Natal : Diucapkan atau Tidak, Kita Tetap Bersaudara

Beberapa hari belakangan ini lini masa dunia maya kembali riuh oleh perdebatan soal boleh atau tidak mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani. Hal ini tentu bukanlah masalah yang bisa dianggap sepele, sebab berbantah-bantahan perihal masalah ini tak hanya berlaku di dunia maya, namun berimbas pada kehidupan sosial dan ketentraman masyarakat. Persoalannya adalah yang berdebat bukanlah lintas keyakinan melainkan dalam tubuh ummat islam sendiri. Menurut penulis ini adalah bentuk ‘kebingungan’ tersendiri yang dialami masyarakat dengan populasi mayoritas di Indonesia ini. kemudian pertanyaannya, sejak kapan pengucapan selamat natal menjadi polemik di Indonesia

Mujiburrahman, dalam disertasinya berjudul Feeling Threatened Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (2006) menjelaskan bahwa asal muasal polemik ini bermula dari sebuah pertanyaan yang diterima oleh Radio Republik Indonesia pada tahun 1997 saat sesi acara kuliah subuh yang menghadirkan Buya Hamka yang saat itu sedang menjabat sebagai ketua MUI. Pertanyaan tersebut berisi tentang, apakah sikap muslim yang tepat jika mereka diundang oleh tetangga Kristen mereka? Pertanyaan ini lantas dijawab oleh Hamka dalam bentuk jawaban tertulis yang dimuat dalam majalah Panji Masyarakat. 

Dalam jawabannya Hamka menjelaskan bahwa mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada tetangga Kristen dianggap sebagai ungkapan toleransi beragama, tetapi tetap tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam perayaan itu sendiri. Sebab orang-orang Kristen pada masa itu juga kerap mengirimkan teman-teman muslim mereka kartu ucapan ‘Idul Fitri” tetapi tidak pernah berpartisipasi dalam shalat Idul Fitri di masjid maupun di alun-alun kota. Hamka juga menjelaskan alasan dasar mengapa seorang muslim tidak diizinkan berpartisipasi dalam perayaan natal adalah untuk menjaga kemurnian aqidah sebagai seorang muslim, sebab akar teologis pandangan islam dan Kristen dalam memandang ‘Yesus’ dan ‘Isa’ sebagai mahluk yang berbeda. 

Namun, pemerintahan pada masa itu khususnya kementrian agama, nampaknya tidak senang dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, setidaknya ada dua alasan mengapa fatwa tersebut  berseberangan dengan pemerintah. Pertama, adanya kekhawatiran tentang ketentuan fatwa yang dianggap kaku dan tidak fleksibel yang dapat mengganggu hubungan antara muslim dan Kristen. Kedua, pemerintah merasa terganggu oleh sirkulasi tak terduga muncul dalam benak masyarakat, sebab menteri agama saat itu menganggap persoalan tersebut seharusnya tidak dilempar ke publik. Sebab, pada beberapa tahun sebelumnya Kementrian Agama secara aktif mendorong umat beragama untuk saling berpartisipasi dalam perayaan keagamaan. Pertentangan pendapat ini kemudian menyebabkan kedua pemuka ini mengundurkan diri dari jabatan masing-masing. Sejak saat itu MUI tidak lagi mengeluarkan Fatwa terkait dengan perayaan Natal. Namun pada 2016 MUI kembali mengeluarkan fatwa lanjutan  terkait natal yang disebabkan adanya fenomena yang meresahkan soal kewajiban menggunakan atribut natal bagi karyawan muslim di sejumlah pertokoan. Hal ini dijelaskan oleh KH Ma’ruf Amin sebagai pandangan dan sikap yang tegas bagi seorang muslim untuk tidak menyerupai suatu kaum dengan menggunakan atribut keagamaan non-muslim. 

Perbedaan pendapat yang berlangsung lama ini kemudian masih berlanjut hingga hari ini, kendati yang menjadi masalah utamanya sudah jelas, yakni adanya perbedaan pendapat soal kebolehan mengucapkan selamat natal. Pada tahun ini juga MUI absen memberikan fatwa terkait ucapan Natal, sedangkan Kementrian Agama dengan konsisten memberikan ucapan natal seperti yang tertera pada twitter resmi Kementrian Agama RI. Perdebatan ini kemudian berbuntut panjang di media sosial yang kembali ramai dengan munculnya perbedaan argumentasi dari berbagai ulama yang dapat dengan mudah kita temui di lini masa. 

Seperti potongan pendapat Gus Dur dengan Prof Quraish Shihab yang menyatakan boleh mengucapkan selamat Natal. Sedangan ustadz-ustadz seperti Felix Siaw, Khalid Basalamah dengan konsisten mengatakan tidak boleh. Memandang fenomena ini  sendiri dalam Islam dapat dikategorikan sebagai  ‘syubhat’ yakni keadaan dimana samar-samar antara perkara halal dan haramnya suatu hal. 

Nah kemudian sebagai masyarakat awam bagaimankah kita semestinya menyikapi perbedaan pendapat ulama kita ? dalam Islam sendiri kebanyakan ulama menyarankan untuk menghindari perkara syubhat, alias yang menimbulkan keragu-raguan. Hal ini bisa terlaksana dengan menggali ilmu serta bertanya kepada alim ulama yang kita anggap atau kita yakin dengan ilmunya. Sebab menafsirkan sendiri suatu hal yang berkaitan dengan agama dengan pemahaman yang kurang tepat tentu bukan langkah yang baik. 

Dalam sebuah hadistnya, Rasullullah shallallahualaihiwasallam telah menghkhawatirkan fitnah (kesesatan) syahwat dan fitnah syubhat. 

Beliau bersabda 

“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan” ( H.R Ahmad).  Sehingga fitnah syubhat ditangkal dengan keyakinan (di atas ilmu yang benar), adapun fitnah syahwat ditangkal dengan kesabaran. 

Dalam Al-Quran sendiri dijelaskan bahwa dalam perkara agama dan kebaikan hendaklah kita saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan, dan saling ingat-mengingatkan dalam kesabaran. Sehingga perilaku ‘hujat-menghujat’ dalam perkara saling menngingatkan sangatlah tidak tepat mengingat fenomena yang terjadi belakangan ini. kita tentu perlu merefleksi diri kita serta menanamkan bahwa kita bukanlah panitia surga atau mahluk yang bisa sempurna.

Sebelum menutup tulisan ini saya ingin menyimpulkan beberapa landasan-landasan yang dijadikan oleh masyarakat yang menolak  natal berdasarkan wawancara kepada beberapa teman-teman sejawat. Menolak mengucapkan natal karena : 

  1. Mengucapkan natal dianggap mengafirmasi Isa sebagai Tuhan dalam konsep Kristian
  2. Dalil tentang menyerupai suatu kaum
  3. Karena berkaitan dengan afirmasi Isa, maka berkaitan dengan akidah islam yang dalam islam Isa yang dimaksud sebagai Nabi. Sedangkan dalam islam akidah merupakan salah satu pokok agama. 

Tentu saja alasan-alasan tersebut di atas bukan bentuk untuk melarang kawan-kawan yang lain yang sekiranya ingin tetap mengucapkan natal. Sebab ada juga ulama yang memperbolehkan. Tetapi perlu juga diingat bahwa tidak mengucapkan natal bukan berarti intoleran, dan yang mengucapkan natal adalah yang toleran, because its just judge without ‘true’ reason, alias masih abu-abu. Jadi setelah ini apakah kita masih akan meneruskan berbantah-bantahan ? Tentu saja bagi saya pribadi ‘diucapkan atau tidak diucapkan kita tetaplah saudara, baik saudara seiman maunpun setanah air. Salam damai dan selamat merayakan.(*)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *