Puasa dan Kemanusiaan Kita

Apakah Anda pernah bertanya, mengapa kita (Manusia) begitu berbeda dengan makhluk lainnya di alam semesta ini? Mengapa seakan-akan segala sesuatu terpusat pada kita?. Belum pernah terdengar berita mengenai sekawanan semut yang berdebat apakah mereka adalah sebuah organisme yang mengalami evolusi atau tidak? Kita tidak pernah mendengar bahwa burung gagak bercita-cita menjadi penjelajah di muka bumi seperti yang pernah dilakukan oleh Ibnu Bathuthah, Marcopolo, Vasco Da Gama, Christoper Columbus dan yang lainnya.

Belum ada ceritanya seekor monyet sirkus punya misi melakukan penelitian di planet Mars atau bahkan sekedar ingin berlibur diakhir pekan setelah bekerja seminggu penuh. Jikalau pun ada, itu hanya di film-film Kartun dan Animasi. Dan sebenarnya, film-film itu  adalah bagian dari hasil daya, cipta, rasa, dan karsa manusia itu sendiri.  Dengan kata lain, meskipun manusia selalu ikut melibatkan  non-manusia dalam kehidupan, akan tetapi  sejatinya itu tetap merupakan kisah panjang tentang manusia dan kemanusiaan kita dengan segala persoalan yang ada di dalamnya.

Maka dengan demikian, salah besar kalau kita mencari jalan keluar atas setiap persoalan hidup yang kita hadapi kepada selain manusia. Bahkan kepada Tuhan? Iya, bahkan kepada Tuhan sekali pun! Apa sebab? Tentu saja karena selain Tuhan hanya mendengarkan orang-orang yang mau melakukan do’a-do’anya dan lalu mendoakan pekerjaannya, juga karena akhir dari seluruh upaya manusia adalah awal dari campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Jadi, hidup ini bukan tentang yang lain. Hidup ini tentang kita, tentang kemanusiaan dan kedewasaan kita sebagai manusia yang hidup bersama-sama meskipun sebenarnya kita adalah individu-individu yang berbeda-berbeda.

Barangkali semua itu adalah berkat dari anugerah Tuhan berupa akal budi yang diberikan kepada manusia. Dari sekian fakta yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, sepertinya memang benar bahwa hanya manusia yang memiliki perangkat super canggih seperti itu. Karena itulah tidak heran apabila cara hidup kita begitu berbeda dengan makhluk lainnya. Kita tidak hanya “ada” di dunia ini, seperti adanya Semut, Monyet, Cebong dan Kampret. Akan tetapi, kita adalah satu satunya makhluk yang senantiasa dan terus-menerus “mengada” serta “memberi makna” bagi seluruh aksentuasi hidup kita. Singkatnya, kita tidak hanya Being (ada), tetapi juga Become (menjadi) manusia.

Dan sepertinya, puncak dari proses menjadiadalah sesuatu yang masih belum bisa diprediksi batasnya. Yang jelas, kita sudah sangat jauh berbeda dengan nenek moyang kita beberapa ribu tahun yang lalu. Hidup kita sudah sedemikian jauh berubah secara kuantitatif dan kualitatif jika dibandingkan dengan kehidupan orang-orang terdahulu.

Akan tetapi, perubahan yang kita lihat ini hanyalah sisi luarnya saja. Kita memang telah berhasil membangun banyak infrastruktur, sistem-sistem dan teknologi super canggih untuk mempermudah pekerjaan kita. Namun dari segi mental, kadang-kadang kita adalah manusia yang sama, yang dulu pernah mendiami sebuah gua atau gubuk kecil dari kayu di tengah hutan belantara, yang pola hidupnya masih sederhana dan bahkan jahiliah. Maka sangat boleh jadi, pencapaian gemilang yang telah dicapai oleh manusia selama ini adalah pintu masuk menuju bencana yang lebih besar.

Dalam karya keduanya yang berjudul “Homo Deuz: Masa Depan Umat Manusia” Yuval Noah Harari menggambarkan fenomena ini dengan cukup baik. Menurutnya, dari sekian persoalan yang dihadapi manusia sejak dulu, selalu saja kelaparan, wabah penyakit menular dan perang menempati posisi teratas sebagai bencana yang paling banyak memakan korban jiwa. Akan tetapi, setelah terjadinya beberapa lompatan perubahan dengan banyaknya penemuan para ilmuwan dalam bidang sains dan teknologi, ketiga persoalan itu secara perlahan bisa diatasi.

Kini lebih banyak orang meninggal akibat obesitas daripada kelaparan dan kekurangan gizi. Jika orang dulu menganggap perang sebagai sesuatu yang lumrah, kini kita menganggapnya sebagai tragedi besar kemanusiaan. Akan tetapi pertanyaanya adalah apakah dengan kemajuan pesat sains lantas membuat kita terbebas dari persoalan besar yang dapat menelan korban jiwa dalam jumlah yang banyak? Jawabannya adalah tidak!

Faktanya, setelah ilmu pengetahuan berkembang dan melahirkan banyak teknologi-teknologi canggih, mesin pembunuh massal tidak pernah benar-benar hilang, melainkan hanya berganti model saja, yakni dari alat pemusnah yang bersifat alami seperti bencana kelaparan, wabah penyakit menular dan perang antar kelompok, menjadi bencana hasil rekayasa manusia.

Karena itulah menurut Harari, ancaman terbesar manusia abad 21 ini sebenarnya bukan sesuatu yang lain selain manusia itu sendiri. Contoh kecilnya adalah kemajuan dalam bidang persenjataan. Jika dibandingkan dengan perang antar kelompok yang terjadi dulu sebelum adanya senjata-senjata canggih pemusnah massal, maka daya rusak dari sekali perang orang-orang modern sangat jauh lebih besar daripada perang dengan senjata tradisional.

Artinya adalah, kemajuan teknologi, jika tidak dikelola dengan baik, hanya akan menjadi malapetaka bagi manusia itu sendiri. Bisakah kita mengontrol para penguasa yang menjadi pemegang utama senjata-senjata itu, supaya tidak menggunakannya dengan membabi buta? Jika bisa, bagaimana caranya? Apakah suara kita cukup lantang untuk mengatakan STOP dalam melibatkan kekuasaan dan kekuatan senjata-senjata pemusnah massal dalam pergulatan politik dan ekonomi dunia?

Hanya satu cara untuk meredam potensi mematikan itu, yakni membangun mental yang sehat dan pribadi yang memiliki wawasan yang utuh tentang kehidupan dan kemanusiaan kita melalui menginternalisasi nilai-nilai puasa dalam diri dan seluruh hidup kita.

Puasa merupakan kurikulum ilahi yang outputnya langsung bisa kita rasakan ketika sedang menjalaninya. Prinsip utama yang ingin ditanamkan melalui tradisi berpuasa adalah sistem pengendalian diri serta bagaimana memanajemen kehendak dan ambisi kita yang membabi buta.

Dan yang paling penting adalah, puasa mengajar kita bagaimana cara menjalani hidup dengan lebih rileks dan santai, tidak tegesa-gesa dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap gerak hidup kita.

Mari kita jadikan bulan puasa ini sebagai budaya hidup sebelas bulan setelahnya. Maka, bisa dibayangkan akan betapa indahnya relasi kemanusiaan dan ketuhanan kita. Damai dengan sendirinya akan hadir mewarnai setiap sudut bumi.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *