Menjajal Nilai-Nilai Kemanusiaan pada Tradisi “Belangar”

Kematian merupakan salah satu hal yang paling pasti di dunia. Tak mengenal jenis kelamin, usia, warna kulit, ukuran sepatu, jumlah follower instagram, viewers di kanal youtube, atau mendapat julukan sultan, manusia pasti akan bertemu dengan ajalnya. Seperti yang tercantum dalam QS. Ali Imran: 185 yang berbunyi “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” Pun demikian dengan waktunya, tak ada yang tahu persis kapan, mungkin hari ini, hari esok atau nanti seperti penggalan lirik lagu milik Anneth Delliecia, dara kelahiran 2005.
Rundungan pilu tentu tak luput dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Kita yang juga pernah kehilangan masih mengingat dengan detail luka itu. Kematian menyisakan cerita-cerita yang belum sempat dicoret dari bucket list kita. Semakin banyak yang belum tergapai, rasanya akan semakin sakit. Kita semua harus memvalidasi perasaan orang-orang yang sedang kehilangan. Sakit, meninggalkan luka basah yang susah sembuh. Tetapi kita tak boleh menutup mata hanya karena rasa sakit itu, ada hal-hal baik yang harusnya dapat kita jajaki dari cerita tentang kematian.
Ingatlah bahwa semangat gotong royong telah mendarah daging pada bangsa Indonesia. Bahkan pada cerita tentang kematian sekalipun, hampir setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi yang berhubungan dengan kematian. Dimulai dari belasungkawa, upacara pemakaman, sampai pasca pemakaman ada saja tradisi yang menyertai. Tak perlu jauh-jauh melongok ke seberang pulau, Suku Sasak, sebagai suku dominan yang mendiami Pulau Lombok punya ceritanya sendiri.
Berbicara tentang kematian, melayat merupakan suatu hal wajib yang mengiringi peristiwa tersebut. Dalam Bahasa Sasak, melayat disebut “belangar” yang berarti mengunjungi keluarga orang yang telah meninggal dengan tujuan menghibur dan menguatkan hatinya. Agaknya tradisi ini ada hampir di seluruh Indonesia dengan ciri khasnya masing-masing. Hal tersebut menunjukkan kuatnya ikatan sosial yang terjalin di kehidupan masyarakat. Selain itu, masyarakat cenderung mempertahankan tradisi atau budaya mereka secara turun temurun seiring berkembangnya zaman. Sekalipun mahluk yang bernama manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya, ungkap Hari Poerwanto dalam bukunya yang berjudul Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi.
Nilai empati mulai ditumbuhkan dari pengumuman meninggalnya seseorang melalui loud speaker masjid atau musholla daerah tersebut. Biasanya berita kematian mengumumkan nama, umur, asal, dan waktu penguburan jenazah. Pengumuman tersebut sekaligus merupakan ajakan atau undangan kepada masyarakat setempat untuk melakukan tradisi belangar ke rumah duka. Secara tidak langsung, orang yang mengumumkan kematian menggugah perasaan empati masyarakat yang akhirnya dimanifestasikan dengan cara belangar. Dukungan materi dan non materi yang diberikan oleh masyarakat dapat menjadi penguat untuk keluarga yang ditinggalkan.
Umumnya para pelayat perempuan (yang didominasi ibu-ibu) membawa pelangar, yaitu suatu wadah atau baskom yang berisi beras, gula, dan bahan lainnya untuk diberikan kepada keluarga yang ditinggal mati. Tak hanya itu, di beberapa daerah pedalaman, masyarakat bahkan membawa isi kebun pada saat belangar, seperti kelapa, nangka muda, pepaya mentah, ares (batang pisang muda yang bisa dimasak), pisang, jajanan, kopi, minyak goreng, dan lainnya. Cara membawa pelangar pun terbilang unik, walaupun ada yang hanya menenteng plastik kresek, tetapi sebagian besar kaum perempuan yang melayat dan rumahnya cukup dekat dengan rumah duka akan berson atau menaruh baskom berisi pelangar di atas kepala sambil berjalan beriringan. Sembari berjalan, biasanya mereka akan bercengkerama atau berbagi cerita perihal sebab kematian orang yang akan dilayati. Dari hal tersebut tersirat nilai perdamaian sederhana yang dipelopori oleh kaum perempuan.
Uniknya lagi, pelangar yang dibawa tersebut akan diterima oleh perwakilan keluarga yang juga perempuan. Biasanya mereka yang sudah sepuhlah yang bertugas dalam hal ini. Mereka duduk di dekat karung atau wadah besar yang digunakan untuk mengumpulkan berbagai jenis pelangar lalu bersilaturrahim dan saling menyapa dengan para pelayat. Sedangkan pelayat lelaki bergotong royong menyiapkan keranda dan membuat tetaring (atap dari bambu yang ditutup terpal) atau merakit terop. Para pelayat pun tak lupa berbelasungkawa pada keluarga yang ditinggalkan sembari memberi pelukan hangat penuh simpati dan berdoa. Sabar dan ikhlas selalu menjadi ucapan langganan para pelayat untuk memberi dukungan pada keluarga yang ditinggalkan.
Pelangar yang didapatkan akan diolah menjadi jamuan untuk rangkaian acara dalam upacara kematian. Sebagiannya lagi akan dijual untuk menunjang kebutuhan yang lain. Rangkaian acara setelah penguburan jenazah atau betukaq adalah zikir selama sembilan malam. Biasanya ada tiga malam utama yang jamuannya dispesialkan, yaitu malem nelung (malam ketiga), malem mituq (malam ketujuh), dan jelo nyiwaq (hari kesembilan yang biasanya dilaksanakan begawe nyiwaq atau kenduri kematian). Selain Sembilan hari utama tersebut, sebenarnya ada beberapa hari lain yang merupakan rangkaian dari prosesi upacara kematian tersebut, di antaranya, metang dase (hari keempat puluh), pelayaran (dilakukan setiap minggu hingga hari keempat puluh), nyatus (hari keseratus), dan terakhir nyiu (hari keseribu).
Zikiran biasanya dilakukan oleh kaum lelaki dan dimulai pada malam hari pertama meninggalnya seseorang. Di beberapa daerah, pada tiga malam utama tersebut biasanya jamuannya akan disajikan menggunakan dulang (nampan berisi makanan yang piringnya disusun secara bertingkat dan dinikmati beberapa orang). Kemudian dimakan bersama dengan cara duduk melingkar yang dalam Bahasa Sasak disebut begibung. Tanpa memandang kasta, rupa, status dan hal lainnya, mereka duduk sejajar dan mendapat hidangan yang sama. Nilai kebersamaan dan perdamaian kali ini diciptakan oleh kaum lelaki pada hal sesederhana itu. Secara tidak langsung keterikatan secara emosional semakin kuat dan akan mengubur bibit-bibit konflik. Begibung juga memberi ruang untuk rasa syukur dan saling menghargai.
Nilai lain yang terdapat dalam tradisi belangar adalah keikhlasan dan ketulusan. Selama rangkaian acara berlangsung, rumah duka biasanya selalu ramai. Tidak memanfaatkan kemudahan penyedia jasa catering, masyarakat justru saling mengulurkan tangan. Dimulai dari kaum wanita yang gotong royong memasak hidangan hingga kaum lelaki yang mempersiapkan lokasi acara dan membagikan hidangan untuk para tamu atau ngancang. Ketulusan untuk saling membantu tersebut didasari oleh common ground bahwa mereka memiliki tempat tinggal, budaya, perasaan, kebutuhan dan kepentingan yang sama. Kembali lagi dengan kenyataan bahwa kematian merupakan hal yang pasti, maka setiap orang akan merasakan kehilangan dan butuh uluran tangan orang lain ketika mengalami musibah tersebut. Tentu hal tersebut menjadi alasan utama mereka saling membantu karena mengetahui hal tersebut pasti terjadi cepat atau lambat.
Tradisi belangar harus terus dijaga kelestariannya agar harmoni di tengah-tengah masyarakat selalu terjaga. Pada tradisi ini, siapa pun yang meninggal pasti akan didatangi oleh para pelayat, tak perduli apa latar belakangnya. Wujud nyata manusia masih menjunjung tinggi nilai kemanusiaan masih tergambar jelas pada tradisi ini walaupun kemajuan teknologi sudah sangat pesat. Naluri untuk selalu perduli pada sesama dan solidaritas tidak boleh tergerus oleh zaman. Apalagi di tengah masa pandemi saat ini, beberapa hal membatasi ruang gerak kita termasuk melakukan tradisi belangar apabila orang tersebut terkonfirmasi positif covid-19. Namun hal tersebut tentu tak menjadi masalah besar yang membuat kita berhenti menebar kebaikan. Ada banyak cara untuk menebarkan hal-hal baik, jangan sampai yang harusnya dilestarikan cukup sampai di sini. Terutama kita generasi muda sebagai ujung tombak kelestarian bangsa Indonesia.

Ilustrasi : Cholenesia

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *