In such seconds of decision entire futures are made

-Dan Simmons-

            Sebuah keputusan yang dibuat hanya dalam beberapa detik dapat menentukan masa depan secara keseluruhan. Kutipan tersebut berasal dari novel karangan novelis Amerika Serikat, (AS) Dan Simmons yang berjudul Hyperion, novel fiksi ilmiah yang mendapat penghargaan Hugo pada tahun 1990. Tulisan ini tidak akan membahas mengenai cerita novel tersebut, namun akan membahas mengenai “dua keputusan” di “dunia nyata” yang telah menyelamatkan dunia dan umat manusia seluruhnya. Sebuah keputusan dramatis yang mempengaruhi keseluruhan masa depan mungkin terdengar fana dan fiktif layaknya cerita dalam film atau novel, namun nyatanya keputusan semacam itu pernah terjadi di dunia nyata, tepatnya pada masa Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

            Pada masa Perang Dingin, terjadi peristiwa krisis tiga belas hari yang dikenal sebagai Cuban Missile Crisis, atau Krisis Misil Kuba. Secara singkat, Krisis Misil Kuba merupakan keadaan dimana Uni Soviet menolak permintaan AS untuk memindahkan misil nuklir mereka dari Kuba dengan alasan nuklir ini merupakan “upaya defensif” untuk mengamankan Kuba dari invasi, dan untuk menjadi penetral dari Misil nuklir AS yang lebih dulu berada di Turki dan Italia.

            Puncak krisis terjadi pada tanggal 27 Oktober. Ketika itu, pasawat mata-mata AS ditembak jatuh oleh Soviet. Pada hari yang sama, kapal selam “bernuklir” Soviet terkena depth charge (peledak khusus untuk kapal selam) kecil dari kapal AS yang mencoba memberi sinyal agar kapal tersebut naik ke permukaan. Dikarenakan kapal selam yang menyelam terlalu dalam, komandan kapal tidak dapat berkomunikasi dengan permukaan sehingga dia menganggap bahwa perang sudah dimulai dan dengan itu kapal selam bersiap untuk peluncuran torpedo nuklir. Keputusan untuk peluncuran bergantung kepada tiga petugas. Dua dari tiga petugas tersebut sudah setuju untuk peluncuran, tetapi seorang laksamana Angkatan Laut Soviet Vasili Arkhipov yang menjadi salah satu penentu keputusan bersikukuh untuk tidak meluncurkan nuklir. Keputusannya hari itulah “keputusan yang menyelamatkan dunia”.  Keputusan yang diambil Arkhipov kala itu bukannya tanpa resiko, dia bisa saja dicap pengkhianat negara, menyebabkan kekalahan Soviet dalam perang, dan hukuman bisa jadi sudah menanti. Naamun, rasa kemanusiaan dan kepala dinginnya telah membuatnya bertahan pada keputusannya, jika tidak perang nuklir sudah pasti tidak dapat terhindarkan.

Keputusan lain yang secara harfiah telah menyelamatkan dunia adalah keputusan yang dibuat Stansilav Petrov pada tanggal 26 September 1983. Kala itu, situasi Perang Dingin kembali memanas. Tidak jauh berbeda dengan tahun 1962, polemik yang terjadi cenderung sama, Soviet melanjutkan misi pengembangan senjata nuklir, AS dan NATO meminta untuk dihentikan sementara AS dan NATO terus melakukan uji coba nuklir, bahkan mengirim pesawat pengebom mereka melintasi ruang udara Soviet.

Situasi yang memanas berawal ketika Uni Soviet menggelar 14 misil nuklir SS-20/RSD-10. Menanggapi kebijakan tersebut, NATO kemudian menawarkan adanya pembatasan persenjataan balistik kepada Pakta Warsawa yang dimotori Uni Soviet. Namun, di saat yang sama NATO juga menggelar misil nuklir Pershing II di Eropa Barat dengan kemampuan menghantam sasaran di Ukraina, Belarus atau Lithuania dalam waktu hanya 10 menit. Dalam situasi yang terus memanas itu, Letnan Kolonel Stanislav Petrov sedang bertugas di bunker Serpukhov-15 dekat kota Moskwa. Bunker itu bukan bunker biasa, sebab dari sanalah sistem peringatan dini satelit Uni Soviet yang diberi nama sandi “Oko”, dikendalikan. Petrov salah satunya bertanggung jawab untuk memantau jaringan peringatan dini serangan nuklir dan melapor ke atasannya jika terjadi kemungkinan serangan nuklir terhadap Uni Soviet.

            Pada tengah malam, komputer di bunker tersebut melaporkan adanya sebuah misil balistik antarbenua menuju ke wilayah Uni Soviet dari Amerika Serikat. Namun, Petrov menganggapnya sebagai kesalahan teknis, karena seharusnya AS langsung mengerahkan ratusan misilnya dalam serangan pertama untuk melumpuhkan kemampuan Uni Soviet melakukan serangan balasan. Komputer kemudian kembali mendeteksi adanya empat misil lain yang semuanya mengarah ke Uni Soviet, Petrov kembali menganggapnya sebagai kesalahan teknis dan tidak melaporkannya ke atasan. Saat itu teknologi satelit menurutnya belum terlalu bisa diandalkan. Belakangan, diketahui peringatan tersebut dipicu kejadian langka di mana sinar matahari yang menembus awan berada sejajar dengan orbit satelit Molniya, sehingga keputusan Petrov terbukti tepat.

            Keputusan yang menyelamatkan dunia dari perang nuklir ini, juga sama seperti keputusan berikutnya, benar-benar beresiko dan tentunya tidak mudah. Bahkan, dalam suatu wawancara dengan BBC, Petrov mengungkapkan bahwa dia hanya duduk membeku di kursinya ketika bunyi sirine beriringan yang menunjukkan nuklir telah diluncurkan. Petrov bisa saja dianggap sebagai pengkhianat negara, menyebabkan kekalahan Soviet dalam perang, dan hukuman bisa jadi juga sudah menanti. Namun, sikap kepala dinginnya dalam mengambil keputusan membuatnya mengambil keputusan yang tepat dan menyelamatkan umat manusia. Petrov kemudian dijuluki sebagai The Man Who Save The World.

            Berada dalam posisi serupa mungkin tidak akan pernah kita alami namun bisa kita bayangkan bagaimana tekanan yang kita alami jika keputusan yang mengakibatkan bencana dan pemusnahan manusia berada di tangan kita. Tentunya, kita akan sangat hati-hati dalam mempertimbangkan keputusan yang akan kita ambil, bahkan bisa jadi “tidak ada keputusan”.

            Resiko perang nuklir mungkin tidak sebesar pada masa itu, dan kita bahkan berharap untuk tidak ada sama sekali. Kita mungkin tidak akan bisa mengikuti tindakan heroik mereka dalam “mencegah” perang nuklir, namun sikap heroik mereka bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-sehari. Keputusan untuk tidak memanas-manasi konflik di media sosial, keputusan untuk tidak mendiskreditkan kelompok tertentu, keputusan untuk tidak membagi informasi yang rentan menimbulkan gesekan seperti isu SARA, politik, dan isu-isu rentan sejenis, sekalipun informasi tersebut benar. Kita bisa menjadi Arkhipov dan Petrov masa kini melalui perilaku di media sosial dan kehidupan sehari-hari.