Tue. Oct 15th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Perang Topat Simbol Perdamaian Umat di Lombok

3 min read

Perang selalu identik dengan sesuatu yang buruk dan fatal. Permusuhan, pertikaian, senjata, korban jiwa dan pertumpahan darah menjadi hal lumrah dalam sebuah peperangan. Sejarah membuktikan bahwa perang menjadi titik akhir bagi mereka yang bersengketa kepentingan. Arti kata perang kemudian sangat jauh dengan perdamaian.

Definisi ini berbanding terbalik dengan tradisi perang yang dilakukan di Lombok.  Tradisi ini adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat Lombok untuk menjaga kerukunan dan persatuan umat. Masyarakat Lombok menyebut perang perdamaian ini “Perang Topat”.  Kata topat berasal dari kata “taufat” yang diserap dari Bahasa Arab yakni tau berarti “orang “ dan fat artinya “menang.” Secara sederhana dapat diartikan orang-orang yang menang.

Hingga hari ini Perang Topat masih dipertahankan masyarakat Lombok sebagai bukti nyata bahwa sejak dulu masyarakat Lombok menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, toleransi dan persatuan antar-umat.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Mengapa Perang Topat kemudian hadir sebagai simbol perdamaian umat Hindhu dan Islam di Lombok?

Perang Topat merupakan rangkaian upacara pujawali yakni untuk memperingati dan mengenang K.H Abdul Malik  sebagai penyiar agama Islam di Lombok tepatnya di daerah Lingsar, Lombok Barat. Masyarakat Lombok percaya bahwa di masa lalu Lingsar merupakan tanah yang kering dan tandus dan berkat Kiyai Malik daerah tersebut berubah menjadi sangat subur.

Kiyai Malik berkhalawat semalam suntuk  pada tanggal 15 bulan Qamariyah, sasi kapitu (bulan ketujuh) kalender Sasak. Esok harinya menjelang salat Ashar beliau bangun dan berjalan menuju sebuah bukit dengan memegang sebuah tongkat ditangannya, beliau kemudian berhenti di sebuah pohon Waru dengan mengucapkan doa beliau menancapkan tongkat tersebut ke tanah tongkat tersebut kemudian dicabut dan mengeluarkan air yang sangat deras hingga terdengar sangat jauh bersamaan dengan gugurnya bunga-bunga pohon Waru. Peristiwa ini disebut dengan Rarak Kembang Waru. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati masyarakat Lombok setiap bulan ketujuh kalender Sasak dan bertepatan sekitar November dan Desember dengan melakukan Perang Topat untuk memperingati Khaul KH. Abdul Malik. Tidak heran jika sampai hari ini Lingsar amat sangat terkenal dengan kesuburan tanah dan airnya yang melimpah ruah subur metandur dalam bahasa Sasak.

Rasa syukur kepada Tuhan atas tanah dan air yang melimpah adalah kesamaan mendasar yang mempererat hubungan kedua umat beragama ini dan terus mendorong mereka untuk memelihara toleransi dan kebersamaan. Terlebih lagi Hindhu dikenal dengan sebutan agama air (Tirta) di mana air adalah lambang kehidupan. Alhasil kedua umat beragama ini merayakan Perang Topat bersama-sama.

Perang Topat dilaksanakan di Pura Gaduh dan Kemalik yang saling berdampingan dan berada dalam satu komplek di Lingsar. Kemalik merupakan tempat umat Sasak- Muslim melakukan peribadatan dan Pura Gaduh tempat umat Hindhu sembahyang. Pura ini dibagun pada tahun 1759 sebagai hasil dari kesepakatan kedua umat beragama yang tinggal di Lingsar.

Untuk melaksanakan Perang Topat membutuhkan berbagai perangkat sakral seperti bunga setaman, Rombong (lumbung kecil), Sesaji (sesajen), Kebon Udik (Kebun Mini), Lamak, Momot, Kerbau Jantan dan Ketupat. Perangkat ini kemudian digunakan untuk melakukan napak tilas KH. Abdul Malik mengelilingi Pulau Gaduh dan Kemalik. Salah satu hal yang menarik adalah hewan yang digunakan adalah Kerbau Jantan bukan babi dengan tujuan untuk menghormati umat Muslim dan tidak menggunakan Sapi karena hewan tersebut suci dan merupakan lambang ibu bagi umat Hidhu. Inilah kemudian yang menjadikan Lebaran Topat sarat akan makna persatuan antar umat di Lombok.

Ketupat yang digunakan untuk beperang berasal dari sumbangan para petani di desa sekitar Lingsar dan setelah perang selesai topat-topat yang telah digunakan dibuang ke sawah-sawah yang kemudian sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebuah tradisi turun-menurun telah mengajarkan untuk bersatu dan mejauhi konflik dan peperangan dan semoga tradisi ini dapat terus dipertahankan hingga generasi selanjutnya.

Please follow and like us:

3 thoughts on “Perang Topat Simbol Perdamaian Umat di Lombok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Supported by PMD & BNPT.