Pernahkah Anda menyaksikan perdebatan di mana kedua belah pihak tidak menerima fakta yang disampaikan satu sama lain? Atau pernahkah Anda terlibat di dalamnya? Atau pernahkah Anda menolak fakta dikarenakan identitas Anda, menolak fakta yang bertentangan dengan prinsip dan kepercayaan Anda? Atau pernahkah Anda berbohong mengenai suatu hal ketika berbicara pada teman  untuk melindungi kelompok atau kepercayaan Anda? Lantas jika pernah, mengapa hal tersebut terjadi?.  

Sebuah video menarik diunggah oleh kanal youtube bernama Ted-Ed, yang berjudul “Do politics make us irrational?”, video tersebut merupakan visualisasi dari kuliah Jay Van Bavel seorang profesor psikologi dari New York University (NYU), mengenai bias otak manusia dalam mengelola dan menginterpretasikan informasi. Dijelaskan dalam video tersebut tentang konsep-konsep seperti partisanship, disonansi kognitif dan solusi untuk menghadapi bias pemikiran tersebut.

Video diawali dengan mengutip penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 di Amerika Serikat (AS). Penelitian tersebut melibatkan sekitar 1.111 orang dewasa untuk menguji kemampuan mereka dalam menganalisis data. Dalam soal-soal yang disediakan terdapat soal yang berkaitan dengan “identitas politik” dari masyarakat Amerika Serikat seperti bagaimana hubungan antara angka kriminalitas dengan UU Gun Control di AS yang menjadi perdebatan dan juga menjadi penyebab polarisasi dalam masyarakat AS yakni antara kubu Democrat dan Republican. Soal lainnya adalah soal-soal yang non politik dengan tingkat kesulitan yang sama. Hasil penelitian tersebut menunjukkan peserta dengan kemampuan matematika yang tinggi cenderung menjawab dengan benar pertanyaan atau soal yang tidak terkait dengan identitas politik, sedangkan peserta dengan kemampuan matematika yang baik, bahkan tergolong matematikawan handal cenderung menjawab dengan salah pertanyaan yang berkaitan dengan identitas politik jika bertentangan dengan political beliefs mereka.

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa identitas seseorang mempengaruhi pikiran mereka dalam memproses dan menginterpretasikan fakta dan data. Fenomena ini disebut sebagai partisanship, suatu preferensi atau bias yang kuat terhadap suatu ide atau kelompok. Politik, etnis, agama, atau nasionalisme termasuk ke dalam bentuk-bentuk dari partisanship. Mengelompokkan diri terhadap suatu komunitas dengan jenis-jenis di atas tentunya suatu hal yang normal dan sehat dalam kehidupan manusia, disebabkan oleh sifat sosial dari manusia sendiri. Terkelompok dalam suatu pemikiran atau komunitas tertentu membentuk identitas dan karenanya manusia cenderung termotivasi untuk mempertahankan atau membela kelompok dan identitas kelompoknya sekaligus membela pemikirannya, atau keberpihakannya atas sesuatu. Namun hal ini kemudian akan menjadi masalah apabila yang dipercayai oleh suatu kelompok bertentangan dengan kenyataan. Dalam video tersebut diberikan analogi yang sangat representatif mengenai fenomena ini;

“Jika Anda menonton tim olahraga favorit Anda dan Anda melihat tim Anda melakukan pelanggaran yang serius, Anda tahu bahwa itu melanggar peraturan, tetapi teman-teman Anda sesama penggemar dari tim tersebut berpikir bahwa pelanggaran tersebut dapat diterima, oleh sebab itu Anda bisa jadi mulai menyalahkan wasit, menuduh tim lawan melakukan pelanggaran lebih dulu, bahkan meyakinkan diri anda sendiri bahwa tidak ada pelanggaran sama sekali”.

Pergulatan “Anda” dalam analogi tersebut disebut “disonansi kognitif”. Disonansi kognitif sendiri adalah teori yang dipopulerkan oleh Leon Festinger yang terkenal dan berpengaruh dalam sejarah psikologi sosial. Disonansi kognitif dideskripsikan sebagai suatu kondisi yang membingungkan, yang terjadi ketika individu menemukan diri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diketahui, atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang diyakini. Disonansi tersebut menimbulkan ketegangan psikologis, atau ketidaknyamanan. Dalam hal berupaya untuk mengurangi disonansi tersebut, individu akan mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan atau sikap diri mereka. Mereka dengan secara aktif mencari dan melakukan pemilahan terhadap materi informasi maupun situasi yang sama dan sejalan dengan sikap mereka. Mereka cenderung menolak dan menghindari semua materi informasi yang bertentangan dengan keyakinan atau sikap mereka.

Bias tersebut tentunya sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bisa jadi menimpa diri kita sendiri. Dapat dilihat dari berbagai kasus di Indonesia, disonansi kognitif ini sering terjadi, yang bermuara kepada bias dalam menanggapi dan menginterpretasikan informasi dan fenomena, contohnya, pada tahun 2019 ketika fenomena yang diistilahkan sebagai perang tagar menjadi topik yang cukup hangat, antara tagar #2019gantipresiden dengan tagar #2019tetapjokowi. Tagar pertama dianggap sebagai upaya makar dan provokasi sehingga menimbulkan polemik, masing-masing pihak menjustifikasi tindakannya dengan berbagai argumentasi, sekalipun jelas dalam demokrasi pilihan politik merupakan kebebasan bagi warga negara. Kemudian pada kasus yang belum lama ini menghebohkan masyarakat yakni bencana banjir Jakarta yang memanaskan kembali polarisasi politik pilkada DKI yang tak kunjung usai hingga hari ini. Pendukung Anies Baswedan mendukung mati-matian kebijakan pencegahan dan penanganan banjir DKI Jakarta sementara pihak yang kontra sebaliknya, dan masing-masing memiliki argumentasi sendiri-sendiri. Seandainya masyarakat dapat bersikap lebih netral dan menanggapi setiap isu dengan pemikiran yang lebih jernih, hal semacam ini bisa jadi tidak terjadi, dan diskusi akan lebih mengarah kepada saran-saran dan kritik-kritik konstruktif yang bermanfaat terhadap pembangunan dan pemikiran publik.

Fenomena partisanship membuat publik bersikap tidak netral terhadap suatu isu, dan ini kemungkinan terjadi kepada setiap pihak atau identitas dan komunitas tertentu, baik agama, politik, ataupun suku yang semuanya beresiko mengakibatkan gesekan sosial yang tentunya akan sangat merugikan. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah penolakan masyarakat terhadap pembangunan Gereja di Karimun, Kepulauan Riau dan Gereja Santa Clara di Bekasi. Penolakan tidak hanya disampaikan secara verbal, atau implisit, melainkan aksi masa. Alasan yang dikemukakan pun sulit diterima, dan diskriminatif dengan alasan pembangunan gereja di wilayah mayoritas islam dianggap menyakiti hati umat Islam. Masyarakat tetap melakukan aksi sekalipun pendirian rumah ibadah tersebut sudah mendapatkan IMB. Fenomena serupa juga terjadi di Manokwari, di mana pendirian masjid Rahmatan Lil ‘Alamin mengalami penolakan yang menyebabkan aksi masa pada tahun 2015. Masing-masing pihak tentunya sudah memahami hak kebebasan beragama dan hak pendirian rumah ibadah dari masing-masing umat beragama. Namun, kenyataanya dikarenakan sikap kelompoknya yang condong bersikap berlawanan menyebabkan pemikiran serupa meluas dan akhirnya diamini oleh masyarakat yang bisa jadi sebenarnya tidak menyetujui tindakan tersebut.

Animasi oleh Ulwan S.Z.

Mengubah paradigma masyarakat dalam isu ini tentunya akan jadi perjalanan panjang, yang tidak akan menjadi pekerjaan yang selesai dalam waktu semalam, namun kita bisa memulai upaya dari diri kita sendiri dan orang terdekat kita. Professor Jay Van Bavel memberikan solusi dalam menghadapi situasi demikian, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Solusi pertama, “Selalu berpikir bahwa Anda lebih bias dari yang Anda kira”. Ini artinya saat menerima informasi, penerima harus berusaha keras untuk mencari informasi dengan perspektif yang berbeda dan mengevaluasinya terlebih dahulu, dan dengan selalu mengingat, “Anda lebih bias dari yang Anda kira”. Selain itu, dalam kelompok dengan perspektif serupa terhadap suatu isu, cek fakta dan selalu pertanyakan asumsi Anda mengenai topik tersebut, dan selalu ingatkan orang lain jika Anda menemukan bias dalam diri mereka dalam menanggapi dan menginterpretasikan suatu informasi, atau ketika mereka menerima informasi yang salah, dan ketika anda berusaha mengingatkan orang lain. Berusahalah untuk memahami nilai-nilai yang mereka anut, mengapa mereka berpikir demikian dan bingkailah isu tersebut dengan bahasa dan cara berpikir mereka. Ini dapat membuat perspektif yang Anda sampaikan menjadi lebih dapat diterima. Partisanship. Prilaku bias seperti yang sudah disampaikan di atas, tidak akan hilang begitu saja, tidak akan menjadi pekerjaan yang selesai dalam semalam, namun kita dapat mengusahakannya dengan menjadi pribadi yang lebih netral. Kutipan dari seorang filsuf Nigeria Chuba Okadigbo, dapat menjadi pesan bijak yang dapat kita resapi.

“Ketika Anda secara emosional terikat kuat dengan suku, agama, atau pandangan politik Anda, kebenaran dan keadilan menjadi pertimbangan kedua, pendidikan dan paparan anda menjadi tak berarti. Jika Anda tidak dapat bernalar di luar sentimen Anda, Anda adalah aib bagi umat manusia”.

– Chuba Okadigbo –