Wajib Tingkatkan Literasi Visual di Era “Post-Truth”

Gambar merupakan media komunikasi tertua dalam peradaban manusia. Gambar ada jauh sebelum tulisan ditemukan. Ada zaman di mana gambar menjadi bukti mutlak berbagai peristiwa karena tidak bisa dimanipulasi. Atau dengan kata lain, gambar tidak pernah berbohong. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, foto ditemukan dan berkembang pesat. Kini dapat diedit dengan sangat mudah. Pemilik ponsel pintar cukup menginstal aplikasi seperti snap sheet, lighting room atau jika ingin melakukan perubahan yang signifikan, pengguna bisa menginstal photoshop pada komputer mereka. Perkembangan ini menggeser fungsi gambar atau foto, dari fungsinya sebagai bukti mutlak menjadi alat untuk perang opini di mana foto sering dijadikan senjata ampuh untuk mengadu dan mengaduk emosi pengguna sosial media.

Ilustrasi oleh Ulwan S.Z.


Terlepas dari semua kemudahan sebagai dampak positif dari kemajuan teknologi, teknologi digital telah menciptakan zaman post truth, era di mana kebenaran dan kebohongan, kebaikan dan keburukan, isi dan sensasi susah dibedakan. Hingga pada tahun 1969 muncul istilah literasi visual dari John Debes.


Literasi Visual dan Foto Hoaks

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, visual berarti dapat dilihat dengan mata atau berdasarkan atas penglihatan. Sedangkan literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berhitung, memahami dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekitar mereka. Dengan kata lain, literasi visual merujuk pada kemampuan individu untuk memahami suatu benda, kejadian yang mereka lihat dalam gambar.

Beberapa pakar menjelaskan bahwa literasi visual adalah kemampuan seseorang untuk membaca, memahami, dan menggunakan gambar untuk berpikir dan belajar. Debes (1969) mendefinisikan literasi visual sebagai kumpulan keterampilan yang membuat seseorang mampu mengerti dan menggunakan gambar untuk berkomunikasi dengan orang lain. Burmark (2008) menjelaskan bahwa literasi visual berarti melihat untuk belajar dan belajar untuk melihat. Ada pengalaman proses pembentukan ide-ide di mana indra dan kognitif aspek memegang peranan penting untuk menentukan independent thinking. Yenawine (1997) dalam Handbook of Research on Teaching Literacy through the Communicative and Visual Arts menyatakan medifinisikan literasi visual sebagai kemampuan seseorang menemukan makna dalam suatu gambar. Kemampuan ini melibatkan keterampilan-keterampilan seperti mengidentifikasi, menamai, interpretasi kontekstual, hingga level metaforis dan filosofis. Kemampuan ini juga mengandung aspek-aspek kognitif seperti koneksi terhadap pengalaman pribadi, spekulasi, mempertanyakan apa yang dilihat, pengkategorian dan proses pencarian fakta.

Literasi visual sangat diperlukan mengingat kita hidup di dunia yang penuh dengan foto. Menurut InfoTrends, dalam sehari 200 juta foto diunduh ke facebook dan 1.2 milyar ke Google Photos. Kemampuan dalam membaca dan memahami pesan visual akan mempengaruhi sudut pandang seseorang dalam membaca tujuan dan fungsi foto tersebut. Foto menjadi bahasa persuasif hampir di semua lini kehidupan dan sangat sering dijadikan alat propaganda oleh berbagai pihak untuk mencapai tujuan tertentu. Bahkan berbagai kejadian yang nyata terjadi juga semakin dihebohkan dengan berbagai foto yang diambil dari kejadian-kejadian lain.
Misalnya kasus genosida Rohingya yang telah menelan ribuan korban dan akhirnya mendapat sorotan dan pengakuan media internasional. Terlepas dari berbagai foto asli yang beredar, banyak terselip foto-foto hoax. Salah satunya foto biksu dengan ratusan mayat yang akan dikubur pada pemakaman langit di Tibet digunakan sebagai gambaran kekejaman biksu di Myanmar terhadap muslim Rohingya.
Kasus lainnya adalah pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah Cina pada muslim Uyghur. Beredarnya bukti dan saksi dari media barat dan Hongkong telah membuktikan pelanggaran yang terjadi. Walaupun demikian, dalam praktek penyebaran berita khususnya di media sosial di Indonesia, dengan mudah ditemukan foto-foto yang berasal dari pelanggaran HAM yang dilakukan kepada aktivis Falun Dafa yang anti komunis. Foto ini digunakan untuk menggambarkan kekejaman pemerintah Cina kepada Uyghur.


Suara Perempuan Dalam Fotografi

Dengan dominasi hampir 90% fotografer yang berjenis kelamin laki-laki, bisa dikatakan bahwa apa yang dilihat dalam gambar adalah dunia yang difilter dari lensa dan pikiran laki-laki. Ini artinya sudut pandang yang didapatkan sebagian besar adalah sudut pandang laki-laki. Apakah kita hanya membutuhkan satu sudut pandang? Apakah kita sadar dengan hal ini?
Dalam dunia fotografi, perempuan lebih mendapat ruang sebagai objek ketimbang subjek. Ada pujian yang sering dilantunkan seperti “Perempuan terlalu indah untuk memotret”. False appreciation ini telah membuat banyak perempuan lupa mengeksplor kecantikan pikiran dan jiwa yang mereka miliki. Sepanjang jalan besar berjajar foto-foto perempuan di papan iklan, berkulit mulus tanpa cela, bentuk lengan dan paha yang ramping, wajah ayu dengan bentuk hidung, mata dan bulu mata sempurna. Meskipun kita tahu itu hasil photoshop, namun secara tidak sadar hal itu menjadi tolak ukur standar kecantikan yang ada di masyarakat. Wajah dan bentuk tubuh menjadi sangat penting, bahkan berbagai lowongan kerja memberi syarat tinggi badan. Saat gambar diambil, dilihat dan dinterpretasikan, budaya sedang diwariskan.
Keseimbangan akan menjadi suatu hal yang susah untuk dicapai apabila fotografer perempuan meminjam sudut pandang laki-laki. Fotografer perempuan harus menemukan jati diri dan perspektif mereka untuk mengimbangi karya-karya yang sebagian besar dihasilkan oleh lensa laki-laki.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *