Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB Rangkul Komunitas Literasi Konvensional dan Digital

Sabtu, 14 Desember 2016, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB bersama Duta Baca NTB dan dua komunitas mitra, EduLand dan Duta Damai NTB mengadakan Pelatihan Pegiat Literasi Muda yang melibatkan 15 komunitas yang bergerak baik dalam literasi fisik dan digital. Tiga puluh (30) peserta difasilitasi oleh empat nara sumber yaitu Fathul Rakhman, anggota KPID NTB, Julia Arungan, M.Ed, konsultan pendidikan, Rohani Inta Dewi, MA dan sejarawan Dr. Muhammad Fadjri, MA. Pelatihan ini berlangsung selama satu hari penuh di Hotel Santika.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Dr. Manggaukang, MM. Pelatihan Pegiat Literasi Muda merupakan suatu wadah silaturahmi, diskusi dan bersinergi antar komunitas di Lombok yang bergerak di bidang literasi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk lebih mengetahui makna dari literasi itu sendiri, bahwa literasi bukan hanya tentang calistung, namun lebih dari itu. Literasi adalah istilah umum yang merujuk pada kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Fakta bahwa Indonesia berada di peringkat ke 61 dari 60 negara mengenai minat literasi bangsa Indonesia yang dibuktikan oleh Word’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016. Lalu bagaimana kita mengatasi permasalahan tersebut? Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah melalui kegiatan-kegiatan positif contohnya seperti Pelatihan Pegiat Literasi Muda lakukan, yakni dengan mengumpulkan komunitas-komunitas di Lombok yang bergerak di bidang literasi.

Seiring waktu, perkembangan teknologi semakin pesat, fakta bahwa Indonesia memiliki peringkat kedua paling bawah dari 61 negara tersebut kini terbantahkan oleh fakta baru bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 150 juta pengguna, orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari, 5/6 orang mengganti status di Whatsapp sampai 5 kali sehri, netizen negara Indonesia cerewet di media sosial. Beberapa fakta tersebut dibuktikan oleh data Wearesocial per Januari 2017.

“Hal tersebut dapat dikatakan kegiatan literasi meskipun kualitas literasi yang dilakukan kurang baik.” Ucap Fathul Rakhman, Anggota KPID NTB yang juga menjadi salah satu nara sumber/fasilitator dalam pelatihan ini.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul dari kegiatan Pelatihan Pegiat Literasi Muda yaitu apa yang harus dilakukan agar kegiatan komunitas literasi lebih menarik? Peserta sepakat bahwa untuk menjadikan kegiatan literasi dalam suatu komunitas menjadi menarik adalah dengan melakukan kegiatan literasi yang dipadukan dengan permainan yang tentunya mengedukasi dan bertujuan untuk mengembalikan fokus anak-anak di komunitas khususnya untuk komunitas yang didominasi oleh anak-anak. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menukar buku antar komunitas sebagai tindakan lanjutan yang dilakukan jika buku-buku di masing-masing komunitas sudah habis dibaca.

Selanjutnya, sesi kedua adalah Talk For Writing (TWF). TWF merupakan integrasi gerak, bunyi, dan kreasi dalam literasi. Kegiatan ini diterapkan oleh Pie Corbett selama 40 tahun lamanya. Talk For Writing terbagi menjadi tiga tahapan, tahap pertama Imitation, tahap ini anak-anak disuguhkan cerita yang sudah populer didengar oleh anak-anak dan diceritakan dengan cara memberikan gerakan pada si anak sembari bercerita. Tujuannya adalah agar anak-anak mampu mengingat simbol gerakan dari setiap kata kunci yang telah diberikan. Kedua, inovasi yaitu pada bagian ini anak-anak diharapkan mampu mengganti kata kunci yang ada di dalam cerita sesuai dengan keinginan si anak. Ketiga, Independent Application yaitu pada tahap ini anak-anak diharapkan mampu mengembangkan cerita yang sudah ada sesuai dengan imajinasinya.

“Literasi harus diajarkan dengan cara yang menyenangkan sehingga anak-anak merasa mereka seperti bermain.” Kata Julia Arungan saat menutup sesi ini.

Sesi terakhir adalah Mindmapping dengan metode Forum Discussion Group (FDG), tahapan ini merupakan bagian yang penting bagi komunitas-komunitas pegiat literasi di Lombok. Tahap ini sangat menyenangkan bagi peserta karena mereka berbaur dengan komunitas lain untuk bertukar pikiran tentang tantangan, solusi dan kriteria-kriteria yang harus ada dalam setiap pegiat literasi muda. Setiap kelompok mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.

Pelatihan ditutup oleh pidato singkat Dr. Muhammad Fadjri. “Membaca tidak terbatas pada membaca teks, mengetahui apa yang kita tidak tahu menjadi tahu, kemudian merubah prilaku kita, membaca juga berarti membca semesta yang membentuk kesadaran kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.”

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *