Tue. Nov 19th, 2019

Duta Damai NTB

Proudly Presented by BNPT and PMD

Mengapa Kita Memperingati Hari Santri?

3 min read

“Saat ini kita telah merdeka

Mari teruskan perjuangan ulama

Berperan aktif dengan dasar Pancasila

Nusantara tanggung jawab kita”.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Itulah sebait lagu dari mars hari santri nasional 2019 yang diperingati pada hari ini tanggal 22 oktober.  Disahkan UU Pesantren akhirnya menjadikan pesantren diakui sebagai lembaga pendidikan mainstream yang selevel dengan lembaga yang lain hal ini dinilai sebagai simbol kebangkitan santri. Peringatan hari santri sendiri ditetapkan pada 22 oktober oleh Presiden Jokowi pada tahun 2015 lalu. Mengapa hari santri? bukan hari siswa? munculnya hari santri bukanlah sembarang ada, sebab ada sejarah panjang dibalik perjuangan santri dan kiyai-kiyainya di masa lampau.

Meski fenomenal ternyata pengetahuan tentang hari santri amat terbatas diketahui oleh anak-anak pada masa kini. Hari santri bukan memperingati kita pernah nyantri, tetapi memperingati peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa kemerdekaan. Nah untuk itu mari kita merenung mengapa muncul peringatan hari santri nasional.    

Berdasarkan video arsip nasional diceritakan, saat itu, belum genap satu bulan pasca kemerdekaan indonesia tentara sekutu yang di dalamnya terdapat tentara Belanda dan Inggris selepas mundurnya penjajah jepang, datang kembali ke Indonesia untuk menduduki wilayah Indonesia. Melihat hal ini Bung Karno dan Bung Hatta memutar otak untuk mempertahankan status kemerdekaan Indonesia. Usaha pertama yang dilakukan adalah menempuh proses diplomatik guna membatasi kegiatan tentara sekutu musuh untuk bergerak di Indonesia.  Namun oleh Bung Karno dan Bung Hatta upaya ini dirasa kurang efektif dengan pertimbangan kekuatan pertahanan yang tidak sepadan. Berakhirlah dengan saran dari jenderal sudirman yang meminta bungkarno mengutus orang yang dipercaya untuk sowan ke kediaman KH Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang untuk meminta fatwa terkait hukum berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia kendati Indonesia bukanlah Negara Islam.

K.H.Hasyim Asy’ari kemudian memanggil Wahhab Hasbullah dan memintanya mengumpulkan kiyai-kiyai utama NU. Mereka diminta untuk melakukan shalat istikharah dan akhirnya melakukan musyawarah yang menghasilkan mufakat yang dikenal dengan Resolusi Jihad NU. Ada tiga point yang menjadi hasil musyawarah tersebut. Pertama, setiap muslim tua, muda, dan orang miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam membela kemerdekaan Indonesia dianggap syuhada, ketiga warga yang memihak kepada Belanda dianggap memecah belah persatuan dan oleh karena itu harus dihukum mati. Dokumen tentang Resolusi Jihad ini kemudian dibukukan dan ditulis dengan huruf Arab Jawa atau pegon yang ditandatangani oleh K.H. Hasyim Asy’ari yang kemudian disebarluaskan ke kalangan pesantren dan ulama-ulama lainnya.

Tiga hari pasca Resolusi Jihad dicetuskan, 6000 tentara sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan persenjataan lengkap. Merespon hal tersebut, ribuan santri dari Jawa Timur bergerak menuju Surabaya. Resolusi Jihad NU akhirnya memicu perjuangan rakyat yang menyebabkan Inggris kewalahan menghadapi perlawanan masyarakat Jawa Timur. Pihak Inggrispun memangggil Bung Karno untuk melakukan gencatan senjata, yang akhirnya pecah lagi disebabkan insiden kematian punggawa besarnya Jendral Malabi yang tewas di jembatan merah.  Kemudian pengganti Malabi mengultimatum rakyat Indonesia untuk menyerahkan senjata yang direbut dari dari Jepang dengan ancaman akan membumi hanguskan Surabaya. Perlawan rakyat yang diisi oleh ulama, punggawa-punggawa laskar hisbullah dan santri kemudian marah mendengar hal tersebut.

Akhirnya Bung Tomo yang saat itu ada di Surabaya melakukan sowan ke K.H. Hasyim Asy’ari untuk meminta izin menyiarkan Resolusi Jihad melalui radio. Ada yang membuat saya pribadi ingin menangis mendengar rekaman dari arsip nasional siaran radio Bung Tomo ini. Yakni seruan untuk tidak menyerah atas ancaman sekutu yang diakhiri oleh seruan takbir yang terdengar setengah ingin menangis dari suaranya yang menggelegar. Akhirnya perang pun pecah di tanah Surabaya yang diwarnai dengan gema takbir di setiap aksinya. Sekitar 60.000 jiwa santri ulama dan masyarakat Surabaya yang jatuh untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat itu.

Begitulah akhirnya untuk memperingati sejarah tersebut ditetapkanlah peringatan tentang hari santri. Pada 22 Oktober untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © Duta Damai Dunia Maya NTB | Newsphere by AF themes.