Memetik hikmah Idul Adha : Belajar Sabar, Yakin, dan Ikhlas

Sejak subuh menjelang pada hari Selasa, tepat 10 Dzulhijjah, orang-orang berbondong-bondong menuju masjid agar memperoleh tempat duduk demi mengikuti Shalat Idul Adha secara berjamaah, sebab tahun ini kita dipaksa kembali merasakan adanya pembatasan jumlah orang dalam kegiatan-kegiatan besar. Jarak duduk mulai diatur, lengkap dengan masker. Barangkali dalam benak bertanya-tanya “kapan berakhirnya ya kondisi ini ?”Diantara riuh sepi pikiran, sayup-sayup terdengar khatib menyampaikan khutbah tentang Idul Adha. Kewajiban untuk berkurban, serta perhitungan pahala sebagaimana besar dan kecilnya hewan kurban yang dipersembahkan. Tetapi esensi hari raya kurban tak hanya soal yang demikian tersebut, ada banyak hikmat yang dapat diambil dari sepenggal kisah perjalanan adanya hari raya kurban. Belajar dari kesabaran Ibrahim AS yang bertahun-tahun menunggu adanya buah hati, dan buah kesabarannya tersebut akhirnya dijawab oleh Allah setelah Siti Sarah istrinya yang setia mendampinginya memintanya menikah dengan Siti Hajar yang akhirnya oleh Allah dikaruniai anak yakni nabi Ismail AS. Namun tak lama setelah pernikahan Ibrahim AS, Siti Sarah pun hamil dan melahirkan nabi Ishaq. Seperti konflik keluarga pada umumnya, rasa cemburu pada Siti Sarah mengharuskan Nabi Ibrahim untuk memindahkan Siti Hajar beserta ismail ke mekkah. Dan dalam perjalanan itu Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anaknya tersebut dalam kondisi kelaparan serta kehausan. Namun yang demikian tadi tidak menjadikan keduanya merasa takut ataupun putus asa, sebab meyakini itu adalah perintah Allah, Ialah yang akan menjaga mahluknya. Berkat keyakinan itulah Siti Hajar dan Ismail bertahan. Cobaan yang datang kepada nabi Ibrahim dan anaknya Ismail tidaklah sampai disitu , ditengah ranumnya ia mengecap kebahagiaan memiliki keturunan, Allah memberinya perintah untuk mengorbankan anaknya Ismail dengan cara disembelih. Lantas apakah Nabi Ibrahim AS langsung menuruti perintah tersebut? Jawabannya tidak. Sebab bagaimana mungkin ia begitu saja rela mengorbankan anaknya yang telah lama dinanti-nanti. Dengan itu kemudian ia bermusyawarah dengan Ismail terkait perintah Tuhannya tersebut. Nabi Ismail yang dengan penuh keyakinan dan kerelaannya kepada Allah akhirnya menyetujui untuk disembelih sebagai bentuk ketaqwaanya. Pada akhirnya pun, melihat kepatuhan dan kesungguhan hambanya yang demikian Allah melalui perantara malaikatnya, menggantikan posisi Ismail yang hendak disembelih menjadi seekor domba. Dan hal tersebutlah yang akhirnya menjadi cikal bakal adanya hari raya qurban. Menyimak kisah tersebut diatas, lantas apa yang dapat kita jadikan pelajaran serta kita serap pada keadaan yang sedang nampak tak baik-baik saja saat ini? Sekurang-kurangnya ada tiga hal diantaranya, kesabaran, keyakinan, serta kerelaan. Dalam menghadapi situasi saat ini dibutuhkan kesabaran ekstra yang dapat membentengi kita dalam mengelola emosi dan stress berlebih. Sebab berdasarkan hasil periksa mandiri laman resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) tak terelakkan sejak pandemic sebanyak 64,3 persen dari 1.522 orang responden memiliki masalah psikologis cemas atau depresi dampak dari pandemi COVID-19. Hal ini tentu merupakan masalah serius, yang berkaitan dengan kewarasan kita dalam menghadapai kondisi saat ini. Sebabnya melatih kesabaran untuk menahan diri dari bepergian jika tidak diperlukan, telaten dan tertib menggunakan masker, serta mengikuti protocol keamanan adalah bentuk ikhtiar kita dengan harapan kondisi ini cepat membaik. Keyakinan serta keikutsertaan kita dalam menjaga dan mentaati aturan dan arahan dari berbagai lini termasuk dari ulama-ulama yang terus dengan tidak bosan-bosannya mengajak kita menuju kebaikan adalah bentuk meyakini yang merupakan dasar kita dalam berperilaku. Keyakinan bahwa arahan tadi demi kebaikan kita bersama tentu saja tidak menjadikan kita harus menuruti segala arahan tanpa berfikir serta belajar. Kita sebagai warga negara tetap memiliki hak untuk bersuara, serta menyampaikan aspirasi sebagaimana Ibrahim dan Ismail yang bermusyawarah tadi. Terakhir adalah kerelaan. Bab kerelaan adalah hal yang paling berat bagi kebanyakan kita. Tengoklah telah berapa banyak kematian serta berita duka dari sekeliling selama pandemi ini. Jika hati kita keras dan enggan merelakan pengorbanan-pengorbanan yang kita lakukan maupun yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling kita tentunya rasa berat hati akan mengungguli yang menyebabkan dendam dan amarah tak berkesudahan serta berujung pada ketidak tentraman hati. Demi hal tersebut mari di hari yang sungguh penuh pengorbanan ini mari hendaknya hadiahkan sebanyak-banyaknya Alfatihah serta doa-doa untuk sekeliling kita, untuk mereka yang tekah gugur terlebih dahulu dalam kondisi sulit ini. Jadikan lah kesempatan ini untuk meneguhkan hati mencapai kerelaan tersebut. Sebab sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur-an sebagaimana berikut ini ,Firman Allah : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Albaqarah 214).Singkatnya ujian dan cobaan yang ditimpakan kepada manusia adalah bentuk dari ujian untuk menaikan derajatnya sebagai orang yang mengaku bahwa dirinya beriman. Dengan demikian itu, yakinlah kepada ketetapan Allah, mari sama-sama saling rangkul dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga berkah dan Kesehatan selalu melingkupi kita semua. Amin. Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H. Jaga diri, jaga keluarga kita.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *