Narasi Keberagaman untuk Perdamaian

Ekspresi Nasionalisme

Otto Bauar mendefinisikan nasionalisme sebagai persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib. Sedangkan menurut KBBI, nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat nasional; kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Ilustrasi oleh Ulwan S.Z.

Dari definisi di atas, rasa nasionalisme bisa diungkapkan dengan cara yang berbeda seiring berjalannya waktu. Tak jarang, dinegasikan dengan berbagai hal. Sebelum proklamasi, nasionalisme diekspresikan sebagai semangat perlawanan atas penjajahan Belanda. Persamaan nasib karena dijajah oleh Belanda yang membuat rasa persatuan antara ras, suku, etnis, dan agama yang ada di daerah jajahan Hindia Belanda muncul. Maka, rasa nasionalisme pada era ini diikuti dengan kebencian akan penjajahan.

Pasca proklamasi, didefinisikan sebagai rasa kecintaan pada negara yang baru saja merdeka, sehingga dibenturkan dengan Berat sebagai sikap anti-Nekolim. Ketidak sukaan terhadap hal-hal yang berbau barat ini kemudian tercermin pada beberapa hal, salah satunya pelarangan pemutaran lagu-lagu yang bergenre Rock n’ Roll pada tahun 1959-1967.

Beralih ke era orde baru, kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dinegasikan dengan Ideologi Komunis. Bahkan, ini berujung pada pembantaian orang-orang yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta simpatisannya. Peristiwa ini memiliki sejarah panjang sebelum-sebelumnya. Dalam film dokumenter “the act of killing” dan “the look of silence” kita bisa melihat bagaimana para jagal mengungkapkan kebanggaannya karena usaha heroiknya mempertahankan NKRI dari ancaman PKI saat itu.  Di era ini Indonesia tak lagi alergi pada barat, tapi alergi pada ideologi kiri. Kebencian pada hal-hal yang berbau kiri ini bertahan hingga saat ini, seperti banyaknya penyitaan buku yang dinilai memuat Ideologi Komunisme, Marxisme, dan Leninisme.

Pasca reformasi, ada enemy baru yang muncul, ia bernama radikalisme. Negasi baru dari nasionalisme, ia juga dianggap menjadi ancaman keamanan negara yang baru. Ini dikarenakan radikalisme bisa berujung pada tindakan terorisme.

Dari sini, kita bisa melihat setiap era memiliki narasi tersendiri yang dijadikan enemy. Lalu, apakah sejarah peradaban kita tidak bisa lepas dari narasi membenci? Dari narasi kebencian terhadap penjajahan dan Nekolim, kebencian terhadap Ideologi Komunisme dan Maxisme, dan kebencian terhadap radikalisme. Ah, ada satu yang terlewat, kebencian pada warna kulit tertentu atau sering kali disebut rasisme.

Rasisme

Berbicara tentang rasisme, masih segar di ingatan kita kejadian beberapa waktu lalu di Jawa Timur (Jatim). Ketika itu, ada seorang oknum melayangkan kata “Monyet” pada saudara setanah air kita, yang diduga melecehkan bendera Indonesia. Lalu saya teringat, ah benarkah kita meniru perangai Belanda pada masa penjajahan dulu?. “Minke” yang berarti “monyet” adalah sapaan rasis belanda terhadap kaum “pribumi” waktu itu. Lalu saya teringat, kuliah seorang profesor tentang film-film sejarah di Indonesia beberapa tahun belakangan. Prof ini mengatakan bahwa, dalam film sejarah hari ini orang kulit putih identik dengan karakter antagonis, jahat, dan tak bermoral. Padahal, sejarah tidak sehitam-putih itu bukan? Peran orang kulit putih untuk ikut berjuang dalam upaya memerdekakan Indonesia tentu tidak bisa dinafikka. Maka, apakah sasaran ketidak adilan pikiran kita mengarah pada mereka yang berkulit lebih legam dari kita dan juga berkulit lebih kinclong dari kita? Entah.

Di Lombok sendiri pernah terjadi konflik SARA. Peristiwa ini dikenang sebagai dengan nama peristiwa 171. Ini dipicu oleh konflik SARA di Ambon, yang berujung pada penyerbuan tempat ibadah salah satu agama, serta penyerbuan toko-toko milik salah satu etnis di pulau Lombok. Kerusuhan karena rasisme juga terjadi beberapa waktu lalu di Wamena. 

Sedangkan, rasisme yang berujung terorisme baru-baru ini terjadi di Selandia Baru. Seorang pria bernama Brenton Harrison Tarrant, yang kemudian dikonfirmasi sebagai pendukung white supremcist menembaki warga muslim yang sedang beribadah di masjid Al Noor dan masjid Linwood.

Asli vs Kurang Asli

Narasi asli vs kurang asli juga sering menimbulkan perdebatan. Dalam kehidupan bernegara, ada yang mengklaim bahwa Indonesia yang asli ada yang berbudaya “nusantara”, sehingga yang kearab-araban dan kebarat-baratan dianggap kurang asli. Dalam kehidupan beragama, ada yang mengklaim diri paling “kaffah” sehingga mendiskreditkan yang dianggap kurang kaffah. Dari sini kita juga mengenal isilah priyai, santri, dan abangan. 

Ada juga klaim ciri fisik yang asli Indonesia dan kurang asli. Padahal, bisa saja satu orang memiliki beragam gen dalam tubuhnya, meskipun yang nampak adalah ciri fisik yang condong ke salah satu etnis. Keinginan dan harapan untuk menjadi asli ini membuat seseorang atau kelompok membenci bahkah mendiskriminasi yang lain. Kecenderungan ini bisa berakibat fatal karena bisa berujung kekerasan. Misalnya, diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah yang dianggap sesat karena berbeda dari aliran di agama Islam kebanyakan, alias “kurang asli”.

Menyemai Sikap Pluralisme

Baik radikalisme, rasisme, maupun asli vs kurang asli tadi, ketiganya mampu memicu konflik. Lalu, bisakah kita menawarkan sikap pluralisme atau keberagaman sebagai penawar? Menyadari bahwa beberapa pihak meyakini radikalisme muncul dari sikap intoleran. Saya pikir, rasisme pun tak jauh berbeda. Ini buah dari kegagalan kita menerima warna yang beram. Begitu pun dengan anggapan asli dan kurang asli tadi. 

Menilik pada definisi pluralisme, ia diartikan sebagai kesediaan untuk menerima keberagaman (pluralitas). artinya, individu hidup secara toleran dalam kehidupan bermasyarakat yang berbeda suku, ras, golongan, agama, adat, hingga pandangan hidup. Pluralisme mengimplikasikan pada tindakan yang bermuara pada pengakuan kebebasan beragama, kebebasan berpikir, atau kebebasan mencari informasi.

Bukankah, memberikan definisi tertentu pada sebuah entitas berdasarkan perspektif masing-masing adalah sebuah kewajaran? Memberikan definisi A, B, C, D, pada rasa Nasionalisme misalnya. Atau menyematkan definisi yang beragama pada kata “Indonesia”. Begitu juga pada Ideologi dan Keyakinan. Jika pemberian definisi yang beragam tadi adalah kewajaran, makan membenturkan setiap definisi sehingga menyebabkan kebencian dan perpecahan atau disintegrasi bukan hal yang wajar. Misalnya, pada beberapa waktu lalu. Para calon presiden mendefinisikan Nasionalismenya dengan berlomba-lomba menjadi orang yang paling anti-asing. Apakah mencintai sesuatu harus diiringi dengan membenci atau anti- terhadap yang lainnya?

Keberterimaan akan keberagaman pandangan, warna kulit, keyakinan, suku, budaya, dan lain sebagainya, diharapkan mampu mengurangi gesekan antar entitas yang berbeda tadi. Namun, adalah kita yang gemar melihat sesuatu atau seseorang dari satu identitas hal yang nampak dominan. Lalu kita lupa, dalam diri sesuatu atau seseorang itu ada banyak sisi yang saling berebut untuk mendefinisikan entitas tersebut.

Terakhir, jika penyemaian konsep keberagaman ini belum mampu mereduksi konflik tadi mungkin benar apa yang dikatakan oleh Prof Ariel Heriyanto dalam sebuah diskusi narasi kebencian akan terus ada jika masih terdapat “ketimpangan”. Kembali lagi, ketimpangan di sini bisa dimaknai berbeda-beda. Ada yang sebenarnya sudah sejahtera, tapi tetap merasa tertindas, masih merasa paling menderita dan tersakiti? Ada.(*)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *