Lombok Barat— Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Nusa Tenggara Barat tetap melangsungkan agenda tahunan di masa pandemi dengan menerapkan Protokol Kesehatan covid-19. Acara tahun ini bertajuk “Ngopi Coi” yang berasal dari singkatan Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia di Kila Senggigi, Kabupaten Lombok Barat pada Kamis (12/11/20). Seluruh peserta dibagikan alat-alat perlindungan diri seperti face shield, masker, dan hand sanitizer.


Acara ini menghadirkan peserta dari aparatur desa dan kelurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Duta Damai NTB, organisasi pemuda dan instansi lainnya. Acara ini dibuka dengan sambutan dari Ketua FKPT NTB, Lalu Syafi’i yang menyampaikan ucapan terima kasihnya pada BNPT dan informasi mengenai adanya Ponpes yang menganut paham khilafah dan perlu adanya pendekatan di wilayah NTB.

.


Dilanjutkan dengan sambutan oleh Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah, yang mengatakan bahwa misinformasi juga datang dari bawah, terorisme bukan masalah simpel, sehingga dibutuhkan cara yang humanis untuk menanggulanginya.

Acara ini dihadiri oleh beberapa petinggi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), diantaranya Kepala BNPT, Boy Rafli Ammar, Kepala Deputi I, serta Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat. Dalam pidato kuncinya, Kepala BNPT menyampaikan maraknya perekrutan terorisme yang menyasar anak muda yang rentan. Terorisme merupakan antitesa dari falsafah negara Indonesia, terutama karakteristiknya di Indonesia sering mengangkat isu agama.
Sesi talkshow “Ngopi Coi” berjalan dengan lancar, tiga narasumber yang menjadi pemateri pada acara tersebut adalah Ketua Dewan Pers (2016—2019), Yosep Adi Prasetyo. Lalu ada Kabid Media Masa, Hukum, dan Humas FKPT NTB, Tony Edi Wibowo, dan Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat, Andi Intang Dulung. Ketiganya secara interaktif dan saling melengkapi menyampaikan paparan mengenai literasi informasi dan media massa khususnya pada isu radikalisme dan terorisme.
Oleh Yosep Adi Prasetyo atau yang kerap disapa Stanley menyebut acara tersebut sangat bagus dan dibutuhkan.
“Acara ini bagus ya, karena ngomongin yang dibutuhkan masyarakat, digital literasi tapi dengan cara santai, orang tidak diburu-buru dan tidak terlalu tegang tapi mungkin bisa ditangkap oleh audiens”,ujarnya.
Sebagai penutup, Stanley mengharapkan audiens yang hadir dapat membentuk semacam grup diskusi di media sosial untuk saling tabayyun informasi dan clearing house media sosial untuk komunitas masyarakat di Lombok ini. (Amel)