Memaknai Sumpah Pemuda dalam Diskusi Damai

Duta Damai NTB kembali membuat event seru untuk merayakan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019. Kali ini squad Duta Damai NTB mengadakan diskusi bertema “Literasi Keberagaman untuk Perdamaian” Acara ini bertujuan menginspirasi anak-anak muda khususunya sekitaran Mataram untuk turut serta menjaga perdamaian baik di jagat maya maupun nyata dengan terus menyuarakan toleransi dalam bingkai Indonesia yang heterogen. Melalui literasi generasi muda NTB diharapkan mampu memaknai lebih dalam sebuah perbedaan sehingga tidak ada lagi sentimen rasisme, berita kebohongan, eksklusifitas hingga pemikiran radikal yang berakhir dengan tindakan teror-teror kejam yang memakan korban jiwa.

“Wawasan keberagaman sangat esensial demikian halnya di bidang literasi, kajian keberagaman penting untuk terus didiskusikan untuk memupuk kemanusiaan masyarakat untuk menerima perbedaan antar sesamanya dan generasi muda harus memiliki literasi yang kuat.” Sambutan Abdul Rajab selaku ketua panitia.

Acara ini Menghadirkan tiga pembicara dari berbagai latar belakang yang berbeda. Dari jurnalis kenamaan NTB Fathul Rakhman, akademisi UIN Mataram Achmad Aprillah hingga sastrawan muda penuh berprestasi Akar Pohon, Kiki Sulystio.

“Saya mengusulkan kepada teman-teman Duta Damai bisa menjadi pelopor untuk melakukan cek fakta terhadap isu-isu yang berkembang di NTB dan harus melakukan kajian Analisa dan menjelaskan kepada masyarakat duduk perkara sebuah isu, kedua melakukan narasi tandingan dengan membuat kontra narasi terhadap kelompok-kelompok intoleran dan ketiga melakukan kerja sama serta berkolaborasi dengan media lokal NTB dalam mengkreasikan konten yang tepat untuk pesan-pesan perdamaian.”   

Ungkap Fathul, seorang junalis yang juga aktif bergerak dalam membangun literasi NTB di pedalaman.

Dalam diskusi santai ini, Achmad juga memberi gambaran tentang pentingnya persatuan global sebagai bagian dari kehidupan sebagai ekepresi nasionalisme.

Kiki menambahkan urgensi sastra perdamaian untuk terus digaungkan karna sastra bekerja pada titik dimana kekerasan dialami secara langsung. Sastra itu pasif karna berbentuk tulisan dan sebaik-baik karya sastra tanpa pembaca tidak akan memiliki pengaruh sama sekali.

Acara ini dihadiri lebih dari 50 pemuda dari berbagai organisasi, dimeriahkan oleh berbagai pertanyaan-pertanyaan menarik dari peserta dan berlangsung di Acibara Cafe pukul 17.00-22.00 WITA.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *