Kekuatan Pemuda dalam Membangun Sikap Toleran

Sejumlah studi menunjukkan Intoleransi, Kebencian & Radikalisme telah masuk dan berkembang di berbagai kalangan, termasuk pemuda atau generasi millennial. Karena itu pemerintah dan Pusat Kajian Islam dan Kenegaraan (PSIK) terus menggalakkan program dan kegiatan bertema keindonesiaan berupaya menanamkan bibit perdamaian pada anak muda.

SETARA Institute for Democracy and Peace mencatat sekitar 200 peristiwa pelanggaran KBB dengan total 327 tindakan dan kasus-kasus intoleransi terjadi di masa pandemi COVID-19. Tidak berhenti di situ kasus pengeboman Gereja Kathedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri di bulan Maret dan April melibatkan pemuda.

Dalam acara Webinar Ramadan Seri #1 bertajuk “Benturan Kebencian: Gejala Intoleransi Kalangan Pemuda” (29/04/2021) yang diadakan oleh Pusat Kajian Islam dan Kenegaraan (PSIK) menghadirkan 3 narasumber utama yakni Sakdiyah Ma’ruf, S.S., M.A (pegiat kebhinekaan), Dr Aris Munandar (Soisiolog Universitas Nasional) dan Yanuardi Syukur (Presiden Rumah Produktif Indonesia dan Peneliti CSPS Universitas Indonesia).

Dalam sambutannya mewakili Friedrich Elbert Stiftung Ibu Mian Manurung menyampaikan “Telah terjadi kemunduran dalam kehidupan bertoleransi kita di dalam budaya multikulti Indonesia dan yang terjadi hari ini merupakan buah dari kejadian 15 atau 25 tahun lalu, atau bisa jadi disebabkan oleh situasi global saat ini. Maka dari itu untuk anak-anak muda, gunakanlah berbagai forum untuk berdiskusi secara akademik dengan pikiran terbuka dan progresif tanpa ada rasa mencurigai satu dengan yang lain agar kita bisa hidup bersama dalam keberagaman yang selalu kita agung-agungkan dan kita nikmati dalam kehidupan multikulti Indonesia.”

Sementara itu Sakdiyah Makruf menyampaikan ” Saya dikenal sebagai komika muslimah pertama di Indonesia dan sering mengangkat berbagai isu-isu tentang kehidupan umat Islam terutama cara mencegah kekerasan ekstrimisme melalui proses dialog-dialog melalui medium humor. Hal ini membuat saya sering mendapat pertanyaan. Mengapa sering mengangkat isu-isu yang sensitif? Saya pikir ini harus dievaluasi bersama. Selama ini ketika kita berbicara tentang kehidupan umat beragama itu masih dianggap sebagai isu yang sensitif yang akhirnya perbincangan-perbincangan ini berlangsung di bawah radar.”

Dia juga menambahkan pengalamannya yang kerap menerima perlakuan intoleran dari sejumlah pihak dan identitas keberagamaan terutama Islam yang di represi di era Orde Baru kemudian melahirkan identitas-identitas baru yang turut mempengaruhi cara pandang anak-anak muda saat ini. Tungkasnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *