Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Duta Damai Merayakan Hari Kartini

4 min read

Pernah nonton Sexy Killer yang lagi booming menjelang pilpres tahun 2019? Kalau jawabannya ‘iya’ pastinya kamu punya pendapat masing-masing setelah menonton film documentary ini. Berapa dari kamu bisa jadi tidak jadi memilih nomor 1, kemudian pindah ke 2 atau sebaliknya atau ada yang nangis, tercengang, kesal, shock bahkan sampai memutuskan untuk masuk Golongan Putih (Golput). Film Documentary ini sebenarnya dirilis tahun lalu. Menjadi trend pada tahun ini di You Tube karena bertepatan dengan momen kampanye akbar dan pilres 2019.

Minggu malam (21/04/19) di Acibara Coffee tepatnya di Jl. Jendral Sudirman No. 76, Rembiga, Kota Mataram, diselenggarakan nonton bareng dan diskusi tentang film ini. Diskusi mencakup tujuan pembuatan film, mengapa ditayangkan ketika minggu tenang pemilu serta bagaimana cara menyikapinya. Acara ini menghadirkan empat komentator utama dari beragam komunitas, Rohani Inta Dewi (Duta Damai NTB), Nurlaily Agustiarini (Earth Hour Mataram). Evi Isnasilvia Putri (Trash Hero Tanjung) dan Ilda Karwayu (Komunitas Akar Pohon Mataram).

Acara dimulai dengan Nobar (Nonton bareng) Sexy Killer. Audience menikmati film berdurasi 80 menit itu dengan seksama. Ditemani popcorn dan segelas teh membuat suasana nobar semakin asik. Setelah pemutaran film berada di detik-detik terakhir, Kris selaku moderator meminta reaksi berupa tanggapan dari seluruh penonton tentang film yang telah mereka tonton tadi.

Nana, seorang petani sekaligus peserta dalam diskusi ini menuangkan tanggapannya di ruang publik. “Dari film Sexy Killer tadi kan lebih  dirujukan ke orang-orang atas ya. Tapi menurut saya, sexy killer ini juga termasuk kita. Kenapa kita? Karena kita sebagai pelaku pengguna listrik. Apa sih yang bisa kita lakukan? Salah satunya ya dengan mindful carbon free yaitu dengan mempertimbangkan lagi penggunaan listrik.” Ujarnya.

Seusai menonton film ini, Rohani mencoba melihat satu sudut pandang yang berkaitan dengan Hari Kartini. Dalam menyampaiakan idenya terkai Sexy Killer, ia mengusung kata Politik dan Kartini. Kalau ditengok lebih jauh, Kartini lebih banyak melakukan perjuangan di ruang dalam, meskipun kemerdekaan di ruang luar sudah terjadi. Pemikiran-pemikiran dan gagasan Kartini kurang relevan dengan kejadian saat ini yakni lebih ke potilik kekuasaan yang sangat maskulin.

Sexy Killer  menampilkan hal-hal gamblang. Bisa dilihat dari orang-orang yang berlaga di film ini. Dalam studi international ada sebuah konsep yang dipakai untuk menggambarkan suatu realita atau fakta yang kemudian mempersuasi seseorang untuk bersikap. Jadi ketika seseorang memilih golput setelah menonton sexy killer, maka golput tersebut adalah sikap. Artinya, sikap yang dipengaruhi oleh suatu produk.

Dari informasi yang didapatkan pada film ini, ada sisi lain yang perlu diperhatian selain capres dan caleg. Di Sexy Killer ini tidak ditampilkan gerakan perempuan menolak tambang secara detail. Padahal faktanya ada banyak gerakan perempuan menolak tambang, seperti Perempuan Dayak menolak Tambang dan lain-lain. Informer di film sexy killer didominasi oleh laki-laki. Contohnya pada cuplikan tentang air, laki-laki yang ditanya. Kalau seandainya perempuan, pasti ada hal-hal yang sangat dalam yang bisa ditemukan disitu.

Kalau pun beberapa perempuan yang dilibatkan dalam sexy killer ini,  mereka lebih banyak ditampakkan sebagai yang pasrah, nangis, marah-marah dan yang paling sadis adalah sebagai yang mati, seperti Novianti. Tapi kalau sebagai yang berjuang dan dipenjara malah laki-laki. Selain itu, kalau dilihat dari konteks kesehatan, perempuan di sexy killer merupakan korban paling rentan akibat tambang.

Rohani menutup sesi sharing sudut pandangnya dengan dua kutipan R. A. Kartini yakni:

“Kalau saya diberi kesempatan untuk lahir lagi ke dunia, saya akan tetap memilih menjadi perempuan.”

“Jika kita benar-benar ingin memajukan peradaban, kemajuan pemikiran dan akal budi itu harus sejalan.”

Lain halnya dengan sudut pandang Ilda Karwayu, Panelist dari Komunitas Akar Pohon. Ilda memandang film Sexy Killer sebagai sebuah karya sastra. Namun Ia memiliki sebuah sudut pandang yakni merasa sedih dan shock dengan realita di film tersebut karena film tersebut mem-framing kedua capres (Jokwi dan Probowo) memiliki kekuasaan penuh terhadap perusahaan tambang tapi mereka tidak bergerak sama sekali sehingga merugikan masyarakat kecil dan menggriring opini publik untuk golput. Sebab Sexy Killer memberi persepsi bahwa siapapun capres yang dipilih, maka tidak berpengaruh terhadap kemajuan bangsa.

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang sesuatu yang mereka hadapi sangatlah rendah. Terlihat dari cara mereka menolak dan mencegah dampak negatif tambang terhadap kehidupan mereka sendiri. Pentingnya literasi sejak dini akan sangat membantu masyarakat dalam mencari solusi hidup.

Sedangkan 2 panelists dari komunitas peduli lingkungan memandang bahwa film sexy killer ini hanya menampilkan masalah-masalah yang ada di Indonesia terkait dengan dampak PLTU yang sangat signifikan bagi masyarakat sipil. Pencemaran asap PLTU mengakibatkan kondisi udara, air dan tanah menjadi buruk. Sehingga menyebabkan masyarakat rentan terkena penyakit mematikan. Selain penyakit, sumber daya alam yang diambil dari alam membuat kondisi bumi tidak kondusif bagi seluruh makhluk hidup. Panelist menawarkan solusi untuk menghemat penggunaan listrik sebagai bentuk peduli bagi makhluk hidup dan bumi.

Singkatnya, Sexy Killer adalah karya anak bangsa yang turut berperan dalam membantu kita menimbang dan mengenal politik lebih dalam, menjadi sosok yang lebih sadar bahwa bumi adalah ibu, rumah bagi manusia dan bagi mahluk hidup lainnya. Sebagai manusia, spesies yang berada pada posisi tertinggi dalam rantai makanan sudah seharusnya kita bijak dan kritis dalam mentukan pilihan yang mengarah terhadap perubahan yang lebih baik.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.