Cyber Bullying di Era Digital Semakin Memprihatinkan

Akses tanpa batas yang memberikan kesempatan kepada pengguna internet untuk menemukan dan berkomunikasi dengan orang yang pernah ditemui atau belum pernah ditemui melalui saran alogaritma telah menciptakan kelompok-kelompok yang memiliki persamaan dan kelompok-kelompok yang berlawanan.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Gesekan antar kelompok dan kepentingan merambat menjadi konflik pribadi dan diakhiri dengan perang kata menggunakan hinaan dan hate speech atau ujaran kebencian. Kedua kubu tidak segan-segan menciptakan hoaks untuk menyerang satu sama lain. Pun hal yang sama terjadi dengan konflik pribadi yang diangkat ke media social. Konflik pribadi menimbulkan perpecahan yang meluas dan menyebabkan terebentuknya dua kelompok yang saling berlawanan.

Salah satu contoh kasus pribadi yang masih menjadi perang di media adalah permasalah Luna Maya dan penyanyi Syahrini karena laki-laki berdarah Jepang Indonesia. Konflik pribadi kedua selebriti ini membuat pengguna internet saling menghina dan melecehkan satu sama lain. Konflik pribadi, perbedaan pandangan politik, perbedaan agama, ideologi, suku dan perbedaan-perbedaan lainnya sering dijadikan alasan untuk mengeluarkan ujaran kebencian di socmed. Dalam dunia digital pembuli biasanya dikenal dengan sebutan haters. Prilaku kekerasan yang dilakukan melaui teknologi seperti media social, email, pesan singkat, youtube dan berbagai online platform lainnya disebut Cyber Bullying. Kekerasan ini bisa terjadi dalam bentuk ancaman, hinaan dan pelecehan.

Eka Nugraha Putra, penelitian tentang Hukum Siber (2016 dan 2017) menyatakan bahwa definisi cyber bullying sendiri belum bisa dipahami secara baik di mata hukum yang berlaku di Indonesia. Kasus cyber bullying sering dianggap sebagai pencemaran nama baik. Penerima beasiswa Fulbright ini juga memberikan contoh kasus artis Ussy Sulistiawati yang melaporkan penghinaan terhadap wajah dan bentuk tubuh anaknya dengan laporan pencemaran nama baik.

Cyber Bullying semakin memprihatikan karena pengguna yang umumnya remaja cenderung mengumbar masalah pribadi mereka pada akun social media dari pada menceritakannya langsung kepada guru bimbingan konseling di sekolah atau membaginya dengan orang tua di rumah. Parahnya, mereka sering kali tidak mengatur akun mereka dalam kondisi private setting sehingga postingan mereka bisa dibaca oleh semua orang yang bahkan tidak terdaftar dalam friend list mereka. Alhasil, semua orang bisa menulis komentar pada kolom yang tersedia.

Survey dunia yang dilakukan oleh i-SAFE America yang melibatkan lebih dari 63.000 anak kelas 5-kelas 8 menunjukkan bahwa 30% dari mereka menggunakan kata-kata kasar kepada orang lain secara online, 3% mengakui melakukannya sering sekali, 37% melaporkan bahwa ujaran kebencian pernah ditujukan kepada mereka dan 9% dari mereka merasa terganggu dan terancam. Di Indonesia sendiri Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan jumlah angka korban bullying mencapai 22.4%. Hal ini dipicu oleh tingginya konsumsi internet pada anak-anak.

Awal 2019, Indonesia dikejutkan dengan berbagai rentetan video viral yang menayangkan berbagai jenis bullying. Bullying yang dilakukan oleh senior kepada murid atau mahasiswa baru, dan dilakukan oleh murid-murid kepada gurunya hingga tewas dan siswa lain menertawakan dan merekamnya. Kejadian ini adalah gambaran prilaku negatif dan penggunaan media yang buruk.

Oleh karena itu, generasi muda harus diselamatkan, literasi digital harus diperkuat sejak dini, rumah dan sekolah diharapkan bisa menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar menggunakan sumber-sumber online sesuai dengan kebutuhan. Literasi wajib dimantapkan terlebih dahulu sebelum anak masuk ke dalam dunia digital. Untuk orang tua dan guru, terus mengikuti kemajuan teknologi adalah salah satu cara untuk dapat membantu anak menggunakan sumber-sumber online dengan bijaksana.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *