Selamat Natal, Mari Terus Berindonesia

Hari ini seluruh umat Kristiani memperingati Hari Natal. Seperti biasa dan berulang setiap tahun, Hari Natal selalu diiringi dengan pernyataan boleh tidaknya bagi muslim mengucapkan Selamat Hari Natal. 

Yang membolehkan menyampaikan dengan dasar dan dalil. Begitu pula yang melarang ucapan ini. Ditengah pro dan kontra ucapan Selamat Natal, ada individu atau kelompok yang justru sibuk saling menyalahkan. Otoritas keilmuan para pemuka agama ini seolah luntur oleh kegenitan mereka. Tak paham agama secara utuh kemudian mencaci maki pendapat para tokoh agama. 

Akun resmi Instagram Nahdlatul Ulama secara khusus memberikan ucapan Selamat Natal. Beberapa saat kemudian, foto Maulana Habib Lutfi bin Yahya tergambar sedang bersalaman dengan penganut Nasrani, deskripsinya menyebutkan itu ucapan selamat Natal.

Pun begitu dengan Muhammadiyah, ormas Islam ini pun membolehkan ucapan Selamat Natal. Dalam salah satu akun Instagramnya, dasar-dasar membolehkan ucapan Selamat Natal dijabarkan begitu detail.

Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia (OIAA) TGB HM Zainul Majdi menuliskan, mengenai Grand Syeikh Al Azhar yang secara khusus memberi ucapan kepada Paus Fransiskus.

“Al-Azhar melalui Pemimpin Tertingginya Grand Syekh menyampaikan dengan tulus ucapan selamat merayakan Hari Natal kepada Paus Fransiskus dan seluruh umat kristiani di dunia. Dengan harapan, membawa kebahagiaan bagi umat nasrani, serta keamanan dan perdamaian bagi umat manusia. 

Dalam kesempatan ini, Al-Azhar menegaskan kokohnya hubungan Islam-Kristen. Terkhusus dalam konteks upaya bersama Grand Syekh dan Paus Fransiskus dalam memperkuat dialog antar agama, memantapkan nilai perdamaian dan keharmonisan antar bangsa dan peradaban. 

Hal itu dicerminkan oleh penandatanganan dokumen koeksistensi terpenting dalam masa modern oleh Grand Syekh dan Paus Fransiskus yaitu Watsiqah Al-Ukhuwwah Al-Insaniyah, dokumen persaudaraan kemanusiaan. Diikuti kerjasama untuk mewujudkan butir-butir dokumen tersebut secara nyata melalui Komisi Tinggi Untuk Persaudaraan Kemanusiaan.”

Begitu jelas, Al Azhar yang selama ini dikenal memiliki kampus tertua di dunia, membolehkan ucapan Selamat Natal. Kampus yang banyak mencetak ulama-ulama besar dunia.

Lalu bagaimana yang melarang? Majelis Ulama Indonesia (MUI) baik di pusat maupun daerah mengeluarkan keputusan pelarangan ucapan Selamat Natal. Tidak hanya MUI saja, beberapa pesantren pun mengeluarkan maklumat yang sama. Larangan ucapan Selamat Natal berdasarkan dalil dan sumber-sumber pendapat ulama.

Energi, sumber daya manusia (SDM) masyarakat Indonesia terasa sia-sia, bila setiap tahun masuk kepada pusaran halal dan haram ucapan Selamat Natal. Debat tanpa ujung. Bukan saling menghargai, malah sibuk mendebat serta mencaci maki. Entah pro ucapan Natal ataupun yang kontra.

Duta Damai Dunia Maya (D3M) dari berbagai regional di Indonesia, tak usah  larut pada debat kusir ini. Bagi yang ingin mengucapkan, silahkan saja ucapkan. Untuk yang memilih tak mengucapkan, tak jadi soal. 

Ucapan-ucapan ini sejatinya diberikan ataupun tidak, bukan menjadi tolak ukur bagi saudara-saudara Kristen menilai kita. Yang paling utama tetap saling cinta dan saling menghargai. 

Penulis sendiri memandang perlu mengucapkan Selamat Natal, ucapan sebagai bentuk ukhuwah wathaniah. Satu negara dan bangsa. Bagian dari ajakan untuk terus berindonesia.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *