The Dog Who Dare to Dream : Anjing yang memimpikan kehangatan

Jika anda penggemar Hallyu—istilah yang merujuk pada popularitas hiburan budaya Korea di seluruh Asia, baik K-POP maupun K-Drama, mungkin anda juga perlu memperluan khazanah perhallyuan anda dengan membaca salah satu novel milik Hwang Sun-Mi. Novel ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia. The Dog Who Dare to Dream bekisah tentang konflik batin seekor anjing bernama Bulu Panjang dan majikannya. Bulu Panjang tinggal bersama ibunya yang bernama Kuning dan saudara-saudaranya di rumah sang majikan yang bernama Tuan Pita Suara. Bulu Panjang memiliki penampilan yang agak berbeda dari saudaranya yang lain, itulah mengapa ia kerap kali terasingkan.Cerita di novel ini bisa dibilang cukup sederhana, konflik-konflik yang dibangun tak sampai membuat emosi pembaca seperti rollercoaster. Penulis menggambarkan kehidupan sehari-sehari dengan apik. Cara Hwang Sun-Mi mendeskripsikan latar tempat dan suasana mampu membangkitkan kenangan sentimentil tentang keluarga. Permasalahan yang diangkat tak jauh dari problem pasangan tua pada umumnya, seperti kerinduan orangtua akan rumah yang rumah ramai dan hangat, rumah yang dipenuhi celotehan dan gelak tawa cucu, penyakit fisik yang kerap singgah di usia senja, masalah finansial, dan lainnya. Lebih jauh, Hwang Sun-Mi juga banyak menggambarkan pasang surut hubungan si Bulu Panjang dan sang majikan. Konflik dari novel ini bermula ketika musim dingin tiba, sang Tuan Pita Suara dan istrinya sedang tak di rumah. Saat itu, Ibu Kuning dan anak-anaknya kelaparan karena Tuan Pita Suara belum pulang untuk memberi mereka makan. Tiba-tiba, sekerat daging jatuh dari langit. Awalnya sang ibu, meminta anak-anaknya untuk menjauh dari daging yang terlihat mencurigakan itu. Setelah si Kuning mengendus-endus daging itu, entah karena sudah tak tahan lagi menahan lapar atau terdorong kuatnya insting, si Kuning dan anak-anaknya akhirnya melibas habis daging itu, kecuali si Bulu Panjang, Ia tak menyentuh daging itu sama sekali. Melihat keluarganya makan dengan lahap, ia kemudian menyesal karena tak mecicipi daging yang amat menggiurkan itu. Si Bulu Panjang terpaksa harus menahan lapar sampai sang majikan pulang. Namun, beberapa saat setelah daging tersebut habis, semua anjing terkapar, tak terkecuali si induk anjing. Tak lama setelah itu, ada bau aneh tercium dari kejauhan. Sesosok laki-laki kemudian muncul dari balik gerbang dengan mambawa keranjang besi, sosok itulah yang merenggut seluruh keluarga Bulu Panjang. Si Bulu Panjang berusaha melawan, mengejar, bahkan mengigit si pria misterius, namun ia terlampau belia untuk melindungi seluruh keluarganya dari kejamnya musim dingin. Keluarganya menghilang bersama bayangan si lak-laki berbau memusingkan itu. Begitulah kehidupan Bulu Panjang sampai seterusnya, Ia dipaksa bergulat dengan kehilangan-kehilangan. Setelah musim dingin berlalu, Bulu Panjang masih tetap merindukan keluarganya. Seperti tuannya yang menginginkan rumah yang penuh dengan suara anak-anak dan kengatan, ia pun demikian. Setelah berselang cukup lama, akhirnya Bulu Panjang memiliki anak-anak. Namun, ia pun kembali dipaksa oleh musim dingin dan kencangnya angin untuk berpisah dengan mereka. Hanya seekor yang tersisa untuk menemaninya hingga menjelang akhir. Kehilangan demi kehilangan yang dialami si Bulu Panjang membawa saya pada kesimpulan, bahwa keinginan akan kehangatan tak hanya inheren ada manusia, namun juga setiap mahluk yang mampu merasa. Setelah dipaksa untuk berpisah dengan anak-anaknya, hubungan Bulu Panjang dan Tuannya menjadi cukup rumit. Penulis kadangan menggambarkan hubungan mereka begitu akrab layaknya sahabat, kadang opressif seperti tuan dan peliharaan, kadang kala seperti musuh yang saling membenci. Namun, keadaanlah yang memaksa sang tuan untuk mengambil beberapa keputusan berat itu. Dan betapapun Bulu Panjang membenci beberapa pilihan yang diambil oleh Tuan Pita Suara, tetap saja tuannya itu selalu memiliki cara untuk membuatnya luluh kembali. Penggambaran tentang kehidupan pinggiran kota dan rumah-rumah sederhana, tentu agak berbeda dari cerita dalam K-drama kebanyakan yang lebih banyak diisi dengan kehidupan glamor dan romance. Novel ringan ini patut dipertimbangkan untuk menjadi salah satu opsi buku bacaan di masa PPKM. Stay safe ya sobat damai di manapun anda berada

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *