ISIS Hancur, Waspadai Meluasnya Penyebaran Ekstrimisme

ANALISA PARA PAKAR: Para pembicara Asean Youth Ambassador for Peace saat memberikan materi pada ratusan anak muda di Hotel Discovery-Jakarta, 23 April 2019. Dari kanan Mark Whitechurch dari Australian Embassy, Charles- Michels Geurts EU CT Expert, Andika Chrisnayudhanto Direktur Regional Multilateral BNPT, Simon Finley dari UNDP, dan Irakhli Khodeli dari Unesco.

 

Acara Asean Youth Ambassador for Peace di Hotel Discovery-Jakarta, 22-25 April 2019 menghadirkan pembicara dari dalam maupun luar negeri. Dalam sesi pembicara luar negeri, sejumlah hal menarik mengenai situasi dunia terkait ektremismi dan terorisme diungkapkan. Penyampaian para pakar ini memberikan wawasan baru bagi ratusan anak muda dari Asia Tenggara. Berikut laporannya.

LEDAKAN bom di gereja, rumah sakit, dan hotel di Sri Langka menjadi pembicaraan sejumlah anak muda di Hotel Discovery-Jakarta. Aksi yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris ekstrimis ini ikut menghentak acara pelatihan Duta Damai Asia Tenggara. Ratusan anak muda yang tengah dipersiapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai agen perdamaian, dikumpulkan untuk membangun kontra narasi di media sosial. Dari Indonesia hadir 13 regional Duta Damai. Wakil dari luar Indonesia ada dari Malaysia, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam, Laos, Thailand, dan Vietnam. Workshop bertajuk “spreading peace in cyberspace” seolah menjadi antitesa ditengah aksi terorisme Sri Langka.

Pada hari pertama, sejumlah pembicara luar negeri hadir. Dipandu oleh Andika Chrisnayudhanto, Direktur Regional Multilateral BNPT, pemaparan materi disampaikan secara bergantian. Padat. Berisi. Dan penuh analisa. Dimulai dari Mark Whitechurch dari Australian Embassy. Ia menjabarkan mengenai peran anak muda di Asia dalam membangun narasi positif. Kalangan muda bisa melawan narasi negatif yang dibangun oleh kalangan radikal. Cara ini disebutnya sebagai langkah pertama melawan tindakan terorisme. Penyampaian doktrin terorisme, dilawan dengan hal positif. 

Perlawanan radikalisme bisa dilakukan secara online. Hanya saja, tetap pola offline dibutuhkan. Perjumpaan atau pertemuan harus tetap terjadi. Ini sebagai salah satu langkah menyampaikan pesan positif dengan bertatap muka langsung.

“Di Asean memang harus dipikirkan cara yang tepat untuk senjata online dan offline,” katanya.

Mark mengakui saat ini perhatian dunia mengarah pada milisi ISIS, kelompok negara islam Irah dan Suriah itu sudah kalah. Benteng terakhirnya di tepi sungai Eufrat, Desa Baghouz, yang berbatasan dengan Irak sudah dibombardir. Kekalahan ini bukan berarti ISIS selesai. Menjadi perhatian semua kalangan, meski ISIS tengah di ujung tanduk, mereka tetap berusaha bertahan. Diantara yang patut diwaspadai ialah nasib para jihadis. Berikutnya mereka akan menjelma menjadi teroris. Hal inilah yang patut diperhatikan oleh seluruh pemerintah di dunia. Para teroris akan merekrut anggota baru dengan beragam cara. Diantara yang ditonjolkan ialah menghadirkan sosok kharismatik. Menampilkan tokoh yang menghadirkan narasi-narasi baru, berupaya membius publik.

“Ini perlu dicounter, mereka punya konten baru sekarang ini,” sambungnya.

Simon Finley dari United Nations Development Programme (UNDP) melanjutkan penjelasan Mark Whitechurch. Dikatakan, terorisme sejatinya bukanlah fenomena baru di dunia. Sebelum abad 20 sudah ada aksi terorisme terjadi di banyak belahan dunia. Aksi ini pun bukan lahir karena persoalan agama. Saat itu terorisme hadir karena Marxisme. Seperangkat gagasan yang pertama dirumuskan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Secara keseluruhan, gagasan-gagasan ini menyediakan perjuangan kelas pekerja untuk mencapai bentuk masyarakat yang lebih agung atau sosialisme. Semua berubah ketika memasuki 2001, narasi terorisme berubah kepada ekstrimisme agama. Sebelumnya ini sudah ditandai dengan pembajakan pesawat yang kemudian menghajar WTC di Amerika. Kelompok yang mencuat kala itu ialah Al Qaeda.

“Berbicara mengenai ekstrimisme, bukan karena tidak rasional. Justru mereka termasuk yang rasional dalam berpikir,” ucapnya.

Menurutnya, hal lain yang memicu ekstrimisme ini adalah kegelisahan pada negara. Ada ketidakpuasan kepada negara dalam segala aspek, baik bersifat agama, ekonomi, pembangunan, ataupun sosial kemasyarakatan. Itu kemudian menjadi latar belakang munculnya aksi kekerasan. Dunia online sejak 2018, menjadi medan mempromosikan ekstrimisme, ISIS sebagai organisasi yang mempromosikan kekerasan di dunia daring (dalam jaringan). Propaganda terus ditebar kepada seluruh pengguna internet, menawarkan hidup yang lebih baik dan adil.

“Ada tatanan dunia baru, seperti itulah mereka menyebutnya. Di Asean hal ini tak bisa diabaikan,” imbuhnya.

Paparan dari pemateri asing mengenai kondisi dunia terkini kian tajam dengan materi dari Irakhli Khodeli, Perwakilan Unesco. Perang sesungguhnya diawali atau lahir dari pikiran manusia. Era globalisasi tak bisa menafikan pergerakan soal ide. Hal ini kemudian yang menggulirkan paham-paham yang cenderung keras dan ekstrim. Hal ini menurutnya menjadi pemicu kebencian. Diibaratkan seperti bensin yang memantik hadirnya api. Ada individu atau kelompok yang tidak siap melihat perbedaan. Melihat beda agama dan beda budaya sebagai hal yang patut dipersoalkan. Diantara sasarannya adalah anak muda, mereka diajak untuk bergabung dalam hal ideologi.

“Melawan ini, kita harus bekerja di semua level. Memiliki bukti, kemudian menjalankan pola pendekatan intuitif (dengan hati),” katanya.

Diantara cara yang bisa dilakukan untuk merangkul kalangan muda, dengan membuat komunitas atau kelompok olahraga. Ini bisa mencegah anak muda bergabung dengan kelompok atau komunitas yang kurang baik. Perlu menghadirkan figur atau tokoh yang membanggakan di bidang olahraga. Meyakinkan kepada anak muda dengan olahraga bisa memberikan prestasi. Idola yang salah bisa menyeret anak muda pada tindakan yang tidak tepat. Irakhli menambahkan, menjaga untuk seluruh dunia dalam damai ialah proses. Justru harus diperhatikan serius, ketika dalam kondisi damai harus menghadapi kekerasan.

“Karena kekerasan bisa terjadi di daerah damai,” tandasnya.

Pemaparan akhir ditutup oleh Charles- Michels Geurts EU CT Expert, ia menilai generasi muda sebagai generasi terbuka. Begitu kritis terhadap setiap hal yang diterima. Terlebih bila menerima informasi dari media sosial. Sikap kritis ini yang seharusnya terus dijaga serta dipertahankan. Mereka yang memberi respon tragis pada setiap propaganda, akibat berpikiran tertutup. Dalam pemahaman agama, sebenarnya belum begitu bagus. Hanya tahu sedikit mengenai agama. Ini kemudian yang membuatnya memahami sesuatu dari sudut yang berbeda. Seperti ada anak muda yang kagum pada ekstrimisme. Bangga memanggul senapan atau menaiki kuda. Aneh, karena menjadikan kekerasan sebagai solusi.

“Internet seharusnya menghapus konten yang berbau propaganda dan mengarahkan kepada kekerasan,” katanya.

Dalam kesempatan sesi tanya jawab, perwakilan Duta Damai Regional NTB Ziadah menanyakan pada para pemateri mengenai posisi dan peran anak muda menghadapi situasi saat ini. Cukup signifikan ketika anak muda didekati oleh anak muda pula, jarak dan rasa canggung bisa dihilangkan.

Charles- Michels Geurtsmen mengatakan, Indonesia adalah negara Islam yang besar di dunia, mereka belajar dari Indonesia dan berpatner dengan UNDP. Diantara langkahnya ialah melatih anak muda untuk platform online. Langkah dari BNPT harus didukung anak muda. Menghadirkan kalangan muda yang kritis dan objektif menyikapi perkembangan. Irakhli Khodeli menambahkan, anak muda bisa terus terlibat dalam sosialisasi secara luas mengenai perkembangan negara. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan dari statistik menunjukkan hanya segelintir orang yang menikmati. Perkembangan yang telah dilakukan harus disampaikan secara luas, supaya tidak lagi ada pemahaman yang keliru.(*)

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *