Pemilu, Identitas Hingga Kasus Papua dan Sosial Media

Seperti tak ada usainya polemik perbedaan yang mendera bangsa kita. Panasnya dimulai sejak pemilu Jakarta. Pada masa itu kita beramai-ramai mengutuk perbuatan mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purmana atau yang lebih dikenal dengan Ahok yang terjerat dugaan kasus penistaan agama. Bermula ketika beredarnya sebuah video di linimasa sosial media yang berisi penggalan pidato kampanye Ahok yang berlangsung di kepulauan seribu di mana ia menyebut surat Al-Maidah ayat 51, sebagai responnya atas narasi larangan memilih peminpim kafir yang sebelumnya juga viral di sosial media. Video ini lantas memicu kemarahan umat islam.  Polemik ini pun memantik reaksi yang cukup besar, hingga demosntrasi pun pecah di mana_mana.

Kita bisa bayangkan betapa dahsyatnya efek dari sebuah postingan di linimasa sosial media kita. Sebab kasus di atas ternyata tak berhenti sampai di situ saja. Meski Ahok sudah selesai  menjalani masa hukuman, buntut dari kasus ini masih  berlangsung. Narasi identitas yang mulai berkembang, perpecahan dalam tubuh masyarakat. Tak saling tegur sapa sebagai mantan pendukung pun masih terjadi.

Tak sampai disitu, narasi identitas ini makin menguat ketika memasuki pemilu 2019. Masyarakat Indonesia mulai terbelah menjadi dua kubu dengan pelabelan ‘cebong’ dan ‘kampret’. Cukup na’as memang.  Polarisasi masyarakat ke dalam dua kubu ini disebut-sebut sangat berbahaya. Sebab kita di Indonesia memang memiliki catatan kelam persoalan konflik yang terjadi akibat latar belakang perbedaan identitas. Kondisi ini diperparah lagi oleh masifnya masyarakat indinesia mengkonsumsi ‘hoaks’ yang lagi-lagi sumbernya adalah sosial media kita. Terbukti berbagai kericuhan muncul sejak pemilu dimulai hingga pemungutan suara serta penetapan presiden usai.

Lantas apakah sampai di situ saja? sayangnya tidak. Polarisasi masih berlangsung hingga saat ini ditengah-tengah kita. Jika sebelumnya melabeli diri dengan sebutan ‘cebong’ atau ‘kampret’— hingga kini masih, berikutnya adalah pelabelan soal siapa paling Indonesia. Perdebatan terus berlangsung, masyarakat  mulai kebingungan, sebab identitas luhurnya dipertanyakan. Kurang rasa saling percaya, dibuai curiga. Kita saling menuduh satu sama lain. Kita lupa bahwa pertiwi sedang dikoyak batinnya.

Ilustrasi Oleh Ulwan S.Z.

Lantas berikutnya apa ? ya Papua. Semua bermula dari sebuah postingan di sosial media, soal bendera tercinta yang diturunkan dari singgasananya, bahkan hingga dibuang ke parit dekat asrama. Belum jelas siapa pelakunya, bermodal postingan sosial media sebuah ormas melakukan pengepungan terhadap kawan-kawan papua di asrama Surabaya. Tentu saja hal ini tak berhenti juga hanya sampai disitu. Ketika proses demonstrasi berlangsung, ada tindakan-tindakan rasialisme yang dilakukan terhadap kawan-kawan mahasiswa Papua. Selepas itu perpecahanpun terbuak di mana-mana, terutama di tanah Papua. Mereka merasa dilukai harga dirinya. Lalu semua sosial mediapun beralih bicara soal Papua, sebab Papua kecewa dan bahkan ada wacana ‘minta merdeka’. Tetapi apakah penyebab dari meletusnya kasus ini sudah terpecahkan? ya siapa pelaku yang menurunkan bendera Indonesia dari singgasananya? sayangnya tak ada kabar beritanya hingga kini.

            Lalu apa yang bisa kita tangkap dari persoalan-persoalan tersebut? Kita lupa bahwa sosial media tak selalu mencerminkan kenyataan. Sebab kita sama-sama tahu bahwa sosial media kini tak hanya untuk jalan menjadi sosialita saja, tetapi ruang untuk menebar fitnah dan propaganda. Sebabnya jangan lupa untuk menerapkan “Saring sebelum Sharing” agar kita bisa menyelesaikan permasalah dengan sebuah solusi, tanpa mengundang permasalahan lainnya. Apalagi sampai melukai harga diri atau bahkan identitas kita bersama. Atau semestinya kita bisa menerima jika kita berbeda tanpa harus saling mencela. Kita masih satu Indonesia bukan?

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *