.

“Supaya orang tua urus kesana (Suriah). Padahal mau ujian kenaikan kelas, antar keluarga saling sharing,” ucapnya.

Dari komunikasi orang yang sudah lebih dahulu ke Suriah, Dhania diberi kabar semua urusan selama di Suriah akan dipenuhi. Malah tawaran gaji disana tinggi. 

“Saya chatting dengan orang di Suriah. Agustus 2015, saya kesana bersama 19 orang keluarga,” akunya.

Selanjutnya, Dhania bersama keluarga berangkat dari Indonesia ke Turki hingga akhirnya tiba di Suriah. Disana antara wanita dan pria dipisahkan. Mengagetkan melihat kondisi asrama yang kotor. Bertentangan dengan prinsip Islam, kebersihan sebagian dari iman. Kian aneh, ketika para wanita sering berantem. Sampai saling lempar pisau. 

“Saya dan keluarga sempat kena, dibilang 17 tahun kok sama ibumu, mana jihadmu. Jihad untuk wanita menikah, para pria hanya perang,” urainya.

Janji-janji yang dilontarkan oleh ISIS, mulai ditagih. Semuanya nihil. Malah perlakuan pada warga sipil dibedakan dengan imigran. Urusan pakaian dipersoalkan. Ada polisi syariah. Kerjanya sweeping pakaian tak layak. Perempuan dengan dandanan menor langsung diangkut. Parahnya, bagi yang tak ada baju syariah, mereka diminta beli. Harganya selangit.

“Daripada beli baju, buat keluarga saya mending untuk makan. Harusnya sebagai ladang dakwah diberikan gratis,” lanjutnya.

Sampai akhirnya, salah satu keluarga Dhania mengirim surat tausiah. Mengingatkan sesuai tuntunan agama. Alih-alih mendapat respon, polisi syariah malah mengintimidasi. Mereka paling benar. Kondisi yang berat ini, membuat keluarganya tak betah. Pada 2016 mulai keluar dari teritorial ISIS. 

Rupanya apa yang dipropagandakan di dunia maya tak sesuai kenyataan. Dhania menyesal tak mengindahkan pendapat orang tuanya. Hampir setahun mereka sekeluarga berusaha menemukan jalan pulang. Sampai akhirnya Juni 2017 saat Ramadan, mereka sekeluarga bisa masuk wilayah Turki dengan bendera putih. Disana mereka mendapat jalan keluar supaya bisa kabur dari ISIS. Tak gampang kabur dari sana. Nyawa menjadi taruhan. Mereka sempat ditembaki sniper ISIS.

“Hampir putus asa. Pertolongan datang, pemerintah menjemput 12 Agustus 2017,” lanjutnya.

Mereka yang termakan propaganda dari dunia maya, kata Dhania, bukan berarti miskin atau bodoh. Seperti dari Kanada, anak pintar dan cumlaude. Mereka juga keluarga kaya. Begitu pula dari Australia berasal dari keluarga mapan. Dua anak dari Inggris, usia 15 dan 16 tahun direkrut di Twitter. Sama, keduanya juga kaya. Kekuatan di media sosial berjalan luar biasa.

Pengalamannya terbuai oleh ISIS, membuat Dhania bertekad terus menebarkan pengalamannya. Beberapa tips untuk kalangan milenial kerap dibagikan. Diantaranya, perlu membaca Quran dengan dalam. Karena mereka kerap menggunakan satu ayat untuk mendoktrin. Padahal dalam kitab suci, antara satu ayat dengan ayat lain saling menjelaskan. Pendapat jangan memahami Quran lebih dalam nanti menjadi keras, itu pendapat yang salah. Justru kian memahami kandungan Alquran, semakin luas pemahaman kita semua. Banyak membaca buku, jangan hanya membaca satu jenis buku.

“Kita harus tanya banyak orang, berpikir terbuka. Ibarat kita jatuh cinta, hanya melihat baiknya saja. Tak boleh tertipu, harus tetap menimbang semua hal dengan baik,” tukasnya.

Kisah dari Dhania ini menjadi catatan penting, khususnya bagi para orang tua. Harus tetap mengawasi putra-putri mereka saat di dunia maya. Rasa ingin tahu remaja begitu besar. Tanpa bimbingan orang tua, remaja rawan terpapar propaganda.(*)

Dhania dengan perwakilan Duta Damai Dunia Maya NTB di Hotel Discovery Ancol Jakarta
Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.