Berpikir Kritis, Tingkatkan Navigasi Informasi Digital

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Berapa jam sehari Anda menggunakan internet? Apakah waktu yang Anda habiskan dalam dunia digital sangat membantumu dalam menyelesaikan pekerjaan atau sebaliknya? Berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, sebagian besar responden di Indonesia mengaku mengakses internet lebih dari 6 jam per hari. Ada sekitar 55,39% dari total responden yang setiap hari mengakses internet lebih dari 6 jam. Sementara responden lain lebih bervariasi, mulai dari 2 sampai 6 jam sehari. 

Saya sendiri menghabiskan banyak waktu di dunia digital dan selalu online secara konstan.  Hampir semua pekerjaan yang saya lakukan membuat saya selalu berada di dalam awan, mulai dari email, menggarap dokumen dengan google drive, membuat poster atau logo dengan menggunakan software online dan tentu saja terkoneksi dan bersosialisasi dengan teman-teman melalui social-media.

Dunia digital telah menghubungkan kita atau penggunanya menyebrangi batas baik secara geografi maupun secara politik, telah membentuk organisasi dan komunitas, telah mempertemukan pengguna yang memiliki kesamaan cara pandang dan interest, dan secara positif membantu penggunanya ketika merasa kesepian. Di balik sisi positif yang kita nikmati ada beberapa tantangan utama yang kita hadapi seperti misinformasi atau informasi yang tidak benar dan disebarkan secara tidak sengaja, disinfromasi atau informasi salah dengan tujuan tertentu, hate speech atau ujaran kebencian dan propaganda yang dilakukan baik oleh mainstream media maupun non-mainstream media.

Untuk menghadapi tantangan ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam melakukan navigasi digital khususnya saat kita dihadapi dengan berbagai infromasi yang tersebar di dunia digital seperti yang dipaparkan oleh John Green.

Fact Checking adalah hal pertama yang harus diketahui dalam melakukan validitas kebeneran suatu informasi. Penduduk digital cenderung menilai validitas sutau website dari tampilan resminya. Logo dan layout suatu website bisa sangat mengecoh dan membuat penduduk digital terkecoh. Dalam melakukan fact checking ada tiga pertanyaan yang bisa membantu penduduk digital dalam menetukan sumber informasi bisa dipercaya atau dipertimbangkan (1) Siapa yang ada di belakang informasi ini? (2) Bukti apa saja yang ditunjukkan terhadap pernyataan atau klaim tersebut? (3) Apa pendapat sumber lain mengenai pernyataan tersebut. Dengan pertanyaan ini penduduk digital akan lebih mudah melihat berbagai alasan terkait dengan kepentingan setiap website.

Selain fact checking, mebaca lateral (Lateral Reading) merupakan hal berikutnya yang harus dibagun. Membaca sambil memverifikasi kebenaran informasi yang disampaikan dalam suatu bacaan, mengingat bacaan sering kali tidak ditulis sumbernya atau dari mana kutipan tersebut berasal. Melihat sumber-sumber yang lain untuk menemukan konteks-konteks yang berbeda adalah keharusan dalam membaca lateral. Dalam hal ini penduduk digital atau pembaca juga harus menyadari bahwa berita ditulis oleh journalis dan editor mempunyai tujuan. Media membutuhkan iklan untuk mendukungnya secara financial dan sebaliknya media dibutuhkan untuk mengajak dan mendorong pembeli untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan. Lebih dalam lagi, journalis dan editor adalah manusia, mereka mencari informasi. Mereka menentukan berita yang mana yang harus ditulis dan dicetak yang kemungkinan pembaca tidak selalu setuju dengan hal tersebut. Alogatima dari setiap platform juga berpengaruh dalam memunculkan berita tersebut atau berita yang mana yang akan menjadi trending topic.

Banyak pembaca yang sering kali menjadi skeptis dan merasa ditipu oleh berita, baik itu berita benar maupun berita tidak benar karena setiap berita dianggap memiliki kepentingan yang tidak berpihak pada kebenaran. Untuk menentukan siapa yang dipercaya (Deciding who to trust) kapasitas dan perspektif organisasi tersebut dalam menyajikan beritanya perlu diperhatikan. Yang dimaksud dengan kapasitas di sini adalah ahli yang berbicara mengenai informasi tersebut.

Setelah menemukan sumber yang bisa dipercaya bukan berarti kita langsung memberi kepercayaan kita. Selain melihat kapasitas organisasi dan orang-orang yang berada dalam organisasi tersebut, evaluasi bukti perlu dilakukan. Bukti tersebut bisa dalam berbagai bentuk seperti video, foto atau data selama itu bisa mendukung berita yang dibaca. Apabila bukti tidak mendukung pernyataan atau berita yang disajikan bisa dikatakan bahwa berita tersebut tidak valid.  Foto dan video sangat berpengaruh kuat terhadap pikiran manusia. Dengan kecanggihan teknologi, foto dan video sering disalahgunakan untuk memperkuat atau mendistorsi kebenaran peristiwa yang diperlihatkan oleh foto atau video tersebut. Dengan mudah kita terjebak dalam “seeing and belivieng.” Jika tidak jeli, kita bisa tergugah untuk membaginnya.

Data dan infografik bisa jadi sangat meyakinkan saat kita membacanya. Sebelum membaca data perlu ditanamkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, segala sesuatu bisa dibenarkan asalkan di tempatkan pada konteks yang sesuai, termasuk data dan infografik atau segala sesuatu yang berkaitan dengan statistik. Data merupakan informasi kualitatif atai kuantitatif yang disajikan dalam bentuk grafik, hasil atau diagram. Data didapatkan berdasarkan observasi, eksperimen, investigasi atau penelitian. Pada saat surfing untuk mencari informasi yang tepat sebaiknya tidak melakukan sembarang klik dan share. Website yang terpercaya belum tentu berada pada urutan pertama.

Selain mengaplikasikan hal-hal di atas dalam melakukan navigasi digital, perlu diketahui bahwa dunia digital kadang tidak merepresentasikan ide, opini dan aspirasi penduduk bumi mengingat akses terhadap alat-alat digital dan internet masih menjadi hambatan banyak orang. Mereka tidak ikut berpartisipasi di berbagai platform karena terbatasnya akses.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *