Pahlawan Muda Bangsa Cegah Radikalisme

Perlu diketahui bahwa radikalisme kian melekat pada generasi muda Indonesia. Pupuk kekerasan tumbuh menjadi aksi terorisme. Paham-paham fanatis terus ditumpuk oleh kaum anarkis demi menciptakan bakal apatis. Sebagai harapan bangsa, pemuda seharusnya menjadi pahlawan dalam melawan radikalisme dan tindak kekerasan bukan malah menghancurkan tatanan perdamaian.

Ilustrasi oleh Ulwan S.Z.

Penelitian Badan Intelejen Negara pada 2017 mencatat bahwa sekitar 39% pemuda yang notabennya mahasiswa di beberapa perguruan tinggi terpapar paham radikal. Selanjutnya, Budi menambahkan, penelitian tersebut menerangkan bahwa adanya peningkatan paham keagamaan ortodoks. Ihwalnya, dari penelitian diperoleh data 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA mendukung pergerakan jihad demi tegaknya Negara Islam.

Data diatas mendeskripsikan kondisi pemuda saat ini sedang berada di tahap krisis toleransi. Tidak menutup kemungkinan sikap radikal bersemi menjadi aksi terorisme pemuda yang hendaknya berperan sebagai garda terdepan pendobrak cita-cita dan harapan bangsa. Sikap tenggang rasa harusnya ditabur di setiap individu pemuda Indonesia.

Jika toleransi sudah tertabur dalam diri, maka kaum muda hanya perlu memperkenalkan gagasan dan ide mereka ke masyarakat umum karena pemuda identik dengan trendsetter atau lebih dikenal sebagai agen perubahan. Tidak heran jika mereka dijadikan sebagai lahan turnamen berbagai paham keagamaan, termasuk radikalisme.

Penyebab pemuda sensitif terhadap paham radikal yakni krisis identitas diri. Kondisi ini muncul karena kebingungan mereka (kaum muda) menghadapi wejangan perubahan sosial dari nilai-nilai maupun kultur masyarakat. Selain itu, pada fase ini remaja tidak mampu mengendalikan emosi dan mudah goyah pada pengaruh luar. Oleh karena itu, para pelaku paham kekerasan mendekati dengan melakukan soft approach dalam menanamkan paham-paham radikal ke generasi muda.

Setelah didekati dan dilekati, maka para pelaku tinggal melancarkan aksi kekerasan. Mulai dari media sosial hingga aksi terorisme yang memakan korban jiwa. Mencuplik data dari Mabes Polri, insiden terorisme mulai meningkat sejak 1996-2001 (terdapat 65 & 105 kasus teror) menjadi hanya 9 kasus di tahun 2019. Meskipun nominalnya menurun, namun siklus terorisme ini akan terus berlangsung jika tidak ada kontra-radikalisasi dari pihak yang berwewenang, seperti pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Bagaimana solusinya? Mengedepankan asas proporsionalitas, dalam artian komponen masyarakat dan pemerintahan, memfilter aspirasi pemuda yang tumbuh pada era demokrasi ini agar tidak kebablasan dalam bertindak. Dampak dari tindakan yang mereka lakukan akan berlanjut ke kehidupan masyarakat sekitar. Langkah ini setidaknya memberi ruang aspirasi pemuda Indonesia tanpa mengurangi Hak Asasi Manusia (HAM) dalam diri mereka.

Dengan langkah di atas, pemuda Indonesia mampu menjaga keutuhan bangsa, bila perlu menjadi pahlawan bangsa dengan pikiran terbuka. Tidak mudah mengubah pendirian dan melakukan aksi tanggap cepat terhadap paham-paham yang marusak tatanan negara. Semangat terus pemuda bangsa. Jangan sampai ada lagi otoritas mayoritas terhadap penindasan minoritas.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *