Tue. Oct 15th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Trend Jihadis Tajir Melintir dan Terdidik

3 min read

“Why is everyone vulnerable to radicalism and terrorism?” pertanyaan ini diulang beberapa kali oleh pembicara pada sesi kedua kegiatan pelatihan Duta Damai Dunia Maya Asia Tenggara. Sesi kedua ini bertajuk “ Pemahaman bahaya terorisme dan ekstrimisme berbasis kekerasan” yang mengundang pembicara dari Australian Embassy, UNDP dan UNESCO. Karena berulang kali mendengar kata “vulnerable”, maka saya langsung membuka kamus online yang ada di Hand Phone saya waktu itu. 

Saat sesi kedua itu berakhir, saya belum benar-benar yakin bahwa semua orang “vulnerable” terhadap narasi radikalisme dan terorisme.  Sama seperti orang kebanyakan, saya menganggap narasi radikalisme dan terorisme hanya mampu menjerat orang dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah.

Namun, di hari terakhir pelatihan. saya dihadapkan dengan fakta yang jauh berbeda dari anggapan saya sebelumnya. Di sesi terakhir pelatihan, BNPT menghadirkan dua oang yang pernah menjadi korban narasi radikalisme dan terorisme. Pembicara pertama di sesi terakhir ini adalah perempuan berusia 20-an tahun yang pernah menjadi korban propaganda ISIS melalui dunia maya. Dialah Nurshadrina K Dhania atau yang akrab disapa Dhania.

Pada tahun 2015 lalu, Dhania berhasil membujuk keluarga besarnya untuk berangkat ke Suriah, karena terbius propaganda ISIS melalui media sosial yang menawarkan kehidupan sempurna berlandaskan hukum syariah. Dhania berasal dari keluarga yang cukup berada secara finansial, bahkan termasuk siswa dengan prestasi yang cukup membanggakan.

Sampai di Suriah, Dhania menemukan anak pengusaha tajir dari Negara lain yang merekrut tiga perempuan lulusan universitas yang berasal dari Inggris. Mendengar pemaparan Dhania ini, kemudian saya tertarik  menulusuri lebih jauh terkait background pelaku aksi teror. Yang paling fresh pelaku teror di Sri Lanka.

Menurut Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe dalam wawancaranya dengan CNN, ia cukup terkejut mengetahui bahwa pelaku teror berasal dari keluarga mapan, salah satunya bahkan sempat mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Jason Burke dari Guradian juga melaporkan bahwa daerah tempat tinggal pelaku bom Sri Lanka merupakan salah satu lingkungan elit di Kolombo.

Di Indonesia sendiri, otak dibelakang bom Bali 2002 salah satunya merupakan insinyur asal Malaysia yang memiliki gelar Ph.D. Dialah Dr. Azhari Husin, Ph.D. Ia pernah mengenyam pendidikan di Universitas Adelaide. meskipun tidak sampai menamatkan studinya di sana. Ia  bahkan pernah mengajar di Universitas Teknologi Malaysia.

Fakta bahwa fenomena pelaku teror yang memiliki latar belakang yang beragam. mencampakkan stereotype yang selama ini kita yakini. terorisme tak hanya berkaitan dengan kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan. Fakta ini diperkuat dengan studi yang dilakukan oleh Alan B. Kruerger dan Jitka Maleckova yang berjudul “ Education, Poverty, and Terrorism: Is There a Causal Connection?”

Pada bagian akhir jurnal yang berisi sekitar 46 halaman itu, keduanya mengungkapkan bahwa hanya sedikit korelasi antara kemiskinan, rendahnya pendidikan dengan aksi terorisme. Hasil penelitian mereka membuktikan bahwa, anggota militan Hezbollah dan pelaku bom bunuh diri Palestina berasal dari keluarga yang mapan secara ekonomi dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Ini juga mirip dengan kelompok underground Yahudi Israel yang menyerang Palestina tahun 1970an dan awal 1980an, “ they are well-educated and in high regarded occupations.”

Melihat fakta ini, apa yang disampaikan oleh perwakilan dari UNESCO pada sesi kedua pelatihan kemarin memang benar “various strategies are needed to cope with terrorism” mengingat modus dan latar belakang pelaku yang sungguh beragam. Maka tidaklah berlebih jika kita mengatakan “Tak ada orang yang benar-benar imun dari narasi radikalisme dan terorisme”.  Be Aware!!!

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Supported by PMD & BNPT.