Yudi Zulfahri, Jebolan Pendidikan Kedinasan yang Menjadi Radikal

Jakarta-Tentu kita semua tak asing dengan Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN) atau kini dikenal dengan Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN)? Sekolah yang boleh dikata sebagai sekolah kedinasan yang elit. Kalau di kepolisian mungkin disebut akademi kepolisian (Akpol) atau kalau TNI namanya akademi militer (Akmil). Sekolah favorit yang diidamkan banyak anak bangsa. Prestise dan elit. 

Pendidikan di sekolah ini bisa dikata semi militer. Tak usah heran kalau melihat badan mereka ramping dan bagus. Soal kecintaan kepada Indonesia, mereka yang masuk disini tak perlu lagi diragukan. Sayangnya, radikalisme tak mengenal jenis pendidikan dan latar belakang seseorang. Semua punya potensi terpapar radikalisme. Kisah ini diceritakan oleh Yudi Zulfahri, jebolan IPDN yang terjebak dalam radikalisme.

“Padahal, kalau soal nasionalisme itu, tidak usah diragukan lagi. Kami itu tiap mau makan dan selesai makan, harus hormat Pancasila. Artinya sehari kami siswa (IPDN) sehari hormat Pancasila enam kali, mungkin belum ada yang seperti itu,” katanya membuka cerita.

Yudi mengisahkan cerita ini pada ratusan peserta Asean Youth Ambassador for Peace di Hotel Discovery, Jakarta. Pria asal Aceh ini ingin memberi gambaran pada Duta Damai Dunia Maya  baik asal Indonesia maupun Asia Tenggara, jika potensi orang menjadi radikal itu selalu ada. 

Pada kesempatan tersebut, Yudi sekaligus menjabarkan mengenai  Piramida Terorisme. Pola yang harus difahami oleh banyak pihak. Ia pun menjabarkan teori David C Rapoport tentang empat gelombang terorisme. Dimulai dari Anarchistwave (1880-1920) saat itu kalangan sekuler ingin meruntuhkan sekuler. Dimana kerajaan dengan dinasti dan keturunannya mendominasi. Berikutnya ialah Anti-Colonial Wafe (1920-1960), kelompok yang tergerak anti kolonial. Aksi terorisme didasari atas pembebasan dari penjajahan. Di 1960-1980 masuk pada fase New Left Wafe pemicunya adalah soal komunisme. Dan terakhir Religious Wave yang terjadi pada 1980 hingga saat ini, latar belakang aksi ialah keagamaan.

Tentang latarbelakang agama ini, Yudi menyebut, anggapan kelompok terorisme selalu berkaitan dengan Islam. Itu hal yang salah. Dikatakan, ada kelompok menamakan diri Army of God ini adalah kalangan Kristen yang menentang praktek aborsi. Mereka tak segan mengebom klinik Aborsi. Ada juga di Palestina, aksi terorisme dilakukan oleh Yahudi Zionis. Warga Palestina kerap mendapatkan intimidasi. Di India ada Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Mereka terus menekan kalangan muslim, diantara upayanya adalah melarang menyembelih sapi. Mereka juga keras jika ada pernikahan antara muslim dan Hindu. Dan ada pula Budha di Rohingya, Myanmar. Mereka keras dan mengintimidasi RohingyaI

Kenapa Islam yang paling heboh? Yudi mengatakan, ini kaitan dengan membentuk jaringan global melawan negara yang dianggap imperial. Melawan Amerika dan sekutunya. Maka kemudian dibentuknya jaringan global. Narasi inilah yang banyak mengarah ke islam. Terorisme membentuk jaringan. Muncul pula pendapat, ini bagian dari konspirasi global.

Berdasarkan apa yang dialami, Yudi membagikan cerita mengenai pola Piramida Terorisme. Dimulai di tahap paling awal berlaku intoleransi. Berpikir tertutup. Meyakini pendapatnya paling benar. Memaknai teks secara tunggal. Tidak mau melihat banyak tafsir. Kebenaran pada diri sendiri. Tak menghargai pendapat orang lain, jadi fanatik buta. Inilah kemudian menjadikan seseorang berpikir radikal. Memahami tidak ada kelompok lain yang layak masuk surga, kecuali kelompoknya. Referensi pengajian adalah kelompok tertentu yang keras. Ada keyakinan beragama tak hanya bersyahadat. Itu yang mendorong penilaian selain Alloh adalah Thaghut. Dalam tahapan lebih tinggi, inilah kemudian menghadirkan aksi terorisme. 

“Bom bali dan bom Natal saya tak suka itu 2002. Mulai 2006 masuk, 2010 saya terlibat bergabung dengan Kelompok Aman Abdurrahman dan Dul Matin. Saya tak sadar memasukkan pondasi-pondasinya,” terangnya. 

Radikalisme sendiri, tak melulu hanya menyasar kalangan beragama. Nasionalis juga bisa terpapar, manakala bersikap intoleran. Sulit menerima ruang diskusi dan terbuka. Sebagai contoh, ketika ada yang mengatakan 8+2 adalah 10, ia keras meyakini angka 10 itu hanya hasil dari 8+2. Padahal jumlah 10 bisa didapati dari 6+4, 9+1, atau bahkan 5+5.

“Ideloginya benar-benar tertutup,” ucapnya.

Yudi tak menampik, fenomena saat ini ada pemuka agama yang begitu viral, memiliki penggemar di dunia maya ratusan ribu sampai jutaan. Meski begitu, publik harus tetap membuka diri. Boleh mengagumi dan fanatik dengan satu pemuka agama. Namun, harus tetap membuka diri dengan pemuka agama yang lain. Pria 36 tahun ini mendorong, kalangan muda yang suka mendengarkan ceramah agama di dunia maya atau internet, membuka diri untuk juga berjumpa dengan banyak pemuka agama di dunia nyata.(*)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *