Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Melihat Konflik Lokal Pagutan Dan Resolusi Damainya

3 min read

Sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan manusia lainnya dalam menjalani kehidupan, interaksi antar manusia tentu memiliki kepentingan masing-masing yang ingin dicapai. Tetapi, sebagai makhluk yang sangat beragam, kepentingan manusia tersebut sering mengalami ketidaksesuaian dengan manusia yang lain. Oleh karena itu, muncullah gesekan akibat perbedaan tersebut yang berujung pada konflik. Konflik merupakan perselisihan atau percekcokan, yang dalam arti sosial berarti pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa konflik merupakan sebuah gejala sosial yang selalu hadir dalam kehidupan sosial. Hal tersebut menyebabkan konflik menjadi sesuatu yang senantiasa ada dalam setiap lini kehidupan.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki catatan konflik yang cukup banyak dalam skala lokal, baik yang bersifat simetris maupun asimetris. Salah satu jenis konflik yang pernah terjadi adalah konflik komunal di daerah Pagutan Barat antara Desa Asak dan Desa Peresak pada tahun 2017.

Kronologi Kejadian

Konflik pertama yang terjadi pada tahun 2017 diawali oleh masalah merariq atau kawin lari, tetapi tidak direstui oleh keluarga dan tetap dilangsungkan. Konflik kedua merupakan peristiwa yang bermula ketika warga dari Lingkungan Asak Kelurahan Pagutan Barat melangsungkan prosesi penjemputan mempelai perempuan ke Pura Pemaksan Pagutan, Lingkungan Karang Buaya, Kelurahan Pagutan Timur, Kecamatan Mataram. Penjemputan itu melalui rute Lingkungan Asak melewati Jalan Banda Seraya, Simpang 4 Pagutan, dan Jalan R.M. Panji Anom. Iring-iringan penjemputan penganten ini disemarakkan dengan musik Gamelan dimana ruas Jalan Banda Seraya, menurut kesepakatan orang tua terdahulu antara Hindu dan Sasak bahwa tidak diperkenankan ada bunyi-bunyian atau musik gamelan, dimana ini tetap dijaga oleh masing-masing orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat.

Ketika melintas di depan Masjid Pusaka Al-Hamidy Lingkungan Presak Timur Kelurahan Pagutan, iring-iringan penjemputan pengantin ini membunyikan gamelan yang akhirnya ditegur oleh penghulu Masjid Al-Hamidy Habibul Badawi, namun teguran membuat iring-iringan pengantin keberatan dan sang penghulu hampir dipukuli warga iring-iringan pengantin. Salah paham ini pun ditengahi Polsek Pagutan dengan mempertemukan kedua belah pihak di Polsek. Pertemuan yang dipimpin Kapolsek Pagutan, dihadiri Penghulu Masjid Al-Hamidy Habibul Badawi dan perwakilan warga Lingkungan Asak.

Pada pertemuan tersebut, pihak Asak menanyakan perihal perjanjian tertulis mengenai larangan adanya bunyi-bunyian di ruas Jalan Banda Seraya, tapi perjanjian tertulis itu tidak ada karena memang hanya disepakati secara lisan oleh orang-orang tua zaman Anak Agung antara warga sasak muslim dan warga hindu sebagaimana yang dijelaskan Habibul Badawi. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan apa-apa sehingga kedua belah pihak tersulut emosi. Kemudian warga Asak turun ke Jalan Bandasraya dengan bersenjata tombak dan keris, sedangkan warga Presak juga keluar bersenjatakan pedang dan tombak, terlibat saling lempar batu. Aksi ini berlangsung selama 15 menit karena dihalau Polsek Pagutan yang kemudian diback-up jajaran Polda dan Polres Mataram.

Setelah suasana mulai kondusif, kemudian diadakan pertemuan untuk memediasi kedua belah pihak.  Pertemuan itu menghasilkan beberapa poin penting,yakni: (1) Masing-masing pihak sepakat untuk saling menahan diri dan menjaga situasi tetap kondusif, (2) Kesepakatan tentang tidak boleh membunyikan musik gamelan atau bunyian-bunyian di ruas Jalan Bandasraya akan disosialisasikan kepada warga sekitar, (3) Tidak ada warga yang membawa senjata tajam maupun tombak dan jika kedapatan membawa sajam akan diproses secara hukum.

Resolusi Konflik

Setelah melalui proses mediasi yang mengikutsertakan peran polisi dan pejabat serta pemuka agama setempat. Konflik antar kelompok yang terjadi di Pagutan, Lombok Nusa Tenggara Barat akhirnya bisa diselesaikan dengan damai. Terdapat beberapa poin penting yang menjadi pokok kesepakatan mediasi, (1) Masing-masing pihak warga sepakat untuk saling menahan diri dan menjaga situasi tetap kondusif, (2) Kesepakatan tentang tidak boleh membunyikan musik gamelan/bunyian-bunyian diruas Jalan Bandasraya akan disosialisasikan lebih lanjut kepada warga sekitar, dan (3) Tidak ada warga yang membawa senjata tajam maupun tombak dan akan diproses hukum apabila ada warga yang kedapatan membawa senjata tajam. Selanjutnya, peraturan tertulis mengenai kesepakatan tersebut akan segera dibahas lenahut dan ditetapkan sebagai peraturan tingkat daerah terkait acara keagamaan di seputaran Kota Mataram. Sebagai tindakan lebih lanjut mengenai peace keeping dalam konflik ini, telah dilakukan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan yang mengikutsertakan keterlibatan masyarakat dari dua kelompok yang sebelumnya bertikai. Sejauh ini resolusi konflik dan peace keeping yang dilakukan dirasa sudah berhasil meredakan konflik serta menurunkan ketegangan antar dua kelompok masyarakat ini. Satu tahun pasca konflik dan keamanan desa berhasil di jaga dengan stabil dan tidak terdengar lagi gesekan yang memicu konflik tumbuh kembali hingga saat ini.

 

5/5
Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.