ISLAM: Refleksi Damai dan Kemanusian

Kita percaya bahwa damai merupakan impian bagi semua agama di dunia ini, dan tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan (violence) apalagi mengajarkan terror yang menyebabkan banyak korban meninggal. Namun, dalam praktiknya kita tidak bisa mengingkari bahwa banyak tragedi disebabkan karena sikap fanatik dan kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama, termasuk di agama Islam.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Al-Qur’an menjadi rujukan paling otoritatif bagi seorang Muslim, baik secara pribadi maupun komunal. Sangat kontradiktif ketika kitab suci yang sangat menjunjung tinggi nila-nilai perdamaian ini, dengan sikpa oknum penganutnya yang menjadi biang keladi berbagai terror. Sebagai seorang yang berilmu, kita wajib memahami dan mempelajarai secara utuh semangat pesan-pesan damai di dalam Al-Qur’a,n kemudian meneruskan pesan-pesan damai tersebut di manapun kita berada.

Tentu tidak hanya sebatas pesan semata, tetapi pikiran, ucapan, dan tindakan juga harus dilakukan secara sadar dan konsisten untuk menunjukkan bahwa secara personal maupun sosial kita tunduk pada prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) yang menekankan prinsip kebebasan dan perlindungan hak hidup bagi setiap orang. Sikap perdamaian dan persaudaraan dalam menghargai hak-hak asasi manusia harus menjadi ditegakkan untuk mencapai hidup yang harmoni.

Sebagai agama damai, Islam secara jelas menerangkan kenyataan dan fakta bahwa perdamaian dan Islam berasal dari satu akar kata yang sama, dan bisa dikatakan bahwa Islam adalah sinonim dari perdamaian. Salah satu dari 99 ASMA ALLAH adalah as-Salam (maha damai).  Dalam ibadah sholat lima waktu, Lafazh (kata) yang diucapkan ialah kata-kata perdamaian. Ketika bertemu dengan sesama umat Islam, ucapan “salam” selalu terlontar. Inilah bukti mendasar betapa kuatnya pemahaman perdamaian di dalam Islam.

Jihad atau jahat?

Kata “jihad” dalam al-Qur’an dimaknai sebagai perjuangan. Sayangnya istilah ini sering dipersempit atau disalahpahami artinya. Jihad dipahami sebagai salah satu symbol kekerasan, kekejaman, dan terorisme. Di dalam Al-Qur’an sendiri, terdapat banyak ayat-ayat yang menjelaskan, menganjurkan, dan memerintahkan umat Muslim untuk berjihad (QS Muhammad:31, QS. Al-Ankabut: 69, QS. Al-Furqon: 52, QS. Al-Ankabut:6, QS. Al-Maidah: 35, QS. AL-Baqarah: 218). Tentu dengan konteks dan kedudukan yang berbeda-beda, serta latar belakang asbabun nuzul yang variatif. Poin utama dari makna jihad adalah kesungguhan untuk dekat dengan Allah sebagai wujud penghambaan seorang hamba.

Maraknya aksi terorisme dan radikalisme mengatasnamakan Islam meneyebabkan banyak pihak takut mendengar kata “Jihad”. Munculnya Islamphobia diawali dengan respon masyarakat atas tragedi pengeboman dan vilolent extremism yang mengaku sebagai Gerakan jihad, ditambah dengan tragedi Gedung WTC 11 September 2001 telah membawa perubahan besar hubungan barat dan dunia Islam. Deklarasi perang oleh Amerika Serikat kepada terroris di Afghanistan adalah awal dari kompleksnya hubungan internasional, terutama terkait dengan terorisme. Isu terorisme internasional muncul dan sangat ketat memojokkan . Ini perlu dikaji dan dikritisi!

Misunderstanding memaknai jihad menjadi penyebab timbulnya konflik dan rantai kebencian berkepanjangan, hal ini semakin menggelisahkan masyarakat bahkan di kalangan internal umat Islam sendiri.

Islam adalah agama dinamis dan relevan mengikuti perkembangan zaman dan kita adalah representasi dari Islam itu sendiri, kita adalah penentu wajah Islam karena wajah Islam adalah wajah kita. Berjihadlah atas dasar kemanusiaan karena Tuhan memerintahkan demikian.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *