Refleksi Ramadhan dengan Menjaga Kewarasan

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

  (Ali ‘Imran Ayat 139)
Ilustrasi oleh Cholenesia

            Membuka tulisan ini dengan sepotong ayat Al-Qur-An, dengan harapan mampu memberikan sedikit obat bagi hati kita semua yang tengah dilanda gundah-gulana serta perasaan kesedihan menyambut Ramdhan khususnya bagi umat islam. Dalam berbagai tayangan dan selebaran serta spanduk-spanduk telah disiarkan secara luas bahwa segala jenis ibadah yang berkaitan dengan ‘berkumpul’ dan beramai-ramai ditiadakan sementara.

            Untuk pertama kalinya, akhirnya kita mendapati keadaan di mana kita semua diharuskan berdiam dalam rumah. Jika pada hari biasa kita masih bisa kongkow, bersenda gurau di warung-warung ataupun kedai kopi, anak-anak menikmati waktu bermainnya dengan sang kawan, tapi semua berbeda setelah covid-19 menyerang.

Memang tidak mudah melewati ini semua, juga tentu kita tidak terbiasa. Banyak kontroversi, lebih-lebih segala persoalan tidak lagi hanya tentang pembatasan kontak fisik tapi juga berimbas pada kelangsungan hidup masyarakat yang kini telah mempengaruhi seluruh dunia. Spekulasi-spekulasi dari berbagai macam teori hingga konspirasi bermunculan, dengan skenario terburuk adalah krisis ekonomi berkelangsungan serta kehancuran dunia.

Ini tentu sangat mengerikan, bahkan membayangkannya saja kita tak berani. Namun isu-isu inilah yang akhirnya banyak berkembang di masyarakat kita. Perlahan-lahan perilaku kepanikan bermunculan. Mulai dari istilah ‘pannic buying’ atau membeli berbagai macam kebutuhan dapur dengan sekala besar hingga menimbun. Selain itu kepanikan soal presepsi masyarakat tentang covid-19 yang tak tuntas dipahami dengan baik menyebabkan banyak hal-hal anarki berlangsung di mana-mana.

Contohnya, penolakan terhadap jenazah pengidap positif covid-19 yang berujung pelemparan kepada tugas medis yang bekerja memakamkan jenazah, berbagai pengusiran terhadap perawat-perawat oleh pihak penyewa tempat mereka tinggal karena merawat pasien covid-19 dan pengucilan terhadap para pekerja non-medis yang bertugas di rumah sakit. Selain itu, kasus-kasus ketidak pahaman masyarakat terkait dengan penangan virus ini dibuktikan dengan kejadan-kejadian yang heboh beberapa waktu lalu yang membanjiri sosial media, seperti penyambutan salah satu artis dangdut NTB dan demo ramai masyarakat sebab disulut emosi dan misinfomasi antara petugas puskesmas dengan warga. Dua kejadian ini mengakibat larangan pshycal distancing tidak berdaya.

Masalah ini juga diperparah dengan kondisi orang-orang yang menjadi ODP yang tidak bertanggung jawab, mengabaikan himbauan 14 hari karantina madiri karena merasa diri sehat dan bebas untuk mobilisasi. Padahal menjadi ODP ataupun pasien positif sekalipun bukanlah sebuah aib. Kesadaran ini belum tumbuh dalam masyarakat kita yang cenderung sering nekat dan berbagai pembenaran. Tentu ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi kita anak-anak muda yang sudah dibekali sedikit pengetahuan yang sekiranya cukup untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat kita. Kita bisa mulai dengan mengajak keluarga kita, tetangga kita, sahabat-sahabat kita hingga kekasih barangkali dan bagi yang jomblo harap mengingatkan diri sendiri.

Tak perlu dengan melakukan hal yang besar, cukup mulai dengan kebiasaan hidup sehat, semisal mencuci tangan sebelum dan sesudah berkegiatan. Makan dengan teratur, meski tak perlu dengan jenis makanan ala-ala selebgram ataupun influencer, cukup empat sehat lima ‘sebur aiq’. Cukupi dengan mengkonsumsi  sayur dan buah serta minum air mineral paling tidak 2 liter sehari. Jika butuh asupan vitamin, berjemur di pagi hari atau minum suplemen yang dibutuhkan. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga pikiran untuk tetap positif di tengah dunia yang sebenarnya sedang atau bahkan tidak pernah baik-baik saja. Namun kita tau seperti ungkapan ayat pembuka tulisan ini, Tuhan mengetahui apa yang tidak kita ketahui, kita diminta untuk tidak bersikap lemah dan jangan menyerah.

Jangan lupa untuk terus menebar kebaikan serta hindarkan sekeliling kita dari berbagai macam konten hoax dan propokatif. Selamat menyambut Ramadhan, semoga keberkahan bisa menjadi obat bagi sekalian alam. Aamin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *