Kreatif Sebar Konten Positif

Krisis toleransi di kalangan pemuda kian meresahkan masyarakat, terutama warganet alias netizen. Konten-konten negatif berupa tulisan, video dan gambar semakin merajalela di media sosial. Konten berbasis agama radikal menyebar dan menjadi trend millennial. Keberagaman dalam kebhinekaan tidak dipandang sebagai hal positif. Ketika dihadapkan dengan diversity issues, kalangan millennial mengganggap hal tersebut sebagai ancaman. Dalam pikiran mereka, pancasila menjadi penentang syariat, padahal pemersatu bangsa.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Dr. Faisal menyebutkan generasi millennial yang sebenarnya disebut saat ini di Indonesia adalah generasi yang ketika masa 98 masih berusia 10 tahunan ke bawah. Artinya, tumbuh dan kembangnya generasi ini berada pada reformasi. Faisal menambahkan pada era orde lama (Soekarno), pemuda yang sedang gencar di organisasi masyarakat Sarikat Islam, dan lain-lain memiliki nuansa kebangsaan yang tinggi. Mereka sibuk dengan project kebangsaan. Ketika memasuki orde baru (era Soeharto), mulai terbentuk organisasi Islam besar seperti NU, NW, Muhammadyah dan lainnya. Di era ini, pemuda mulai membicarakan diri sendiri di kota masing-masing. Fenomena demikian merupakan impact reformasi terhadap suatu generasi.

Data dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama The Wahid Institute pada tahun 2016 menunjukkan potensi bahwa krawanan intoleransi di Indonesia tergolong masih sangat memprihatinkan. Sejalan dengan peneliti Puslitjakdikbud, Kemendikbud, Nur Berlian pada 2017 lalu mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya masih ada sikap atau persepsi remaja yang tidak sesuai dengan nilai-nilai nasionalis. Sikap tersebut antara lain 8,5% setuju dasar negara diganti dengan agama, dan 7,2% setuju (eksistensi) gerakan ISIS.

Data-data di atas terealisasi dalam konten-konten video dakwah oleh para pendakwah radikal. Mereka mengemas substansi dakwah sehingga bisa diserap bahkan diterapkan oleh kalangan millennial Indonesia. Strategi marketing sesuai gaya anak muda zaman now membuat konten-konten radikal berbalut keagamaan semakin diminati. Dakwah anti-nasionalis disuarakan hingga ke penjuru nusantara via media sosial. The power of share, comment, like dan aminkan dari kalangan pemuda membuat konten-konten kekerasan makin viral. Luar biasa memang!

Begitu cepatnya konten-konten radikal menyebar di media sosial, lalu kenapa konten positif tidak? Saya pribadi tidak pernah menemukan konten berbau nasionalis diviralkan di media sosial. Sangat jarang juga teman-teman saya yang share tulisan, video dan gambar anti-radikal. Sebagian besar menebarkan hal-hal yang tidak mengenakkan seperti berita hoax, radikalisme hingga terorisme. Semua itu memang tidak terlihat negatif, namun jika dianalisis dan diamati akan terlihat jelas bahwa konten-konten tersebut mengarahkan penikmatnya ke arah yang salah.

Pembuatan konten kontra-narasi seharusnya lebih dikicaukan lagi. Sebagai penetralisir, produksi konten positif sebaiknya menggunakan pendekatan yang sesuai dengan konsumennya. Jika skema pemasaran konten sudah tepat, maka penyebarluasan akan lebih cepat. Kalau konten negatif aja viral kenapa konten positif enggak? Salam Damai.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *