Millenials Melek Damai!

Pernahkah kalian berpikir menjadi generasi muda hari ini terasa jauh lebih berat dari generasi sebelumnya. Mengapa berat? Tentu jawabannya adalah melanjutkan cita-cita dan perjuangan mereka (generasi muda sebelumnya). Hal ini bukan sesuatu yang bisa dikatakan mudah. Nilai-nilai kebangsaan dan keharmonisan di tengah keberagaman merupakan sesuatu yang wajib dipertahankan dengan sekelumit hambatan dan tantangan besar.

Ilustrasi oleh Ade Sukma

Dulu masalah utama yang dihadapi pemuda-pemudi Indonesia adalah tidak adanya persatuan dalam melawan penjajah, sehingga lahirlah Sumpah Pemuda (1928) sebagai momentum perjuangan bangsa kita. Para Jong dari berbagai daerah berkumpul bersatu berikrar satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Hari ini, yang terjadi setelah semuanya bersatu ada upaya-upaya dari sekelompok orang yang berusaha memecah belah persatuan bangsa kita. Baik itu di dunia nyata, maupun di dunia maya. Dengan berbagai alasan perbedaan seperti ideologi, cara pandang, doktrin agama, aliran-aliran baru, cara berpikir, kepentingan politik, sentimen antar ras, hasutan-hasutan, kebohongan-kebohongan (hoax), dan masih banyak lagi. Mereka mencuci otak (brain washing) anak-anak muda, alhasil mereka semakin jauh dari dirinya dan jati diri bangsanya.

Generasi muda yang harusnya menjadi ujung tombak dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan malah kerap menjadi korban. Siapa yang salah dalam hal ini? A. Pemerintah B. Generasi Muda yang kurang ilmu alias bodoh, C. Keluarga, atau D. Semuanya benar. Jawaban kalian cukup disimpan dalam hati, karena semua pasti memiliki pembenaran sendiri. Tugas kita bukan untuk saling menyalahkan tapi, berupaya keras bagaimana melakukan sesuatu yang berarti untuk generasi muda agar mereka semakin menyadari pentingnya sebuah perdamaian.

Upaya keras untuk menjaga perdamaian dapat kita mulai dengan langkah kecil, pertama mawas diri dengan agama, agama bukanlah alasan kita untuk melegalkan suatu tindakan buruk. Kedua, menjauhi lingkungan yang ekstrim (dalam beragama). Ketiga, memilih bacaan yang berkonten positif, kreatif, dan tentunya informatif. Keempat, mendukung seribu persen dalam menyuarakan perdamaian di manapun kita berada. Yang terakhir, menanamkan nilai-nilai Pancasila, Wawasan Kebangsaan, dan NKRI mutlak tidak bisa diganggu gugat.

Generasi muda yang hebat adalah generasi yang mencintai perdamaian dimanapun mereka berada. Itulah cerminan dari suatu bangsa yang beradab dan bermartabat.

Entah bagaimana tercapainya “persatuan” itu, entah bagaimana
rupanya “persatuan” itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke
Indonesia Merdeka itu, ialah ”Kapal Persatuan” adanya. ___ Di Bawah Bendera Revolusi

Indahnya bersatu dalam damai!

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *