Menanamkan Toleransi dan Demokrasi Pada Anak

Perbedaan adalah salah satu hakikat kehidupan sebagai mahluk sosial sebagai bagian dari peradaban manusia. Dalam prakteknya, perbedaan-perbedaan ini bisa menjadi titik awal dari riak-riak yang bisa memecah kerukunan antar sesama. Oleh karena itu, sejak dini, anak-anak harus diberi ruang untuk mengenal keberagaman dan mengemukakan pendapat sehingga menjadi sosok yang demokratis, sosok yang bisa menghargai dan menghormati perbedaan baik dalam mendengarkan pendapat orang lain, mengeluarkan pendapat dan menentukan pilihan.

 Untuk mencapai tujuan ini, praktek demokrasi bisa dimulai dari ruang lingkup keluarga. Saat mengikuti pertukaran pemuda ke Australia beberapa tahun lalu, saya berkesempatan tinggal dengan keluarga Australia selama dua bulan. Hal ini memberi ruang kepada saya untuk mengamati dan mengalami langsung bagaimana demokrasi keluarga di negeri koala dilakukan, mengingat umur demokrasi Australia bisa dikatakan cukup dewasa.

Dalam keluarga Australia, meja makan dan makan malam adalah dua hal yang menjadi ruang dalam diskusi keluarga. Makan malam adalah waktu di mana semua anggota keluarga berkumpul setelah seharian melakukan aktifitas. Segala sesuatu selalu didiskusikan mulai dari rumah makan yang akan dikunjungi atau rencana liburan musim panas. Setiap anak akan mengemukakan pendapat mereka memilih dan diberi ruang untuk mengemukakan alasannya, begitu juga dengan orang tua. Mereka akan mendiskusikan budget yang mereka punya dan menyesuaikannya dengan pilihan keluarga. Dalam diskusi ini setiap pendapat penting sehingga anak merasa dihargai.  Dengan alasan, pertimbangan dan penjelasan yang baik, diskusi mencapai kesepakatan tanpa harus bersi tegang. Teaching logic sejak dini juga sangat membantu anak untuk menerima perintah atau pernyataan-pernyataan dari orang yang lebih tua. Sikap adil orang tua terhadap setiap anggota keluarga harus dilakukan secara konsisten untuk membangun kepercayaan dan rasa hormat anak kepada orang tua.

Sebagai seorang guru yang pernah mengajar di sekolah international dengan berbagai kurikulum terbaru di dunia, saya beruntung mendapatkan training dalam menyelesaikan konflik antar anak. Bahasa-bahasa yang dipakai sudah diatur dalam berbagai skenario yang sering ditemukan di lapangan sehingga dalam menyelesaikan konflik, anak didik bisa bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. Pada setiap area bermain, guru juga secara bergantian mengawasi anak-anak saat bermain.

Di awal semester, setiap guru harus mendiskusikan dengan kelasnya masing-masing tentang aturan-aturan yang ingin mereka terapkan di dalam kelas. Aturan-aturan ini berasal dari anak didik sendiri, untuk mereka,  ditulis dengan kreatif dan dipajang di dalam kelas oleh mereka sendiri. Aturan ini layaknya undang-undang dan harus diterapkan secara konsisten  sehingga anak mendapatkan pendidikan demokrasi yang sehat. Selain mendiskusikan aturan, mereka juga harus mendiskusikan struktur dan devisi yang bertanggung jawab dalam menjaga keamanan dan kerapian kelas. Setiap anggota kelas harus mengambil peran sehingga setiap anak merasa dihargai.

Demokrasi juga saya pelajari dari beberapa anak dengan latar keluarga yang tidak beragama di mana mereka diberikan kesempatan untuk belajar agama-agama yang diajarkan di sekolah, dalam hal ini orang tua mereka mengajarkan anaknya untuk melihat agama sebagai mata pelajaran. Perbedaan budaya, sudut pandang dan cara seseorang dibesarkan di suatu negara dan keluarga menjadi pembelajaran demokrasi dan toleransi yang biasa didiskusikan dalam kelas.

Dalam kelas atau di dalam keluarga, komunikasi tiga arah sangat penting untuk diterapkan, hal ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri anak tetapi juga melatih anak untuk menerima perspektif-perspektif yang dikemukakan oleh orang lain di mana proses mendengar dan merespon, mendengar untuk mengerti, kemudian bersimpati dan menjadi toleransi yang merupakan akar dari demokrasi.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *