Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Dampak Hoax Bagi Bangsa

2 min read

Hoax menjadi ancaman negara bangsa di era digital. Bagi warga negara Indonesia yang tidak kritis, berita dan informasi berisi kebohongan sudah menjadi konsumsi sehari-hari.  Perkembangan zaman menggiring konsumen beralih peran sebagai produsen hoax di media sosial. Produksi hoax tidak bisa lenyap kalau literasi masih lemah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa literasi terkait kejelian memilih dan memilah mana berita yang hoax dan fakta menjadi penting dan urgent. Kurangnya literasi digital dan ditambah adanya kepentingan politik menciptakan hoax yang tidak terkontrol Berdampak mencederai demokrasi.

Eksistensi hoax dan ujaran kebencian makin menjalar bila disandingkan dengan isu politik. Kericuhan hoax, dan ujaran kebencian bisa dilihat saat pilkada DKI Jakarta 2016 lalu hingga pilpres jilid dua dengan menghadapkan kontestan yang sama yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

War cyber (perang siber) antar netizen memanas di kolom komentar jejaring sosial seperti facebook dan instagram hanya untuk membela pilihan politik mereka. Segala bentuk pembenaran dan dukungan kadang sampai melanggar norma dan aturan negara. Perilaku ini tentunya bersumber dari lagi-lagi karena literasi informasi yang kurang.

Irsyad mengutarakan bahwa sesungguhnya ujaran kebencian yang menjurus pada kemarahan massa tidak bersifat alamiah. Proses ini berlangsung dan dipenuhi taktik politik kekinian via media virtual. Lebih lanjut Geogre dan Zainal menambahkan bahwa proses tersebut membawa tokoh politik melakukan kampanye spektakuler guna mengendalikan pendukung dan menjatuhkan lawan.

Hal demikian menunjukkan emosi masyarakat lebih terfokus pada perbedaan suku, ras dan agama sebagai panduan pemilihan seorang pemimpin daripada program dan visi-misi  yang ditawarkan. Iklim seperti ini lalu dimanfaatkan oleh “orang-orang politik” dengan memodifikasi fakta menjadi hoax demi kemenangan yang diinginkan.

Kemudian Black campaign (kampanye hitam) mewarnai demokrasi di media sosial. Kampanye ini lahir di era awal munculnya media cetak dan televisi. Kini semakin terealisasi di media baru bernama social media berbasis digital. Media sosial ini memiliki fitur canggih yang mampu mentransformasikan bentuk partisipasi politik lama ke partisipasi politik baru.

Pada dasarnya media sosial menjadi solusi memperkuat minimnya partisipasi dalam demokrasi. Adanya kepentingan politik bermotif saling menjatuhkan satu sama lain menggambarkan situasi demokrasi yang kurang sehat. 

Oleh sebab itu diperlukan pemerintah sendiri sebagai penengah sekaligus pengedukasi tidak terprofokasi terkait hal-hal yang memicu maraknya produksi hoax. Tindakan ini berguna untuk menyaring jumlah hoax yang kian hari kian berat untuk dibendung. Jika sudah marak, maka imbasnya akan kembali lagi ke rakyat dan stabilitas negara.

Sinergi semua pihak dari pemerintah hingga grassroots sangat dibutuhkan untuk melawan dan memerangki hoax, dan ujaran kebencian guna menciptakan negara bangsa yang aman, damai, dan penuh cinta.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.