Kasus Teror Sigi, Mereka Mencontoh Siapa ? Part 2

Sepeninggal pertemuan dengan kakek tua itu, Amr bin Ash memutuskan melalui surat untuk tetap mendirikan masjid dan menggusur gubuk reyot kakek yahudi tersebut. Yahudi tua itu pun bertekad hendak mengadukan perbuatan gubernur tersebut kepada atasannya di Madinah, yaitu Khalifah Umar bin Khattab. Untuk itu dia pun berangkat mengarungi panjangnya jalan di gurun pasir yang panas menyengat, menuju ke Madinah demi menuntut haknya kepada atasan Amru bin Ash ke pada Khalifah Umar bin Khatab.

Sesampai Madinah, konon Yahudi tua yang belum pernah melihat sosok sang khalifah itu pun menemui seorang pria yang tengah duduk di bawah pohon kurma.

“Wahai tuan, tahukah Anda di mana khalifah?” kata si Yahudi.

Orang itu menjawab, “Ada apa kamu mencarinya?”

“Aku ingin mengadukan sesuatu.”

“Di manakah istananya?” tanya Yahudi lagi.

“Di atas lumpur,” jawab lelaki itu.

Si Yahudi bingung dengan jawaban tersebut.

“Siapa pengawalnya?” tanya Yahudi lagi.

“Pengawalnya orang-orang miskin, anak yatim, dan janda-janda tua,” jawab orang itu.

“Apa pakaian kebesarannya?” Si Yahudi makin penasaran.

“Pakaian kebesarannya adalah malu dan takwa.”

“Di mana ia sekarang?”

“Ada di depanmu.”

Si Yahudi pun tercengang kaget. Ternyata, khalifah yang dicari si Yahudi itu ada di hadapannya. Ia lalu menceritakan permasalahannya dengan gubernur Mesir Amr bin Ash. Mendengar ceritanya, mendadak roman wajah Umar bin Khattab berubah merah padam. Dengan murka ia berkata, “Perbuatan Amr bin Ash sudah keterlaluan!”.

Sesudah agak meredakan emosinya yang meluap, Umar lantas menyuruh Yahudi tersebut mengambil sebatang tulang dari tempat sampah yang berada di dekatnya. Yahudi itu pun ragu melakukan perintah tersebut. Dia bertanya-tanya: Apakah ia salah dengar?

Tetapi setelah tulang diambil dan kemudian diserahkan kepada Umar. Oleh sang Khalifah, tulang itu digoreti huruf alif lurus dari atas ke bawah, lalu dipalang di tengah-tengahnya menggunakan ujung pedang. Kemudian tulang itu diserahkan kepada si kakek seraya berpesan, “Tuan. Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir, dan berikanlah pada gubernurku Amr bin Ash.”

Setelah tiba kembali di Mesir, maka ia kemudian menemui Gubernur Amr bin Ash. Dia mengatakan telah bertemu dengan Khalifah Umar bin Kahatab dan mendapatkan titipan tulang onta untuk disampaikan kepadanya. Anehnya, begitu tulang yang tak bernilai tersebut diterima oleh Gubernur Amr bin Ash, tak disangka mendadak tubuhnya gemetaran. Tubuhnya menggigil dan wajahnya menyiratkan ketakutan yang amat sangat, seketika itu pula ia memerintahkan segenap anak buahnya untuk merobohkan masjid yang baru siap, dan supaya dibangun kembali gubuk milik kakek Yahudi serta menyerahkan kembali hak atas tanah tersebut. Setelah mengumpulkan anak buahnya, Amr bin Ash kemudian pergi ke lahan milik Yahudi itu. Tujuannya, hendak memimpin sendiri merobohkan masjid dan rumah sang gubernur yang hampir selesai dibangun. Amr bin Ash tak menghiraukan bila pembangunan tersebut telah memakan dana besar.

Melihat itu, tiba-tiba saja kakek Yahudi dengan buru-buru mendatangi Gubernur Amr bin Ash kembali.

“Ada perlu apalagi, Tuan?” tanya Amr bin Ash yang berubah sikap menjadi lembut dan penuh hormat.

Dengan masih terengah-engah, Yahudi itu berkata, “Maaf, Tuan. Jangan dibongkar dulu masjid itu. Izinkanlah saya menanyakan perkara pelik yang mengusik rasa penasaran saya.”

“Perkara yang mana?” tanya gubernur tidak mengerti.

“Apa sebabnya Tuan begitu ketakutan dan menyuruh untuk merobohkan masjid yang dibangun dengan biaya raksasa, hanya lantaran menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?”

Gubernur Amr bin Ash berkata pelan,”Wahai Kakek Yahudi. ketahuilah, tulang itu adalah tulang biasa, malah baunya busuk. Tetapi karena dikirimkan Khalifah, tulang itu menjadi peringatan yang amat tajam dan tegas dengan dituliskannya huruf alif yang dipalang di tengah-tengahnya.”

“Maksudnya?” tanya si kakek Yahudi makin keheranan.

“Tulang itu berisi ancaman Khalifah: Amr bin Ash, ingatlah kamu. Siapapun engkau sekarang, betapapun tingginya pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Karena itu, bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus, adil di atas dan di bawah. Sebab, jika engkau tidak bertindak lurus, kupalang di tengah-tengahmu, aku tebas batang lehermu.”

Mendengar perkataan sang gubernur, mendadak Kakek Yahudi itu menunduk terharu. Ia kagum atas sikap khalifah yang tegas dan sikap gubernur yang patuh dengan atasannya hanya dengan menerima sepotong tulang, maka yahudi itu kemudian menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai wakaf. Keadilan dan rasa hormat terhadap penganut agama lain sangat dijunjung tinggi oleh Nabi dan para sahabat, yang kerap kita temui tidak dicontoh oleh masyarakat, dan terutama, jelas oleh kelompok ekstrimis yang mengatasnamakan agama. Bayangkan saja pemerintahan “tiran” macam apa yang akan mereka jalankan jika berhasil mewujudkan tujuan mereka, jika fenomena pembantaian biadab sudah terjadi bahkan saat mereka dalam posisi yang lemah.

Kadangkala kita amat bersemangat dalam mengenang kejayaan Islam dari segi penguasaan teritori, dan jihad yang bersifat fisik (yang notabene memiliki aturan yang baku), namun kurang bersemangat dalam mengenang kemuliaan akhlak dan lemah lembutnya sikap Rasulullah dan para sahabat terhadap semua manusia, tanpa memandang suku, ras ataupun agama, sehingga banyak diantara kita yang cenderung bersikap tidak adil dan diskriminatif terhadap kaum yang berbeda.

Semoga Allah selalu memberi hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dijauhkan dari segala penyakit hati, termasuk kebencian yang dapat mendorong kepada perilaku ekstrim yang dapat melalaikan kita dari mencontoh Nabi, dan dapat membuat kita secara tidak sadar lupa seharusnya mencontoh siapa.

Yundari Amelia Chandra & M. Royyan

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *