Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Pendidikan Sebagai Jalur Utama Penyebar Perdamaian

2 min read

Perdamaian tidak bisa lepas dari pendidikan karena pendidikan adalah jalan utama penyampaian nilai-nilai luhur damai itu sendiri. Seperti ungkapan Freire,  “Education is a process of making aware toward the system and structure that ward off the human issues.” Pendidikan adalah proses penyadaran terhadap sistem dan struktur yang menepi persoalan kemanusiaan. Perdamaian termasuk dalam persoalan tersebut. Namun sebagian pendidik mengabaikan perihal perdamaian untuk siswanya. Padahal lembaga pendidikan merupakan tempat efektif penanaman elemen perdamaian sedini mungkin.  

Ilustrasi oleh Ulwan S.Z.

Hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) tahun 2018 membuktikan 63.07 persen guru memiliki pandangan intoleran pada pemeluk agama lain. Bukan hanya itu, sebanyak 58,5 persen responden siswa memiliki opini keagamaan radikal. Data tersebut mengindikasikan sikap seorang pendidik berpangaruh besar terhadap perkembangan muridnya, baik dalam segi sikap maupun tingkah laku. JIka guru menyalurkan paham radikal, maka otomatis muridnya juga terpapar radikal.

Terpaparnya seorang murid oleh paham radikal juga disebabkan karena transfer ilmu pengetahuan tanpa kajian dan saringan dari guru ke murid. Dalam artian guru berperan sebagai aktor. Seseorang cenderung mengikuti attitude dan cara berbicara tokoh teladan atau idolanya. Jika guru-guru memberi pemahaman radikal dengan pola komunikasi anti-toleran, maka secara tidak langsung siswa-siswanya akan mengikuti pola yang sama. Begitu pun sebaliknya.  

Tidak selamanya pola komunikasi di sekolah atau lembaga pendidikan tertentu bersifat positif. Ternyata ada warna komunikasi yang berpangkal pada perbuatan negatif, seperti tidak menyampaikan perihal yang berkaitan dengan keberagaman agama, suku, etnis dan ras sedini mungkin. Bahkan ada pendidik yang sampai menimbun paham radikal kepada siswa-siswanya.

Pendidikan merupakan salah satu langkah preventif dalam menyelesaikan konflik. Selain itu, pendidikan menduduki posisi utama sebagai perangkat memperkuat perdamaian. Hal demikian sejajar dengan kapasitas lembaga pendidikan yang bertugas memupuk dan mengintensifkan cinta tanah air, mengobarkan api kebangsaan, dan loyalitas sosial.

Interaksi sosial atau feedback antar guru dan siswa mampu menjadi sarana penyampaian unsur-unsur kerukunan sejak dini. Pendidik di sekolah atau madrasah memperkenalkan keberagaman kepada siswa-siswinya. Bila perlu pada saat awal mereka masuk di sekolah atau madrasah tersebut. Hal tersebut akan sangat berguna sebagai modal awal pengembangan sikap toleransi masa depan. Di sisi lain, orientasi diversity  mampu meluaskan cakrawala berpikir anak didik. Tidak hanya mengenal agama, suku, rasa atau etnis pribadi saja serta dapat memahami apa itu Indonesia.

Kalau komponen perdamaian tidak mampu dimasukkan dalam kurikulum, setidaknya ciptakan lingkungan pendidikan yang damai, tanpa kekerasan dan interaksi berbau intoleransi. Semua komponen dalam institusi pendidikan bisa berkolaborasi membangun misi perdamaian tanpa henti. Semuanya bisa terwujud jika dilakukan sepenuh hati.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.