17 Agustus Pererat Persatuan, Teruskan Perjuangan

Siapakah di antara kita yang rela Indonesia tercerai berai? Tentu tidak satupun. Jika pada zaman perjuangan awal perjuangan dimulai dengan kesukuan, terus-menerus digerakkan, namun ternyata itu tak cukup mampu untuk mengusir penjajah yang menduduki wilayah nusantara kala itu. Lalu kita juga sama-sama tahu bahwa akhirnya yang menjadikan Indonesia berhasil merebut kemerdekaan adalah persatuan yang dibentuk oleh gerakan-gerakan kesukuan tadi menjadi satu Indonesia. Barulah penjajahan dapat ditaklukan. Ibarat lidi yang mudah dipatahkan satu persatu,namun jika semuanya disatukan dengan ikatan, semakin dekat kerapatan, semakin sulit untuk dipatahkan.

Ilustrasi oleh Ulwan S. Z,

Mari mengingat kembali kejadian beberapa tahun belakangan ini. Begitu banyak perpecahan dan perseteruan terjadi, yang oleh orang-orang tak bertanggung jawab di framing sebagai gerakan-gerakan ‘kesukuan’, ‘keagamaan’, dan gerakan-gerakan yang sifatnya mengatas namakan kepentingan kelompok tertentu ataupun pribadi. Ini bermula dari social media yang dimanfaatkan untuk menebarkan kebencian dan propaganda melalui media video, tulisan, ataupun gambar, dan yang lebih kekinian menggunakan meme. Pola seperti ini terus-menerus dilakukan, dengan memanfaatkan keawaman netizen secara tidak langsung, akhirnya orang-orang pun mengiyakan bahwa perbedaan suku, ras, dan agama itu menjadi masalah besar. Padahal secara tidak sadar kita sedang memecah belah diri sendiri.

Puncaknya pada pemilu tahun 2019. Berbagai narasi kebencian mulai dihembuskan dan dipergunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Perpecahan terjadi di mana-mana. Pemilu ini tidak hanya membunuh ratusan nyawa anggota KPPS tetapi juga berujung demo besar dan kerusuhan yang mengakibatkan kerugian bagi rakyat. Imbasnya sampai hari ini masih saja orang-orang berseteru dengan berbagai pelabelan yang melekat pada masing-masing pendukung. Narasi identitas yang begitu kental masih bertahan. Benar kata bung Karno bahwa perjuangannya lebih mudah karena melawan penjajahan, tetapi kita sedang melawan bangsa sendiri—menenun permusuhan.

Kasus lain yang paling sering kita temui adalah ribut-ribut soal keyakinann perbedaan cara ibadah, pembangunan tempat ibadah, rasanya hal-hal seperti itu amat cepat memnimbulkan perpecahan di antara kita baik antar agama maupun secara internal, dalam satu agama itu sendiri. Perkelahian, baku hantam, hingga kerusuhan berakhir dengan pembakaran ataupun pengrusakan terhadap asset dan sesama rakyat Indonesia yang merugikan semua pihak. Tidak jarang kerusuhan ini mengorbankan banyak nyawa.

Melihat sesama sebagai ‘manusia’ itu penting. Hal ini merupakan akar dari toleransi yang harus ditanamkan sedini mungkin dalam benak anak-anak, pemuda dan pemudi Indonesia sebagai penerus generasi bangsa. Pemahaman dan kesadaran ini akan mendorong kita untuk saling menerima, bersimpati dan tentunya akan mempermudah kita untuk bekerja sama dalam membangun Indonesia baik secara fisik maupun secara mental.

Kita, sebagai manusia mesti menyadari bahwa kita memiliki hak yang sama untuk tinggal dan berkeyakinan di negara ini. Sebabnya kita sebagai rakyat yang beragam mesti melihat sesama sebagai manusia terlebih dahulu. Sehingga sekiranya jika melihat ketimpangan tidak serta-merta ditindak dengan kekerasan. Mungkin kita masih bisa berbicara sambil ngopi ataupun sharing sebatang rokok di pojok-pojok warung sana. Mendamaikan bukan? Mari menjadikan momen 74 tahun ini untuk mempererat persatuan dan meneruskan perjuangan dengan terus berkarya, melahirkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif demi Indonesia yang lebih maju dan damai. Hai kaum muda, menjaga kedamaian jangan sampai berhenti di kamu! yuk sebarkan.  

Please follow and like us:

One thought on “17 Agustus Pererat Persatuan, Teruskan Perjuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *