Waspadai Dunia Digital Sebagai Medium Radikalisasi

Dunia digital memegang peran penting dalam memperpanjang penyebaran mata rantai radikalisme dan terorisme di Indonesia. Hal ini terlihat jelas dalam catatan sejarah pengeboman yang terjadi di Indonesia. Aksi terorisme pertama kali terjadi pada tahun 1981 di mana pesawat garuda dibajak dan diledakkan oleh lima orang teroris. Disusul tahun 1985, pengeboman di sekitar wilayah Candi Borobudur. Jeda panjang empat tahun menunjukkan keterbatasan dalam menyebarkan paham dan ideologi radikalisme dan terorisme khususnya di Indonesia.

Ilustrasi oleh Ulwan Sulhi Zayyan

Sejak CERN (The European Organization for Nuclear Research) meluncurkan internet pada tahun 1992 ke publik, revolusi digital dimulai. Menurut Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel), penggunaan internet di Indonesia sendiri mulai marak sejak tahun 1994. Internet masuk ke Indonesia dengan Top Level Domain ID (TLD ID) primer yang dibangun di server UUNET, lalu dilanjutkan dengan domain tingkat dua (Second Level Domain). Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia adalah IPTEKnet yang terhubung ke Internet dengan kapasitas bandwidth 64 Kbps. Perkembangan fasilitas komunikasi ini turut mempermudah penyebaran konten kekerasan secara masif.

Alhasil pada tahun 2000, terjadi pengeboman di empat titik yaitu di Kedubes Filipina, Kedubes Malaysia, Bursa Efek Jakarta dan serangkaian bom malam Natal yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Tahun ini menjadi awal perkembangan pesat radikalisasi dan terorisme di Indonesia. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2019, tidak ada satu tahun jeda antara aksi terorisme yang satu dengan yang lainnya. Setiap tahun berita terorisme selalu mengisi media-media Indonesia. Terorisme di Indonesia dilakukan oleh kelompok militan Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan Al-Qaeda yang sekarang menjadi ISIS ataupun kelompok militan yang menggunakan ideologi yang sama dengan mereka. 

Kasus-kasus pengeboman di Indonesia sendiri tidak hanya karena kontak langsung dengan organisasi tersebut tetapi juga karena terpapar oleh berbagai bacaan dan video yang tersebar di dunia maya. Dengan mudah penduduk internet bisa menonton tutorial perakitan bom menggunakan alat-alat sederhana di you tube dan media social. Aksi pengeboman di Indonesia semakin sering dilakukan oleh pemuda dengan usia sangat produktif. Seperti pengeboman menjelang Idul Fitri tahun ini, dilakukan oleh pemuda berumur 22 tahun berinisial RA. Ia  terpapar paham radikal ISIS dan mencoba untuk merakit bom dengan modal internet sebagai referensi. Pada tahun 2016, remaja yang baru lulus sekolah menengah atas berumur 18 tahun dengan inisial IAH melakukan aksi  teror gereja di Medan. Ia belajar merakit bom melalui media sosial.

Aksi-aksi terorisme ini merupakan akumulasi berbagai faktor, tidak hanya karena alasan psikologis, konflik etnik, agama, ketidak adilan politik dan kemiskinan, tekanan modernisasi dan akses informasi yang tidak terkontrol juga menjadi rangkaian penyebab seseorang bisa dengan mudah terpapar paham radikalisme dan melakukan tindakan terorisme.

Terlepas dari manfaatnya, dunia digital adalah rumah dan medium utama untuk penyebaran paham radikalisme dan terorisme, sebagai penduduk digital yang baik, memantau penggunaan internet orang-orang terdekat adalah salah satu cara untuk mencegah radikalisme. Pendidik dan sekolah diharapkan menjadi tempat untuk mengenal dan mempelajar dunia digital dan ruang untuk terus meningkatkan literasi digital sehingga siswa memiliki keterampilan yang baik dalam memanfaatkan akses yang tersedia. Selain itu, Platform-platform social media dan online channel harus lebih ketat terhadap konten-konten yang sifatnya radikal dan berbau terorisme.

Please follow and like us:

2 thoughts on “Waspadai Dunia Digital Sebagai Medium Radikalisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *