Di masa-masa sulit akibat pendemi COVID-19, himbauan pemerintah untuk belajar, beribadah dan bekerja dari rumah membuat interaksi di dunia maya semakin luas dan tentu mendorong kesadaran publik untuk lebih melek lagi terhadap teknologi. Walaupun demikian  banyak orang masih saja menebar berita kebohongan. Hoaks semakin mengundang keresahan publik di tengah penenangan diri dalam karantina.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Setiap hari Update berita terbaru mengenai jumlah korban meninggal, sembuh dan bertambah menjadi konsumsi lazim, tidak hanya dari media mainstream atau non mainstream bahkan langsung dari jari ke jari tanpa ada dukungan resmi dari sumber terpercaya. Situasi darurat ini menjadi ladang basah bagi para penebar hoaks mencari keuntungan. Angka perputaran berita hoaks terkait dengan Covid-19 semakin hari semakin tinggi, tidak jarang sebagian orang mulai kebingungan memilah-memilih mana yang hoaks dan bukan. Dilansir oleh detik.com melalui Cyberdrone, Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) menemukan 474  isu hoaks beredar di berbagai  macam platform digital pada April lalu. Untuk mengatasi masalah ini KOMINFO telah berkomunikasi langsung dengan perusahaan raksasa platform digital seperti Twitter, Facebook. Youtube dan Instagram dalam rangka meminimalisir masifnya penyebaran hoaks di masa pandemic COVID-19.

Banyaknya berita hoaks yang beredar di media sosial semakin menambah beban pikiran dan kekahawatiran masyarakat di tengah perjuangan mereka melawan pandemi global ini. Hoaks menyebabkan  ketakutan yang membuat masyarakat menjadi paranoid dan bahkan menyebabkan masyarakat menjadi acuh tak acuh terhadap pandemi yang sedang terjadi. Konsumsi berita buruk semakin membuat pembaca tertekan dan stress alhasil dapat membuat kondisi tubuh menurun, bukankan untuk memperkuat imun psikologis merupakan hal utama yang harus dijaga selama masa karantina berlangsung.

Selain tekanan batin, tekanan ekonomi sangat terasa khususnya untuk kalangan menengah ke bawah. Bisa dibayangkan, ekonomi terpuruk, ancaman kesehatan menjadi beban utama masyarakat Indonesia dan diperparah lagi dengan ratusan hoaks COVID-19 yang merajalela di berbagai digital platform. “Mari kita pastikan bahwa kita bukan bagian dari  penambah beban psikologis masyarakat Indonesia dengan tidak membagi berita-berita atau informasi yang tidak benar, yang justru nanti akan menyebabkan masyarakat semakin susah,” kata Achmad Yurianto, Ketua Gugus Percepatan Penanganan COVID-19.

Naiknya jumlah berita hoaks beriringan dengan naiknya jumlah kasus Corona yang ada di Indonesia. Menurut Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona sudah terkonfirmasi 10.843 orang terjangkit dengan kasus meninggal di antaranya 831 orang berdasarkan data tanggal 2 Mei, 2020. Namun beberapa hoaks yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa angka korban COVID-19 yang jauh lebih tinggi dari yang dikabarkan pemerintah.

Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama untuk terus memfilter diri kita agar lebih berhati-hati dan lebih kritis dalam membaca berbagai berita di media sosial. Sebagai seorang pengguna sosial media yang budiman, kita bertanggung jawab penuh terhadap apa yang kita produksi dan bagikan di dunia maya. Di tengah pendemi ini, harusnya kita tidak hanya menjadi pengkritik yang baik atas langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah, tapi kita juga harus menjadi penawar solusi, menjadi agen pemutus hoaks dan pemutus COVID-19 dengan Work from Home (WHF) atau School From Home (SFH).