Teori Konspirasi dan Sisi Gelap Filter Bubble

Saban hari ada pesan seorang kawan masuk di grup WhatsApp. Ia khawatir karena ibunya masih belum percaya bahwa Covid-19 itu ada. Ibunya percaya bahwa Covid-19 hanya akal-akalan dan digembar-gemborkan oleh media—pun beliau bilang ini hanya konspirasi, ada kepentingan di balik narasi Covid-19. Sebab itulah, si kawan tadi kemudian meminta saran bagaimana harus meluruskan paradigma ibunya.Mendengar curhatan kawan tadi, saya kemudian teringat pada salah satu drama yang baru saja selesai saya tonton: Sky Castel. Saya tidak akan bercerita panjang lebar drama ini tentang apa, namun saya melihat, beberapa tokoh dalam drama ini merupakan jenis manusia yang tidak bisa belajar dari kemalangan orang lain. Mereka hanya akan faham jika kemalangan menimpa mereka. Tapi, tentu saja saya tidak berdoa agar ibu kawan saya tadi tertimpa kemalangan berupa terjangkit Covid-19—misalnya.Sudah terlampau banyak cerita dan berita tentang orang yang menderita karena Covid-19, dari gejala yang ringan, berat, bahkan meninggal. Namun, itu semua tidak dapat meyakinkan banyak orang bahwa ancaman virus ini nyata adanya. Seorang kawan lain pernah beranalogi seperti ini. “Kita berteduh di dalam rumah, bukan berarti tidak ada hujan di luar sana.” Ini serupa dengan dengan, “Kita tidak terkena Covid-19, bukan berarti virus ini tidak ada.”Jika benar klaim bahwa virus ini hanya akal-akalan, bagaimana mungkin ada dua juta orang terinfeksi di luar sana, yang hanya berpura-pura sesak berjamaah, bahkan sampai prank meninggal?Maka dari itu pada kawan tadi saya beri penjelasan untuk memahami logika berfikir. Awalnya, saya bertanya, “Bisakan ibumu membedakan dua hal yang berbeda? Pertama, orang-orang yang memanfaatkan keadaan ini seperti bisnis vaksin, alat kesehatan (alkes), dan lain sebagainya. Kedua, orang-orang yang terkena Covid-19.Kita tidak bias mengatakan bahwa virus ini tidak ada karena ada oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya sendiri. Contoh kasus, ada isu rumah sakit yang “meng-Covid-kan” pasien meninggal dunia untuk mendapatkan anggaran dari pemerintah. Adanya isu ini, tidak bias menihilkan fakta bahwa virus covid itu ada. Adanya isu atau klaim pertama tadi tidak dapat menihilkan fakta kedua.Kalau ibunya tidak mampu membedakan kedua hal itu, kita anggaplah ibunya benar dengan segala teorinya. Virus ini pekerjaan elit global untuk berjualan vaksin, mengontrol populasi dengan mengeliminasi orang-orang yang memiliki penyakit bawaan, dan lain sebagainya. Singkatnya, anggaplah ini adalah upaya untuk berbisnis vaksin. Tapi, bagaimana mungkin mereka akan berjualan vaksin, jika penyakit itu tidak ada? Maka, sebelum elit global berjualan vaksin, Covid-19 harus ada dulu dan menjangkiti banyak orang. Dengan anggapan seperti itu, harusnya ibu kawan saya tadi berkesimpulan bahwa covid itu ada dan nyata, bukan malah sebaliknya: logikanya nggak masuk. Untuk memahami maksud saya tadi, mari kita uji dengan premis-premis seperti ini:Premis 1: Elit global dapat berbisnis vaksin jika orang-orang terinveksi virusPremis 2: Orang-orang terinveksi virusKesimpulan: Maka elit global dapat berbisnis vaksin.Dari premis di atas, tidak dapat disimpulkan bahwa “covid tidak ada”, “tidak nyata”. Saya tidak tahu premis seperti apa yang harus dibuat agar kesimpulan yang didapat adalah “covid itu tidak ada”. Pertanyaan selanjutnya, kemudian, mengapa orang-orang begitu doyan mengakses teori konspirasi seperti ibu kawan yang saya ceritakan di atas?Mengapa orang doyan mengakses teori konspirasi?Oxford English Dictionary mengartikan teori konspirasi sebagai suatu teori bahwa, kejadian atau gejala timbul sebagai konspirasi antar pihak yang berkepentingan, adanya lembaga yang bertanggungjawab atas kejadian yang tidak dapat dijelaskan. Lebih jauh lagi, menurut Douglas, Sutton, & Cichoka (2017,2019) ada tiga motivasi yang mendasari mengapa orang percaya pada teori konspirasi. Pertama, kebutuhan untuk memahami atau menjelaskan fenomena. Ketidaktahuan dan perasaan terombang-ambing dalam situasi yang tak pasti mendorong seseorang mencari tahu. Tak dapat dipungkiri, kita memiliki rasa keingintahuan untuk memahami sesuatu yang kita anggap ganjil. Tapi, bagi penganut teori konspirasi, penjelasan umum tidaklah cukup. Dalam peristiwa besar seperti pandemik Covid-19 misalnya, ada banyak informasi berceceran. Akan tetapi orang membutuhkan kesimpulan utuh atas kejadian ini. Di sinilah kemudian teori konspirasi muncul sebagai alternatif yang mampu mengakomodasi kebutuhan akan informasi agar seseorang tidak terombang ambing dalam ketidakpastian berupa informasi yang masih tercecer di sana-sini. Padahal, untuk menjelaskan suatu hal yang besar tentu membutuhkan waktu dan proses yang panjang.Selain itu,teori konspirasi cepat diterima karena dapat mengafirmasi kepercayaan dari seseorang. Jika seseorang itu dalam posisi yang lemah, ia akan lebih mudah menerima teori konspirasi, karena teori konspirasi ini sering kali menjadikan sosok yang berkuasa, kuat, sebagai dalang dari suatu kejadian. Dilansir dari tirto.id, Joseph Uscinski, Professor Ilmu Politik dari University of Miami, menyebutkan bahwa, “Teori konspirasi merupakan alat bagi yang lemah untuk menyerang sekaligus bertahan melawan yang kuat.” Kedua, alasan eksistensial. Manusia memiliki kebutuhan dasar akan rasa aman. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kadang kala penjelasan umum tidaklah cukup bagi penganut teori konspirasi untuk dapat memahami suatu fenomena. Teori konspirasi memberikan opsi lain berupa sosok yang harus bertanggung jawab atas suatu kejadian. Ini membuat mereka merasa lebih lebih lega dan aman karena mengetahui siapa dalang di balik sebuah kejadian. Selain itu penganut teori konspirasi merasa lebih memiliki kuasa karena merasa lebih tahu daripada orang yang dianggap awam pada umumnya. Terakhir, alasan sosial. Seseorang memiliki kebutuhan untuk menjaga pandangan positif terhadap dirinya dan kelompoknya. Mengutip dari remotivi.or.id, narasi konspiratif dijadikan alat pelindung seseorang dan kelompoknya untuk menyudutkan orang lain atas peristiwa negatif. Gerakan anti-Asia beberapa waktu, misalnya, tak hanya merebak di Amerika dan sebagian negara Eropa, tapi juga di India. Hal ini dipicu oleh Covid-19 yang pada awalnya muncul di Wuhan, Cina. Bahkan Trump sempat menyebut Covid-19 sebagai Virus Wuhan atau Kung Flu.Lantas, bagaimana teori konspirasi begitu mudah menyebar? Khususnya di kalangan emak-emak?Filter Bubble Berkat jaringan internet, arus informasi menyebar begitu cepat. Siapa saja—dengan mudahnya—dapat mengakses informasi melalu berbagi laman/situs, media sosial, bahkan fitur chat. Seperti informasi lainnya, teori konspirasi dengan mudahnya menjamur di dunia digital karena dukungan oleh sisi gelap algoritma. Awalnya algoritma ini membantu untuk memudahkan pencarian di internet dan membantu mengiklankan sesutu berdasarkan preferensi pengguna media sosial. Acap kali algoritma ini menyarankan atau menampilkan informasi terkait pencarian sebelumnya atau hal-hal yang disukai, serta yang sering dikunjungi oleh penggunanya. Algoritma akhirnya menciptakan gelembung yang mengisolasi seseorang secara intelektual. Gelembung itu sering disebut sebagai filter bubble. Terisolasi secara intelektual membuat seseorang jarang melihat sudut pandang berbeda dari orang lain, hal ini memungkinkan ia berlarut-larut dalam pandangannya sendiri. Hal ini berbahaya karena ia akan memiliki kencerungan untuk melihat dunia dari sudut pandangnya saja. Akibatnya, seseorang meyakini bahwa kebanyakan orang sepaham dengannya dan menyimpulka bahwa pemikirannya diamini banyak orang, padahal bisa saja, di tempat lain faktanya tidak seperti itu.Melalui konsep filter bubble ini, kita dapat memahami bagaimana teori konspirasi tumbuh subuhrdi dunia digital, karena informasi yang seragamlah yang terus disuguhkan sehingga kepercayaan akan pandangan seseorang semakin menjadi-jadi. Dan ketidak dihadapkan pada narasi atau pandangan berbeda, hal itu diangap sebagai bagian dari konspirasi pihak-pihak yang berkepentingan seperti yang diyakininya. Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia sejak Senin lalu (21/06) telah mencapai angka dua juta kasus. Per 24 Juni 2021, Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia untuk penambahan kasus Covid-19 dengan 20.574 kasus dalam sehari. Pada hari ini (27/06) penambahan kasus dalam sehari meningkat menjadi 21.342, sehingga total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 2.115.304 orang. Total pasien meninggal dunia karena Covid-19 mencapai 57.138 orang dan pasien sembuh berjumlah 1.850.481 jiwa. Peningkatan jumlah korban seharusnya membuat kita semakin waspada, memperketat protocol kesehatan, bukan malah terlena karena termakan teori-teori konspirasi yang tersebar. Selain itu, kita harus menyaring setiap informasi sebelum menyebarkannya, terlebih informasi itu berpotensi membahayakan jiwa orang lain; semisal, dengan mengatakan Covid-19 ini hanya hoaks dan tidak benar adanya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *