Peringatan Hari Santri dan Ciri Keislaman Yang Seringkali Disalah Arti

Memperingati hari santri nasional tentu membangkitkan kerinduan bagi yang pernah merasakan fase pendidikan yang disebut ‘nyantri’. Baik yang ‘nyantri’ sejak jenjang SD ataupun yang ‘nyantri’ setelah masuk kuliah atau bahkan pasca menikah sekalipun—ada pesantren khusus untuk orang yang berkeluarga.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Namun lika-liku kehidupan ‘persantrian’ tak hanya soal serunya mengantri mandi, makan bersama, atau prosesi menghafal dengan bumbu-bumbu  bolos sesekali—ini bocoran cerita dari teman yang pernah nyantri. Ada banyak problema yang akhirnya muncul setelah maraknya ciri keislaman yang diidentikkan dengan faham radikal dan intoleran. Contoh saja kasus salah faham pada bulan Mei 2018 lalu, beredar sebuah video salah faham antara aparat kepolisian yang menuduh seorang yang mengaku dirinya ‘santri’ sebagai seorang teroris. Hal itu tak serta merta terjadi, sebab kala itu pengeboman di tiga gereja di suarabaya akhirnya membuat semua lini masyrakat merasa waspada, pun terhadap si santri yang dicap teroris disebabkan  oleh pelaku pengeboman sebelumnya menunjukkan ciri pakaian yang sama dengan yang digunakan oleh si santri. Akhirnya masyarakat pun membuat sebuah kesimpulan, jika berkopiyah, berjubah, bercadar, berjenggot, disama artikan dengan orang yang berfaham radikal.

Ini agak melukai hati saya tatkala hal tersebut mulai menjamur di daerah-daerah. Penulis sendiri pernah mendapati statemen dari orang tua sendiri untuk tak usah menggunakan baju-baju besar—gamis, ataupun berkerudung besar. Selain itu dilarang mengikuti kajian-kajian dan berteman dengan orang-orang yang bercadar. “nanti kamu jadi Wahabi” ungkap orang tua. Atau lebih ekstrim lagi akan disebut sebagai penganut ajaran sesat dan ataupun disebut sebagai bakal calon teroris. Bahkan seorang kawan yang saya temui di kampus, selalu lari terbirit-birit apabila melihat wanita bercadar, ini agak akut.

Agak dilema memang antara rasa ingin kita belajar tentang agama dengan sebaik-baiknya, namun ada oknum yang kadang memiliki misi untuk memasukkan faham radikal di sekitar kita. Ini bukan hanya asumsi sebab penulis sendiri pernah masuk ke dalam lingkungan yang dikatakan demikian. Awal mulanya diundang untuk kajian-kajian keagaman, tetapi berakhir dengan pemahaman untuk mengajak tak menghormati simbol negara karena dianggap tak sesuai dengan Islam. Namun persoalan itu tentu tak akan ada habisnya jika akhirnya kita hadapi dengan main curiga-curigaan. Selayaknya dalam sebuah hubungan kekasih misalnya curiga-curigaan ini akhirnya nanti akan menimbulkan perpecahan dan berakhir perpisahan—malang nian.

Nah yang mesti jadi tujuan kita bersama akhirnya mencari solusi agar tak saling salah faham. Dimulai dari menumbuhkan kembali rasa cinta dan memilih melihat sesama sebagai manusia terlebih dahulu. Sebab bagi saya tak masalah untuk menimba ilmu agama untuk bekal kerohanian masing-masing penganut. Pun yang ingin menyampaikan rasa taatnya dengan berpakaian yang syar’i ataupun tidak adalah pilihan. tetapi mesti dibarengi dengan sebuah wawasan tentang kebangsaan yang juga menimbulkan cinta terhadap tanah air dan orang-orang yang ada di dalamnya. Sebab menyampaikan pemahaman dengan cinta dan kasih serta kedamain tentu lebih memikat rasa empati dan berujung saling mencintai tentunya lebih tepat dilakukan.

Kemudian cara menyemai cinta tadi semestinya bisa mereduksi pandangan-pandangan miring dan anti terhadap ciri keislaman. Saya pun melihat fenomena nyantri ala masa kini yang makin terbuka dengan teknologi dan menebarkan banyak cinta melalui video-video inspiratif membuat saya merasa masih memiliki harapan untuk persatuan Indonesia ke depan. Sebab apapun yang sekiranya disampaikan dengan cinta dan kasih tentu hasilnya lebih baik, seumpama mendidik anak-anak yang akan meneruskan Indonesia di masa depan. Seperti yang diserukan oleh ulama kita K.H. Hasyim Asy’ari bahwa, mencintai negara juga bagian dari iman—hubbul whaton minal iman.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *