Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Inspirasi Toleransi dari Lingsar, Lombok Barat

2 min read

Jika anda melancong ke Pulau Lombok rasanya ada yang kurang jika anda tidak menyempatkan diri untuk singgah di Desa Lingsar. Sebuah desa yang dikenal sebagai sumber air tawar bersih di kawasan Lombok barat, NTB. Desa ini didominasi oleh persawahan, hutan dan menghadap ke Gunung Rinjani. Desa Lingsar merupakan salah satu dari desa yang terletak di kecamatan Lingsar dan sekaligus berperan sebagai Ibukota Kecamatan.

Penduduk desa di kecamatan ini tidak percaya jika suku Bali dan Sasak, penduduk  asli Lombok pernah berperang. Mereka juga tidak percaya jika Bali pernah menjajah suku Sasak seperti yang dikatakan sejarah pada umumnya.

Hal ini dengan tegas mereka tolak dengan bukti adanya Kemaliq Lingsar. Kedua suku ini mempunyai tradisi dan kepercayaan untuk mesyukuri mata air yang dikenal dengan nama Kemaliq. Dalam bahasa Sasak, kemaliq berasal dari kata maliq yang berarti suci atau keramat. Setelah datangnya Bali ke Pulau Lombok, Kemaliq Lingsar tidak hanya menjadi tempat bagi umat Islam wetu telu untuk melakukan kegiatan adat mereka. Tepat di sekitar area Kemaliq Lingsar juga dibangun Pura Lingsar di mana suku Bali bisa melakukan ritual agama mereka, seperti diketahui bahwa agama Hindu juga dikenal dengan agama tirta yang berarti agama air. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Pura Lingsar dibangun sekitar tahun 1759.

Kompleks Pura dan Kemaliq Lingsar merupakan kompleks taman besar  dengan bangunan pura di dalamnya yang terdiri dari tiga kompleks utama yaitu Pura Lingsar, kompleks Kemaliq Lingsar dan kompleks Pesiraman. Pura Lingsar terletak di bagian atas, sedangkan kompleks Kemaliq berada di bagian bawah, tepat di area mata air dan menghadap kiblat. Komplek Pesiraman juga terletak di bagian bawah, dekat dengan Kemaliq.

Pura Lingsar dan Kemaliq Lingsar adalah lambang persahabatan dua suku yang hidup berdampingan dalam perbedaan kultur dan keyakinan. Mereka saling memberi kesempatan masing-masing penganut kepercayaan untuk melestarikan dan mensyukuri keberadaan mata air sakral di daerah ini. Pun hingga sekarang, dua suku ini terbiasa menjalankan ritual pada waktu yang bersamaan. Setiap tahun orang Sasak yang beragama Islam menjalani tradisi Perang Topat sementara masyarakat Hindu akan melakukan upacara Odalan atau Pujawali.

Perang Topat diadakan setiap tahun, sebelum musim menanam dan sesudah musim hujan. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati tanah dan air, mengembalikan hasil tanah berupa topat, kepada asal Lingsar. Hasilnya akan menjadi pupuk atau bubus lowong untuk bibit padi yang akan ditanam di wilayah Lingsar. Tradisi ini juga merupakan ungkapan bahagia dan rasa syukur masyarakat Sasak atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Acara ini biasanya dihadiri oleh masyarakat adat, petani atau anggota Subak kecamatan Lingsar dan Narmada.

Selain menjadi lambang kerukunan antar umat dua kepercayaan antar dua suku, Kemaliq Lingsar dibuka untuk semua agama dan kepercayaan jika ingin memanjatkan doa dan harapan. Setiap hari kawasan ini tidak hanya diramaikan oleh penziarah tetapi juga oleh turis lokal dan international yang ingin mengenal lebih dalam tentang kearifan lokal masyarakat Lombok.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.