Beberapa pekan terakhir, nama Bu Tejo menjadi viral di mana-mana. Sayapun jadi penasaran dan akhirnya tergerak untuk mencari tahu tentang sosok Bu Tejo ini, hingga mampu menjadi trending dan menyedot perhatian khalayak; maya dan nyata. Usut punya usut, ternyata dia adalah nama tokoh utama pada film “Tilik” yang digambarkan provokatif dan sangat jago mengundang kekesalan hingga ubun-ubun. Uniknya di waktu bersamaan ia juga berhasil membuat penonton senyam senyum melihat kelakuannya.

Ilustrasi oleh Ulwan S.Z.

Ada juga Yu Ning, tokoh yang digambarkan kalem, perhatian, peduli, dan konsisten mengcounter asumsi-asumsi bu Tedjo tentang seorang gadis bernama Dian. Yu ning selalu mengingatkan, hati-hati agar tidak terjadi fitnah. Sekilas gadis single bernama Dian membuat saya sebagai penonton sedikit penasaran, sosok yang menjadi buah bibir ibu-ibu diperjalanan “Tilik” atau menjenguk ibu lurah. Rasa penasaran saya teralihkan dengan dinamika konflik yang muncul ditengah ibu-ibu di truk. Semacam proses adu pengaruh antara Bu Tejo dan Yu Ning, kemudian berhasil menyedot simpatisan loyal lain untuk mendukung salah satu dari mereka. Ibu-ibu yang tidak mau terlibat, mereka memilih menjadi floating mass alias masa mengambang.

Bagi Yu Ning, ucapan bu Tejo ini hanya gibah tanpa bukti yang kuat. Tidak terima dituduh seperti itu, Bu Tejo pun mengeluarkan hapenya dan menunjukkan bahwa informasi itu dia dapatkan dari internet dan dunia persosmedan. Bagi bu Tejo internet dibuat oleh orang pintar, jadi segala informasi yang ada di dalamnya adalah benar. Nggak mungkin ngawur.

Konflik mereka semakin klimaks, dari saling respon dengan melibatkan para simpatisan menjadi adu mulut yang alot. Saya membayangkan jika ini terjadi di masyarakat digital, ya seperti adu komen di WAG (Whatsapp group) dengan melibatkan anggota lain untuk ikut terlibat mengirimkan dukungan atau emoticon-emoticon lucu untuk kedua belah pihak. Saking panasnya Bu Tejo dan Yu Ning beradu mulut, mereka mengabaikan kode klakson yang mengindikasikan ada polisi dari Gotrek, si supir truk. Walhasil truk mereka di stop pak Polisi.

Apa yang dilakukan Bu Tejo dan Yu Ning ketika mengetahui ada polisi yang akan menilang mereka? Yesss, mereka melupakan konflik membara di antara mereka dan bersama ibu-ibu yang lain kompak mengikuti provokasi Bu Tejo menggeruduk pak polisi yang dianggap tidak berempati sama sama sekali.

Menurut saya salah satu hal menarik untuk ditengok dari film “Tilik” besutan sineas lokal ini adalah bagaimana ibu-ibu desa ini mengelola perbedaan pandangan dan sikap. Bagaimana mereka melakukan peace building.

Bu Tejo dan Yu Ning mengajarkan kita bahwa kita boleh berbeda pandangan tapi, tidak melunturkan solidaritas. Kita boleh berbeda pendapat tapi, tidak menghancurkan pertemanan. Kita  boleh saling meneriaki yang kadang menimbulkan nyeri hati tapi, tidak saling meninggalkan dan memutus tali persaudaraan dan silaturrahmi.

Bu Tejo dan Yu Ning mengajarkan kita bahwa di manapun kita berkomunitas dan bermasyarakat, Barat sekalipun yang dianggap lebih maju dari dunia Timur, dinamika dan konflik serupa akan selalu ditemukan. Bu Tejo dan Yu Ning dalam sosok lain akan selalu hadir. Tinggal bagaimana kesiapan kita menyikapi konflik dan dinamika. Apakah akan menghindar dan membenci atau menghadapi dan mencair untuk mencoba memahami bahwa berbeda adalah fitrah sebagai manusia.

Bisakah kita seperti ibu-ibu desa ini dalam mengelola perbedaan?