Tue. Oct 15th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Apakah Sinetron Religi Mendidik Anak?

3 min read

Akhir-akhir ini sinetron religi bertajuk azab dan siksa kubur di stasiun televisi lokal menjadi konsumsi harian masyarakat Indonesia. Konsumen sinema elektronik alias sinetron ini tidak hanya dinikmati oleh orang dewasa, tetapi juga remaja, dan bahkan anak-anak yang sedang duduk di bangku sekolah dasar tidak mau ketinggalan. Berbagai tayangan kekerasan secara verbal maupun tindakan dalam sinetron religi tersebut kurang pantas digunakan dalam menyampaikan pesan positif kepada khalayak, apalagi kepada anak-anak di bawah umur. Alih-alih ingin menyampaikan pesan positif malah menimbulkan dampak negatif.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Mengapa sinetron religi bisa berdampak negatif, kan religi?

Sinetron bertema azab dan siksa kubur tersebut memuat suara (audio) dan gambar (visual) dalam bentuk kekerasan. Beberapa adegan secara jelas menampilkan dialog yang senonoh dan kurang sopan untuk didengar dan dilihat.

Berdasarkan hasil peneltian yang dilakukan oleh Buss dan Duntley menunjukkan bahwa orang yang memiliki intensitas tinggi menonton adegan kekerasan di televisi, lebih sering bertindak anarki ketimbang mereka yang jarang menonton adegan kekerasan. Selanjutnya, Dawyer seorang television expert menyatakan bahwa penonton mampu mengingat 50% isi atau substansi yang ditampilkan satu kali oleh televisi. Bahayanya lagi, data dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia memaparkan bahwa anak-anak menghabiskan waktu menonton televise selama 30-25 jam dalam seminggu. Artinya, rata-rata mereka menggunakan 4 jam dalam sehari untuk menonton program televisi.

Jadi bisa dibayangkan jika anak-anak di bawah umur terus-menerus menonton sinetron bertajuk azab dan siksa kubur setiap hari. Bagaimana nasib generasi bangsa kita? Peran televisi sebagai media edukasi dan informasi diabaikan oleh sinetron religi. Niat pembuat sinetron yang bermaksud membangun pribadi menjadi lebih baik justru berdampak sebaliknya karena percakapan verbal non-edukatif jadi makanan sehari-hari. Khawatirnya, anak-anak jadi brutal dan melakukan tindak kekerasan akibat meniru apa yang mereka tonton di layar kaca.

Kejadian serupa terjadi pada salah satu teman saya. Pernah sesekali ia memergoki adiknya yang berumur 8 tahun sedang asik nonton bareng bersama ibu dan bapaknya di ruang keluarga. Dengan volume kerassinetron religi bertuliskan “azab” dengan huruf besar terpampang nyata disaksikan teman saya waktu itu. “Dek, kenapa suka nonton sinetron kayak gitu? serem tau.” Sontak adiknya menyanggah, “Itu bagus kak. Biar orang-orang kafir itu tau rasa. Biar tobat, biar ngk ada lagi orang-orang kafir di dunia ini.

Melihat ekspresi teman saya yang terheran-heran bercampur sedih ketika menceritakan ulang kejadian yang menimpanya, jiwa empati saya tergerak. Saya menyarankan teman saya untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama adiknya misalnya dengan mengajak adiknya pergi ke tempat-tempat wisata atau tempat ibadah berbagai agama untuk mempelajari keberagaman Indonesia. Selain itu, carilah totonan atau video-video edukasi yang menyenangkan dan mendukung perkembangan anak serta turut mengkontrol tontonan adik dan keluarganya.

Kontrol dan arahan orang tua atau orang terdekat sesungguhnya bukan harapan satu-satunya bagi keselamatan anak dari serangan radikalisme. Pemerintah seharusnya punya strategi sendiri agar tayangan-tayangan di televisi Indonesia bisa mendidik anak bangsa. Kalau memang tidak bisa dihapus, setidaknya tanyangan bisa difilter. Anak kecil harusnya tidak menjadi sasaran paham-paham yang bisa merusak masa depan mereka. Jika mental dan prilaku generasi bangsa rusak, negara juga akan rusak. Jadi, jauhkan anak-anak dari sinetron azab dan siksa kubur yang bisa mengeraskan hati dan tindakan mereka.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Supported by PMD & BNPT.